Bos OJK duga penutupan toko ritel karena masalah internal perusahaan
Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, penutupan tersebut mungkin saja terjadi karena adanya masalah internal di dalam perusahaan bukan karena penurunan daya beli. Meski demikian, dengan semakin canggihnya teknologi maka masyarakat akan belanja dengan cara online.
Beberapa waktu terakhir, sejumlah toko ritel melakukan penutupan gerai. Hal itu disinyalir karena daya beli masyarakat mengalami penurunan.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan, penutupan tersebut mungkin saja terjadi karena adanya masalah internal di dalam perusahaan bukan karena penurunan daya beli.
"Jangan-jangan outlet tutup itu malah masalah internal dia secara spesifik, bukan masalah sistem," kata Wimboh di Kantornya, Jakarta, Jumat (10/11).
Dia melanjutkan, meski ada beberapa penutupan outlet namun dengan semakin canggihnya teknologi maka masyarakat akan belanja dengan cara online. Menurutnya, saat ini kredit ritel juga tampak bagus.
"Kalau ada outlet yang tutup sekarang belanja tidak mesti pakai outlet. Kita pakai internet bisa beli apa aja," ujarnya.
Bahkan, dengan sistem belanja online bisa memotong jalur distribusi. Karena jalur distribusi membuat margin cost menjadi tinggi sehingga harga menjadi tinggi di outlet.
"Ini dipotong distribusi dengan menggunakan teknologi. Dan bahkan bagus masyarakat dengan harga yang lebih murah," tandasnya.
Baca juga:
Menko Luhut minta Bank Dunia buat kajian kembangkan Danau Toba
Kuartal III 2017, BI catat surplus neraca pembayaran Indonesia USD 5,4 miliar
Bos OJK sebut pemanfaatkan teknologi digital oleh bank tetap butuhkan tenaga manusia
ICW temukan kerugian negara di sektor energi hingga Rp 133,6 T
Akhir 2017, Indonesia deklarasikan swasembada empat komoditas pangan
Presiden Korsel sepakat tingkatkan investasi di RI hingga dua kali lipat
BPJSTK gandeng BKPM sisir perusahaan belum patuhi kewajiban pemberian jaminan sosial