Kisah Sukses Guo Wenjing Nekat Keluar dari Harvard dan Dirikan Startup, Perusahaannya Kini Bernilai Rp7,6 Triliun

Guo dipandang sebagai panutan di antara para orang tua China karena riwayat hidupnya yang sempurna.

Yunita Amalia
Oleh Yunita Amalia - Reporter
Kisah Sukses Guo Wenjing Nekat Keluar dari Harvard dan Dirikan Startup, Perusahaannya Kini Bernilai Rp7,6 Triliun
Kisah Sukses Guo Wenjing Nekat Keluar dari Harvard dan Dirikan Startup, Perusahaannya Kini Bernilai Rp7,6 Triliun (Merdeka.com)

Guo dipandang sebagai panutan di antara para orang tua China karena riwayat hidupnya yang sempurna.

Baru-baru ini, warga China tengah ramai membahas Guo Wenjing, pendiri start up kecerdasan buatan, Pika Labs.

Perempuan keturunan China-Amerika ini baru saja mendapatkan suntikan modal sebesar USD135 juta atau setara Rp2 triliun.

Dengan demikian, perusahaan yang dia rintis saat ini bernilai USD470 juta atau setara Rp7,6 triliun.

Melansir South China Morning Post, Guo adalah seorang China-Amerika yang berasal dari Hangzhou, ibu kota provinsi Zhejiang China timur.

Guo dipandang sebagai panutan di antara para orang tua China karena riwayat hidupnya yang sempurna.

Guo memenangkan medali perak dalam Olimpiade Internasional Informatika (IOI) pada tahun 2015 dan kemudian diterima di Universitas Harvard, tempat ia memperoleh gelar sarjana matematika dan kemudian gelar master dalam ilmu komputer.


Selama masa kuliahnya di universitas Ivy League yang bergengsi, ia juga magang di perusahaan teknologi terkemuka seperti Microsoft dan Google.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Kemudian, Guo melanjutkan pendidikannya dengan meraih gelar PhD dalam ilmu komputer di Universitas Stanford, bekerja di bidang persimpangan antara pemrosesan bahasa alami dan grafik.

Saat merenungkan pilihannya sendiri, Guo berpikir memiliki bakat menulis saja tidak cukup keren.


"Saya pandai menulis dan memenangkan banyak penghargaan, tetapi saya tidak pandai matematika. Saya pikir menjadi pandai menulis tidak cukup keren, dan karena pemrograman dan matematika adalah bidang yang didominasi laki-laki, menjadi ahli matematika terasa lebih menantang," ujar Guo.

"Baik itu Harvard, MIT, atau Stanford, itu tidak penting. Yang penting adalah pertumbuhan pribadi Anda," imbuhnya.


Ibu Guo adalah lulusan MIT, dan ayahnya, Guo Huaqiang, adalah mantan ketua perusahaan layanan TI Sunyard Technology yang berpusat di Hangzhou.

Ide mendirikan start up bernama Pika berasal dari pengalamannya di “AI Film Festival” 2022 yang diselenggarakan di New York City, di mana Guo dan beberapa teman sekelasnya yang meraih gelar doktor ilmu komputer dari Stanford turut berpartisipasi namun gagal menang.


Rasa frustrasi mereka terhadap alat video yang ada membuat mereka mengembangkan alat pembangkit video AI yang unggul.

Pada bulan April tahun lalu, Guo memutuskan untuk keluar dari Stanford dan, bersama dengan Chenlin Meng, sesama mahasiswa PhD Stanford, mendirikan Pika, dengan fokus pada pengembangan generator video AI yang mudah digunakan.

"Jika Anda membandingkan video yang dihasilkan AI dari tahun lalu dengan video yang dihasilkan Maret ini dan video dari satu atau dua bulan terakhir, Anda akan melihat bahwa model pembuatan video berkembang sangat cepat," kata Guo dalam wawancara dengan media China Overseas Unicorn, merinci alasan utama mengapa ia memutuskan untuk meninggalkan sekolah.


Sejak peluncurannya, Pika telah berkembang pesat dan telah mengumpulkan USD135 juta dengan valuasi pasar sebesar USD470 juta.

Patut dicatat, peluncuran versi Pika 1.0 tak hanya melambungkan Guo ke puncak popularitas bisnis, tetapi juga menyebabkan harga saham Sunyard Technology naik lebih dari 20 persen dalam satu minggu, sehingga mendapat julukan “saham konsep anak”.


Banyak orang yang mendengar kisah Guo khususnya tertarik pada narasi Silicon Valley tentang pendiri inovatif yang meluncurkan perusahaan rintisan yang sukses.

Ada juga yang merasa capaian Guo didasari dengan keunggulan materi yang dimiliki, dengan keluarga berpendidikan elit.


"Sebagai putri bos Sunyard, titik awalnya berbeda. Jika dia memulai dari awal tanpa latar belakang apa pun, maka dia akan menjadi seorang jenius sejati. Kita mengakui keunggulannya, tetapi kita tidak boleh terlalu memujinya," tulis netizen.

Rekomendasi