AS-Iran Putuskan untuk Berdamai dan Hentikan Perang, Harga Minyak Dunia Langsung Turun Drastis
Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS turun 3,8 persen menjadi USD 81,65 per barel.
Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan perdamaian yang menyatakan menghentikan perang dan operasi militer di seluruh lini.
Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, Presiden Trump menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran telah selesai sepenuhnya. Dengan demikan, Selat Hormuz bakal kembali dibuka dan Amerika Serikat akan mengangkat blokade maritimnya.
Keputusan ini langsung berdampak pada penurunan harga minyak dunia yang cukup drastis. Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS turun 3,8 persen menjadi USD 81,65 per barel. Minyak mentah Brent juga turun drastis 3,4 persen ke level USD 84,35 per barel. Sebaliknya, harga emas naik 1,6 persen menjadi USD 4.307,30 per ons.
Selain itu, nilai tukar dolar AS melemah 0,35 persen terhadap euro dan turun 0,20 persen terhadap yen Jepang. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun relatif stabil di level 4,483 persen.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semua pihak. Saya secara penuh mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya dan sekaligus memerintahkan pencabutan segera blokade Angkatan Laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak kembali mengalir," tulis Trump.
Kata Pihak Iran
Tak lama kemudian, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menulis singkat di platform X. "Kesepakatan tercapai."
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga mengonfirmasi bahwa Amerika Serikat dan Iran akan menandatangani perjanjian tersebut secara resmi pada Jumat mendatang di Jenewa, Swiss.
Trump kemudian menambahkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali pada hari penandatanganan kesepakatan. Ia juga mengisyaratkan bahwa masih diperlukan waktu tambahan untuk membersihkan ranjau yang berada di jalur pelayaran strategis tersebut.
Pakistan, yang berperan sebagai mediator dalam perundingan kedua negara, menyatakan bahwa kesepakatan akan ditandatangani secara elektronik pada Minggu waktu setempat sebelum penandatanganan resmi dilakukan.
Pasar Global Sempat Alami Gangguan Selama Perang
Sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir Februari lalu, pasar global menghadapi gangguan pasokan energi yang disebut sebagai salah satu disrupsi minyak terbesar dalam sejarah setelah Teheran menutup akses Selat Hormuz.
Meski kekuatan militer konvensional Iran mengalami tekanan besar, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) disebut masih memiliki kemampuan yang cukup untuk menghambat aktivitas pelayaran internasional di kawasan tersebut.
Amerika Serikat sebelumnya belum berhasil sepenuhnya memulihkan kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Namun, Washington sempat membuka jalur alternatif yang memungkinkan sebagian ekspor minyak dari Teluk Persia tetap berlangsung.
Kesepakatan yang diumumkan pada Minggu diharapkan dapat mengembalikan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz ke tingkat normal. Sebelum konflik berlangsung, jalur tersebut menampung sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.
Isu Harus Diperhatikan 60 Hari ke Depan
Meski demikian, sejumlah isu penting masih akan dibahas dalam perundingan lanjutan selama 60 hari ke depan.
Iran, misalnya, menuntut pencabutan sanksi ekonomi serta akses terhadap aset-asetnya yang selama ini dibekukan. Selain itu, mekanisme penanganan program nuklir Iran juga masih belum dijelaskan secara rinci.
Dalam wawancara dengan Wall Street Journal, Trump mengatakan Iran telah menyetujui untuk tidak mengembangkan senjata nuklir. Namun, proses penanganan uranium yang telah diperkaya disebut akan dibahas pada tahap berikutnya.
"Kami akan menangani persoalan nuklir itu nanti ketika waktunya tepat. Kemungkinan dalam satu atau dua bulan ke depan. Tidak perlu terburu-buru," ujar Trump.