Bulog Siapkan Stok Beras Bencana 50 Ton di Bandara dan Pelabuhan Sumatra
Perum Bulog memastikan ketersediaan Stok Beras Bulog Bencana hingga 50 ton di bandara dan pelabuhan wilayah Sumatra guna mempercepat respons bantuan pangan saat darurat.
Perum Bulog mengambil langkah strategis untuk mempercepat penyaluran bantuan pangan darurat di wilayah Sumatra yang rentan bencana. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memerintahkan pimpinan wilayah dan cabang Bulog untuk menyiapkan stok beras darurat hingga 50 ton di setiap bandara dan pelabuhan titik bencana. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya antisipasi kebutuhan mendadak pengiriman bantuan pangan ke daerah terdampak banjir dan tanah longsor yang kerap melanda wilayah tersebut.
Instruksi ini dikeluarkan dalam konferensi pers bertajuk Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategis 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026). Rizal menekankan pentingnya cadangan beras ini untuk memastikan bantuan dapat segera disalurkan, terutama jika akses darat terganggu. Penempatan stok siaga ini bertujuan untuk mengantisipasi gangguan akses darat akibat banjir di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, sehingga distribusi melalui udara dan laut tetap berjalan cepat dan efektif.
Bulog menginstruksikan setiap bandara dan pelabuhan di wilayah terdampak memiliki cadangan harian minimal 20 ton dan maksimal 50 ton. Hal ini agar beras dapat segera diterbangkan atau dikirim melalui laut saat kondisi darurat terjadi di wilayah terisolasi. Selain itu, gudang Bulog juga dipastikan beroperasi siaga 24 jam untuk mendukung percepatan distribusi bantuan beras kepada korban bencana di berbagai daerah Sumatra.
Strategi Bulog Antisipasi Bencana di Sumatra
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan komitmen Bulog dalam menghadapi potensi bencana alam di Sumatra. Perintah penyiapan stok beras darurat ini merupakan respons cepat terhadap kondisi geografis dan iklim di Sumatra yang sering dilanda banjir dan tanah longsor. Kebijakan ini memastikan bahwa bantuan pangan tidak terhambat oleh kerusakan infrastruktur darat yang sering terjadi saat bencana.
Setiap pimpinan wilayah Bulog di daerah terdampak diinstruksikan untuk menyetok minimal 20 ton hingga 50 ton beras di bandara dan pelabuhan. Rizal menjelaskan, stok ini harus tersedia setiap hari agar siap diterbangkan atau dikirim kapan saja dibutuhkan. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pasokan beras dapat menjangkau daerah-daerah yang terisolasi dengan cepat.
Fokus utama kebijakan ini adalah wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, yang merupakan daerah rawan bencana banjir dan longsor. Dengan menempatkan stok langsung di titik-titik transportasi vital, Bulog berupaya memangkas waktu distribusi yang sebelumnya mungkin terhambat oleh jarak gudang penyimpanan. Ini adalah bagian dari strategi percepatan penyaluran bantuan di Pulau Sumatra.
Kesiapan Distribusi Pangan Melalui Jalur Udara dan Laut
Gangguan akses darat akibat bencana kerap menjadi kendala utama dalam penyaluran bantuan pangan. Oleh karena itu, Bulog mengandalkan jalur udara dan laut sebagai solusi alternatif yang cepat dan efektif. Penempatan stok beras di bandara dan pelabuhan memungkinkan pengiriman bantuan segera dilakukan tanpa menunggu mobilisasi dari gudang yang mungkin berjarak jauh dari lokasi bencana.
Selain bandara dan pelabuhan, Bulog juga memastikan seluruh gudang di wilayah terdampak bencana beroperasi 24 jam. Kesiapan operasional gudang ini sangat penting untuk mendukung percepatan distribusi bantuan beras kepada korban. Rizal menekankan bahwa jika ada kebutuhan mendesak, bantuan dapat langsung didorong dan didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bulog juga berkolaborasi dengan berbagai instansi, termasuk TNI dan BNPB, untuk memastikan kelancaran distribusi. Kolaborasi ini memungkinkan penggunaan helikopter atau pesawat Hercules dari TNI AU, serta kapal dari TNI AL, untuk menjangkau daerah-daerah yang sulit diakses melalui jalur darat. Hal ini menunjukkan keseriusan Bulog dalam memastikan bantuan pangan tepat waktu dan tepat sasaran.
Komitmen Berkelanjutan dan Evaluasi Kebijakan
Kebijakan stok siaga beras di bandara dan pelabuhan ini akan terus berlangsung hingga seluruh wilayah terdampak bencana pulih dan aktivitas masyarakat kembali normal. Rizal menegaskan bahwa Bulog tidak akan menghentikan kebijakan ini sampai kondisi di lapangan benar-benar stabil. Hal ini menunjukkan komitmen jangka panjang Bulog dalam mendukung ketahanan pangan di tengah situasi darurat.
Bulog juga berkomitmen untuk melakukan evaluasi berkelanjutan terhadap kebijakan stok siaga ini sesuai dengan dinamika lapangan. Evaluasi ini penting untuk memastikan bahwa bantuan pangan yang disalurkan selalu tepat waktu dan tepat sasaran bagi masyarakat terdampak bencana. Fleksibilitas dalam kebijakan sangat diperlukan mengingat sifat bencana yang tidak dapat diprediksi.
Hingga Jumat (2/1/2026), Bulog mencatat total penyaluran bantuan beras bencana ke Sumatra telah mencapai 14.227 ton. Angka ini mencakup 8.676 ton untuk Aceh, 4.482 ton untuk Sumatera Utara, dan 1.069 ton untuk Sumatera Barat. Ketersediaan stok beras di gudang Bulog di daerah terdampak juga diklaim aman, dengan 75.000 ton di Aceh, 25.781 ton di Sumatera Utara, dan 8.527 ton di Sumatera Barat.
Sumber: AntaraNews