DO dari Kampus, Alakh Pandey Jadi Miliarder Diusia 33 Tahun Berkat Perusahaan Pendidikan
Perusahaan berbasis di Noida ini menawarkan kursus sekolah serta persiapan ujian masuk perguruan tinggi teknik dan kedokteran.
Perusahaan pendidikan online atau daring, Physicswallah mencatat debut gemilang di bursa pada Selasa dan langsung melahirkan dua miliarder baru di India. Sang pendiri sekaligus CEO, Alakh Pandey, kini menjadi miliarder termuda di negara itu pada usia 33 tahun. Rekan bisnisnya, Prateek Boob (37), yang duduk di jajaran direksi, juga resmi masuk klub orang terkaya tersebut.
Perusahaan berbasis di Noida ini menawarkan kursus sekolah serta persiapan ujian masuk perguruan tinggi teknik dan kedokteran. Physicswallah mencatatkan saham perdana dengan premi 42 persen dari harga IPO. Selain kelas daring, mereka juga memiliki pusat belajar offline, dan mengklaim telah menjangkau 98 persen India dengan hampir 10 juta pengguna berbayar.
Dari IPO, perusahaan mengumpulkan USD 390 juta yang akan digunakan untuk membuka lebih banyak pusat belajar, memperkuat teknologi dan pemasaran, serta mendanai sejumlah akuisisi.
Hingga Juni lalu, Physicswallah memiliki lebih dari 200 kanal YouTube aktif dengan total hampir 100 juta pelanggan. Dalam beberapa tahun terakhir, perusahaan ini juga agresif mengakuisisi berbagai startup pendidikan. Pada 2022, mereka membeli Knowledge Planet yang berbasis di UEA untuk menyasar diaspora India.
Setahun kemudian, mereka menggelontorkan 5 miliar rupee (USD 60 juta) untuk mengambil 50 persen saham di platform belajar Xylem Learning asal Kerala. Tahun ini, mereka juga membeli 40 persen saham perusahaan persiapan ujian komisi layanan publik India.
Pendapatan Physicswallah meroket dari 7,4 miliar rupee di tahun fiskal 2023 menjadi hampir 29 miliar rupee di 2025. Namun, kerugiannya ikut membengkak dari kurang dari 1 miliar rupee menjadi 2,4 miliar rupee.
Meski demikian, para analis tidak terlalu khawatir. Menurut pengusaha serial K. Ganesh, pendiri TutorVista, model bisnis Physicswallah yang dibuat miliarder tersebut justru unik dan sehat. “Mereka mengutamakan pedagogi dulu, distribusi kemudian, dan modal di urutan berikutnya, kebalikan dari pola umum startup yang fokus bakar uang untuk pemasaran sebelum urusan kualitas belajar," katanya.
Physicswallah Lahir Tahun 2020
Physicswallah lahir pada 2020 sebagai layanan bimbingan untuk menembus ujian masuk teknik dan kedokteran. Pandey, yang sebelumnya mengelola kanal YouTube “Physics Wallah–Alakh Pandey”, bergabung dengan Boob, pemilik aplikasi e-learning PenPencil. Kesamaan visi untuk menghadirkan pendidikan terjangkau membuat keduanya sepakat menggabungkan usaha.
Dua putaran pendanaan mereka, tahun 2022 sebesar 9 miliar rupee dan 2024 sebesar 18,6 miliar rupee menarik investor besar AS seperti WestBridge Capital dan Lightspeed Venture Partners. Pandey, yang dulu DO dari kampus teknik pada tahun ketiga, memulai kanal YouTube-nya pada 2014 dengan memberikan kelas fisika gratis. Kini kanal itu telah mengumpulkan hampir 14 juta pelanggan.
Berasal dari kota kecil Prayagraj di negara bagian Uttar Pradesh, Pandey sudah mulai mengajar sejak kelas 8, memberi les privat untuk siswa kelas empat dan lima. Ia terkenal memakai meme, lelucon, sampai tato sebagai media mengajar, dan membangun basis penggemar setia.
Miliarder Boob, yang memimpin inisiatif strategis dan inovasi perusahaan, merupakan lulusan teknik mesin B.Tech dari lembaga bergengsi IIT–BHU.
Popularitas Tak Bisa Jadi Jaminan
Namun, popularitas saja bukan jaminan sukses, seperti yang ditunjukkan oleh kisah mantan miliarder edtech Byju Raveendran. Pendiri aplikasi Byju’s itu sempat melambung berkat metode ajarnya yang unik, tetapi kemudian runtuh setelah perusahaannya tumbuh terlalu cepat dan kini tengah berada dalam proses penjualan aset yang diawasi pengadilan.
Sektor pendidikan India memang punya banyak contoh perusahaan edtech yang dulu digembar-gemborkan, namun akhirnya tumbang seperti Educomp, Everonn, Edserv Softsystems, dan Core Education & Technologies. IPO Everonn pada 2007 bahkan sempat oversubscribed 145 kali, tetapi semuanya kolaps sekitar satu dekade lalu karena menanggung utang ekspansi yang berlebihan.
Gelombang kedua edtech seperti Byju’s dan Unacademy sempat mencapai valuasi fantastis. Byju’s mencapai puncak USD 22 miliarpada 2022 sebelum terpuruk, sementara Unacademy kini dikabarkan hanya bernilai sepersepuluh dari valuasi puncaknya USD 3,4 miliar pada 2021.
Meski begitu, beberapa analis percaya Physicswallah berpeluang memenuhi ekspektasi. "Pertumbuhan Physicswallah dan strategi pendirinya yang sangat terukur membuat saya yakin valuasinya realistis, bukan euforia sesaat,” kata Ganesh Natarajan, ketua perusahaan konsultasi digital 5F World.