Direksi dan Manajemen Borong Saham BBCA, Ada Apa?
Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri.
Di pasar saham, ada satu pedoman investasi yang jarang meleset ketika para nahkoda kapal memborong tiket, itu tandanya kapal siap berlayar cepat. Saat ini, sedang berlangsung momentum langka di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Di tengah fluktuasi pasar awal tahun 2026, alih-alih bersikap defensif, jajaran petinggi BCA justru agresif menyerok saham mereka sendiri.
Ini bukan sekadar transaksi biasa. Ini adalah eksekusi strategi buy on weakness, membeli aset premium saat harganya sedang terdiskon. Aksi borong ini menjadi bukti kuat bahwa pihak yang paling memahami kondisi 'dapur' perusahaan memiliki keyakinan tinggi terhadap prospek jangka panjang BCA.
Pengamat pasar modal Rendy Yefta mangatakan saat ini, saham BBCA hanya diperdagangkan di kisaran Price to Earnings Ratio (PER) sekitar 15 kali.
"Artinya, investor hanya membayar 15 tahun laba untuk memiliki bank terbesar, paling efisien, dan paling konsisten mencetak keuntungan di Indonesia," ucapnya seperti ditulis Antara.
Fakta di lapangan pada kuartal I-2026, direksi dan manajemen BBCA memborong saham dari kantong pribadinya. Hendra Lembong menambah amunisi secara masif dengan dana hingga Rp7,93 miliar. John Kosasih (Wakil Presiden Direktur) membeli saham BBCA senilai Rp4,37 miliar pada Maret 2026. Vera Eve Lim juga mengeluarkan dana segar Rp3,84 miliar untuk mempertebal kepemilikan. Kemudian, Santoso (Direktur): Mengunci posisi dengan total nilai transaksi Rp3,46 miliar pada Maret 2026. Frenkie Candra Kusuma (Managing Director): Mengakumulasi saham senilai Rp2,87 miliar sejak Maret 2025.
Lianawaty Suwono (Direktur): Memborong 300.000 saham senilai Rp2,1 miliar di akhir Januari 2026 justru saat pasar sedang bergejolak. Pada kuartal I 2026, angka miliaran rupiah ini dikeluarkan langsung dari kantong pribadi para direksi dan manajemen.
Valuasi BCA
Keyakinan manajemen ini sangat sejalan dengan realitas valuasi sahamnya saat ini. Namun ukuran yang lebih tepat untuk membandingkan saham bank bukan lagi PBV, melainkan PER (Price to Earnings Ratio), karena PER menunjukkan berapa lama investor “membayar” harga saham dari laba yang dihasilkan perusahaan.
Yang membuat situasinya terasa 'gila' adalah kemampuan mencetak laba antara kedua bank tersebut sangat berbeda. BCA sudah terbukti mampu menghasilkan laba puluhan triliun rupiah secara konsisten dan bertumbuh cepat.
Valuasi murah ini dikombinasikan dengan sinyal akumulasi “orang dalam” hanya bermuara pada satu kesimpulan yakni saham BBCA sedang memasang kuda-kuda untuk rebound kencang.
Mengambil BBCA di harga sekarang ibarat membeli properti premium di lokasi terbaik saat sedang dijual diskon. Jika BBCA saja kembali dihargai sedikit lebih tinggi, misalnya per 18–20 kali seperti rata-rata historisnya, maka harga sahamnya berpotensi naik signifikan dari level sekarang.
Target Tembus Rp10.000
Target menembus Rp10.000 per lembar dalam beberapa bulan menjadi skenario yang sangat realistis. Jangan lupa, rekor All-Time High saham ini pernah nyaris menyentuh Rp11.000 per lembar.
Artinya, ruang kenaikan masih terbuka lebar. Risiko relatif kecil karena fundamentalnya sangat kuat, sementara potensi keuntungannya besar karena valuasinya masih terlalu murah.
Valuasi PER juga menunjukkan bahwa BBCA jauh lebih murah dibanding bank digital seperti ARTO. Keputusan sekarang ada di tangan investor yaitu membeli ketika pasar masih ragu, atau baru ikut masuk ketika harga BBCA sudah kembali terbang di atas Rp10.000 per lembar.