Bulog Jamin Harga Beras Stabil di Tengah Isu Kelangkaan Biji Plastik
Direktur Utama Perum Bulog memastikan harga beras Bulog tidak akan naik, menjaga daya beli masyarakat di tengah isu kelangkaan biji plastik yang berdampak pada biaya kemasan. Simak strategi Bulog!
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan tidak akan ada kenaikan harga beras di pasaran. Kepastian ini disampaikan di tengah isu kelangkaan biji plastik yang berpotensi memengaruhi biaya kemasan produk pangan.
Kebijakan stabilisasi harga ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden menekankan pentingnya menjaga harga pangan, termasuk beras, agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan tidak terbebani.
Pernyataan Rizal disampaikan usai Rapat Percepatan Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah Setara Beras di Kantor Bulog Jakarta, Senin. Ini menunjukkan komitmen Bulog dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.
Ketersediaan Stok Beras Nasional dan Jaminan Harga Stabil
Bulog memastikan kondisi stok beras nasional saat ini sangat kuat, mencapai 4,72 juta ton. Angka ini menjadi faktor utama yang menjamin harga beras tetap stabil di tengah berbagai tantangan produksi dan distribusi.
Cadangan beras pemerintah (CBP) berada dalam kondisi aman dan melimpah, sehingga tidak ada tekanan signifikan terhadap harga beras di tingkat konsumen. Hal ini memberikan ketenangan bagi masyarakat terkait ketersediaan pangan pokok.
Jaminan stabilitas harga ini sejalan dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah. HET beras medium adalah Rp13.500 per kilogram (kg), sementara HET beras premium mencapai Rp14.900 per kg.
Untuk beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), harganya disesuaikan dengan zona. Zona 1 (Jawa, Lampung, Sumatra Selatan, Bali, NTB, Sulawesi) Rp12.500/kg, Zona 2 (Sumatra selain Lampung dan Sumsel, NTT, Kalimantan) Rp13.100/kg, dan Zona 3 (Maluku, Papua) Rp13.500/kg.
Tantangan Kelangkaan Biji Plastik dan Strategi Bulog
Meskipun harga beras dijamin stabil, Direktur Utama Bulog mengakui bahwa biaya kemasan menjadi tantangan tersendiri. Kelangkaan biji plastik saat ini menjadi persoalan bersama, terutama bagi produk pangan yang membutuhkan kemasan plastik dalam jumlah besar.
Kondisi ini mendorong Bulog untuk melakukan penyesuaian kebijakan internal guna menghadapi dinamika harga pasar yang terus berkembang. Bulog berupaya mencari solusi agar efisiensi distribusi beras kepada masyarakat tetap terjaga.
Rapat direksi telah digelar untuk merumuskan langkah strategis, termasuk memberikan ruang penyesuaian biaya kemasan. Penyesuaian ini dilakukan tanpa mengganggu stabilitas operasional Bulog secara keseluruhan.
Bulog berkomitmen untuk menekan biaya seminimal mungkin agar tidak berdampak signifikan terhadap keseluruhan biaya distribusi. Kualitas kemasan dan distribusi pangan nasional juga tetap menjadi prioritas utama Bulog.
Koordinasi Lintas Sektor untuk Dukungan Kemasan Pangan
Selain penyesuaian internal, Bulog juga aktif berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian. Koordinasi ini bertujuan untuk memperoleh dukungan berupa keringanan harga bahan baku kemasan.
Langkah ini sangat penting mengingat sebagian besar beras yang dikemas merupakan bagian dari program bantuan pangan. Program ini menyasar 33,3 juta keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.
Dukungan dari Kementerian Perindustrian diharapkan dapat membantu Bulog mendapatkan harga terbaik untuk bahan baku kemasan. Tujuannya adalah agar harga tetap rendah tanpa mengurangi kualitas kemasan yang digunakan.
Bulog optimistis bahwa dengan koordinasi yang baik dan pengelolaan biaya yang efisien, stabilitas harga beras akan terus terjaga. Hal ini sekaligus memastikan kualitas kemasan dan kelancaran distribusi pangan nasional.
Sumber: AntaraNews