Bahlil Klaim Biodiesel B40 Tekan Ketergantungan Impor Solar pada 2025
Target tersebut didukung oleh rencana uji coba biodiesel B50 yang dijadwalkan selesai pada semester I 2026.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia melaporkan, implementasi kebijakan program campuran biodiesel 40 persen (B40), yang merupakan Bahan Bakar Nabati (BBN) campuran 40 persen minyak sawit dan 60 persen solar, secara efektif menekan ketergantungan impor Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar.
"Saya bersyukur bahwa impor solar kita di tahun 2024 itu masih kurang lebih sekitar 8,3 juta ton. Kemudian impor kita di tahun 2025 turun menjadi kurang lebih 5 juta ton," ujar Bahlil saat konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di kantornya, Jakarta, Kamis (8/1).
Menurut data Kementerian ESDM, pemanfaatan biodiesel domestik Januari-Desember 2025 tercatat mencapai 14,2 juta kilo Liter (kL), atau setara dengan 105,2 persen dari target Indikator Kinerja Utama (IKU) yang ditetapkan sebesar 13,5 juta kL di 2025.
"Keberhasilan ini berdampak langsung pada penurunan volume impor Solar yang sangat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," imbuh Bahlil.
Capaian ini, sebut Bahlil, menjadi fondasi kuat bagi pemerintah untuk mencanangkan target ambisius, yakni menghentikan sepenuhnya impor Solar pada 2026.
Target tersebut didukung oleh rencana uji coba biodiesel B50 yang dijadwalkan selesai pada semester I 2026. Untuk kemudian dicanangkan implementasinya pada semester kedua jika hasil evaluasi menunjukkan keberhasilan teknis dan ekonomi.
Hemat Devisa Rp130 Triliun
Dari sisi penghematan devisa, kebijakan biodiesel tahun 2025 berhasil menghemat sebesar Rp 130,21 triliun dan mengurangi emisi mencapai 38,88 juta ton CO2 ekuivalen. Serta meningkatkan nilai tambah Crude Palm Oil (CPO) menjadi biodiesel sebesar Rp 20,43 triliun.
Optimisme bebas impor Solar di tahun 2026, sambung Bahlil, akan didorong dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Balikpapan, Kalimantan Timur, yang akan meningkatkan kapasitas produksi Solar dalam negeri secara masif.
"Kalau B50 kita pakai dan RDMP kita di Kalimantan Timur diresmikan dalam waktu dekat, maka kita tidak akan melakukan impor solar lagi di tahun 2026," kata Bahlil.