Bulog Salurkan 13.000 Ton Beras SPHP di Tanah Papua, Jaga Kestabilan Harga Pangan
Perum Bulog Kanwil Papua telah sukses menyalurkan 13.000 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di enam provinsi se-Tanah Papua, memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga bagi masyarakat.
Perum Bulog Kanwil Papua telah berhasil menyalurkan sebanyak 13.000 ton beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di seluruh wilayah tugasnya. Penyaluran ini mencakup enam provinsi di Tanah Papua, sebagai upaya menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah masyarakat. Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi dengan harga yang terjangkau.
Kepala Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari, menyatakan bahwa penyaluran beras SPHP ini merupakan bagian dari komitmen Bulog untuk mendukung ketahanan pangan regional. Program ini juga melibatkan sinergi dengan TNI-Polri dalam distribusinya. Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penyaluran beras ke berbagai pelosok daerah yang membutuhkan.
Langkah strategis ini diambil untuk mengantisipasi gejolak harga dan pasokan beras di pasaran, terutama menjelang momen-momen penting. Dengan adanya intervensi dari Bulog, diharapkan harga beras di tingkat konsumen dapat tetap stabil dan tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Masyarakat di enam provinsi Tanah Papua kini memiliki akses lebih mudah terhadap beras berkualitas medium dengan harga yang terkontrol.
Cakupan Penyaluran dan Kualitas Beras SPHP
Penyaluran beras SPHP oleh Bulog Kanwil Papua mencakup wilayah Provinsi Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, Papua Tengah, Papua Barat, dan Papua Barat Daya. Total 13.000 ton beras telah didistribusikan secara merata di keenam provinsi tersebut. Hal ini menunjukkan jangkauan luas dari program stabilisasi harga pangan yang dijalankan oleh Bulog.
Selain Bulog, TNI-Polri juga turut berperan aktif dalam menyalurkan beras SPHP ini kepada masyarakat. Polri sendiri telah mendistribusikan sekitar 800 ton beras SPHP melalui Gerakan Pangan Murah (GPM). Kehadiran berbagai pihak dalam penyaluran ini memperkuat upaya pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan.
Beras SPHP yang disalurkan merupakan beras dengan kualitas medium, namun tetap memenuhi standar konsumsi masyarakat. Penjualan beras ini dilakukan di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah. Harga jual beras SPHP adalah Rp 67.500 per lima kilogram, atau setara dengan Rp 13.500 per kilogram, menjadikannya sangat terjangkau.
Penetapan harga di bawah HET ini bertujuan agar beras SPHP dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kualitas medium yang ditawarkan juga memastikan bahwa masyarakat mendapatkan beras yang layak konsumsi. Program ini menjadi solusi efektif untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga pangan.
Mekanisme Pengawasan Harga dan Komitmen Bulog
Pemerintah melalui Bulog sangat menekankan pentingnya kepatuhan terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan. Masyarakat diimbau untuk turut serta memantau harga beras SPHP di pasaran. Apabila ditemukan adanya penjualan beras SPHP di atas HET, masyarakat diharapkan segera melaporkannya.
Laporan mengenai pelanggaran harga dapat disampaikan kepada pihak kepolisian atau instansi terkait. Mekanisme pelaporan ini bertujuan untuk menjaga transparansi dan memastikan bahwa program stabilisasi harga pangan berjalan sesuai peruntukannya. Pengawasan ketat diperlukan agar tidak ada pihak yang mengambil keuntungan di luar ketentuan.
Kepala Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari, menegaskan komitmen Bulog untuk terus menyediakan beras SPHP. "Bulog sendiri siap menyediakan beras SPHP berapapun yang dibutuhkan," kata Ahmad Mustari. Pernyataan ini menunjukkan kesiapan Bulog dalam memenuhi permintaan pasar dan menjaga pasokan beras tetap aman.
Kesiapan Bulog untuk menyediakan beras SPHP dalam jumlah tak terbatas ini menjadi jaminan bagi masyarakat. Hal ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di seluruh wilayah Tanah Papua. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir akan kelangkaan atau kenaikan harga beras yang signifikan.
Sumber: AntaraNews