143 Guru Sekolah Rakyat Mengundurkan Diri
Mengenai alasan pengunduran diri tersebut, dia menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul memberikan penjelasan mengenai jumlah guru Sekolah Rakyat (SR) yang memilih untuk mengundurkan diri. Diketahui bahwa sebanyak 143 guru tidak memenuhi undangan meskipun mereka telah diterima.
"Yang mundur 143 (orang), tidak memenuhi panggilan ya. Sebenarnya mereka ini kan sudah memulai proses seleksi ya, mereka sudah diterima. Tapi ketika disampaikan undangan mereka tidak memenuhi panggilan," ungkap Gus Ipul di Sekolah Rakyat Menengah Atas 10, Jakarta, dikutip di Jakarta, Minggu (10/8).
Mengenai alasan pengunduran diri tersebut, dia menjelaskan beberapa faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut.
Faktor pertama adalah pertimbangan jarak antara lokasi mengajar dan tempat tinggal guru. Selain itu, beberapa guru juga telah mendapatkan penempatan di lokasi lain, mengingat status mereka sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
"Kita tahunya ya, secara umum pertama mungkin terlalu jauh dari domisilinya. Yang kedua, mungkin sudah mendapatkan penempatan di daerah, kan ia P3K ya, kita hormati," ujarnya.
"Jadi kami tidak mempersoalkan jika ada yang mengundurkan diri atau tidak memenuhi panggilan. Tentu kami sangat menghormati, kami persilahkan."
Walaupun terdapat ratusan guru Sekolah Rakyat yang mundur, Gus Ipul menegaskan bahwa sudah ada pengganti yang siap untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Misalnya, untuk mata pelajaran tertentu, pengajaran akan dilakukan oleh guru lain atau kepala sekolah.
"Tetapi saya dapat pastikan bahwa guru-guru pengganti telah siap untuk mengajar di sekolah rakyat," ujarnya.
"Sehingga sampai sekarang kalau memang ada kekurangan biasanya dibackup oleh kepala sekolah atau juga guru-guru yang lain," kata Gus Ipul.
Sekolah Rakyat Punya 100 Titik Lokasi
Diberitakan sebelumnya, pada pertengahan Agustus 2025, Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan bahwa 100 titik Sekolah Rakyat tahap pertama akan mulai beroperasi di berbagai daerah di Indonesia.
Dalam pertemuan dengan wartawan beberapa waktu lalu, Mensos Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa dari total 100 titik tersebut, 63 di antaranya telah beroperasi sejak Juli, sedangkan 37 titik lainnya akan mulai aktif pada awal dan pertengahan Agustus ini.
Tiga titik yang sudah beroperasi sejak 1 Agustus berada di Kabupaten Lebak, Kabupaten Ponorogo, dan Kota Pasuruan. Lima titik tambahan akan mulai beroperasi pada 5 Agustus, diikuti oleh 29 titik lainnya yang dijadwalkan aktif pada 15 Agustus.
Saifullah Yusuf juga menyampaikan bahwa keterlambatan beberapa titik disebabkan oleh proses renovasi bangunan sekolah dan asrama yang masih dalam tahap penyelesaian oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
"Namun guru, seluruh tenaga pendidik dan siswa sudah siap untuk proses belajar mengajar, meskipun memang ada guru dan siswa yang mengundurkan diri, sekarang semua sudah ada penggantinya," ungkapnya.
Dia juga tidak menampik bahwa sebanyak 115 siswa Sekolah Rakyat mengundurkan diri, yang merupakan 1,4 persen dari total jumlah siswa. Sebagian besar pengunduran diri ini terjadi di Sulawesi dan Jawa, dengan masing-masing 35 siswa. Meskipun demikian, persiapan untuk kegiatan belajar mengajar tetap berjalan lancar dengan adanya pengganti bagi mereka yang mundur.
Pelatihan untuk Para Guru
Menurut pernyataan dia, sekolah-sekolah yang telah beroperasi saat ini sudah menyelesaikan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Saat ini, para siswa telah memasuki tahap matrikulasi yang berlangsung selama tiga bulan ke depan.
Proses matrikulasi ini meliputi pemahaman dasar tentang berbagai mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan matematika. Tujuannya adalah untuk menyamakan pemahaman siswa sebelum mereka memasuki pembelajaran formal.
Selain itu, Kementerian Sosial (Kemensos) juga sedang merencanakan pembekalan yang akan disampaikan oleh Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh kepala sekolah dan guru Sekolah Rakyat. Pembekalan ini dijadwalkan berlangsung setelah peringatan Hari Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2025.
Ini merupakan langkah nyata dalam mendukung transformasi pendidikan, terutama bagi mereka yang masih berada di tingkat kesejahteraan terendah. "Insya Allah ya, setelah selesai 17 Agustus untuk pembekalan ini," ujar Mensos Saifullah Yusuf.