Kerap Dicueki Iran, Trump Kembali Tebar Ancaman Kali ini Bawa-Bawa 'Neraka'
Apa saja ancaman terbaru yang disampaikan Trump kepada Iran terkait dengan Selat Hormuz? Simak penjelasannya di bawah ini.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, memberikan peringatan keras ke Iran pada Minggu (5/4/2026). Ia menyatakan Iran harus membuka kembali Selat Hormuz sebelum Selasa (7/4) malam, jika tidak, AS akan menghancurkan pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut.
Ancaman ini merupakan eskalasi terbaru dalam konflik yang telah berlangsung selama lima minggu, terjadi setelah pasukan komando AS berhasil menyelamatkan awak kedua dari jet tempur F-15E yang jatuh. Operasi penyelamatan ini mengakhiri pencarian selama dua hari setelah pesawat tersebut jatuh di wilayah barat daya Iran.
Iran merilis gambar-gambar yang menunjukkan puing-puing beberapa pesawat, tetapi tidak membantah bahwa pasukan AS telah berhasil menyelamatkan perwira yang sebelumnya bersembunyi di daerah pegunungan.
Trump sebelumnya telah beberapa kali memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka Selat Hormuz.
"Selasa akan menjadi Hari Pembangkit Listrik, dan Hari Jembatan, semuanya menjadi satu, di Iran. Tidak akan ada yang seperti itu!!! Buka Selat itu sekarang juga, kalian orang-orang gila, atau kalian akan hidup dalam neraka -- LIHAT SAJA! Segala puji bagi Allah. Presiden DONALD J. TRUMP," ancam Trump dalam sebuah unggahan di platform media sosial Truth Social.
Di sisi lain, Trump juga mengklaim bahwa ada "peluang bagus" untuk mencapai kesepakatan dengan Iran. Ia menyampaikan hal ini kepada Fox News, menyatakan bahwa negosiasi sedang berlangsung.
"Jika mereka tidak membuat kesepakatan dan dengan cepat, saya mempertimbangkan untuk menghancurkan semuanya dan mengambil alih minyaknya," ujarnya.
Pada Minggu malam, ia kembali mengunggah pernyataan dengan tenggat waktu yang lebih spesifik:
"Selasa, pukul 20.00 waktu Timur AS!"
Kejahatan Perang
Sejak dimulainya konflik antara AS dan Israel melawan Iran pada 28 Februari, Trump terus menyatakan bahwa Iran berusaha untuk mencapai kesepakatan. Iran sendiri mengakui bahwa komunikasi telah dilakukan antara kedua pihak, termasuk melalui Pakistan, namun menegaskan bahwa mereka belum terlibat dalam pembicaraan damai.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, merespons ancaman terbaru dari Trump melalui media sosial.
"Langkah ceroboh Anda sedang menyeret AS ke dalam NERAKA hidup bagi setiap keluarga, dan seluruh kawasan kita akan terbakar karena Anda bersikeras mengikuti perintah Netanyahu," tulisnya.
"Jangan salah: Anda tidak akan mendapatkan apa pun melalui kejahatan perang. Satu-satunya solusi nyata adalah menghormati hak-hak rakyat Iran dan mengakhiri permainan berbahaya ini," tambahnya.
Unggahan Trump yang bernada kasar juga mendapat kritik dari Capitol Hill. Pemimpin Minoritas Senat dari Partai Demokrat, Chuck Schumer, berkomentar.
"Selamat Paskah, AS. Saat Anda pergi ke gereja dan merayakan bersama teman dan keluarga, Presiden AS sedang mengoceh seperti orang gila yang tidak terkendali di media sosial," tulisnya.
Ia juga menekankan bahwa ancaman yang dilontarkan Trump dapat mengarah pada kejahatan perang dan menjauhkan sekutu.
"Inilah dirinya, tetapi ini bukan siapa kita. Negara kita pantas mendapatkan yang jauh lebih baik," ujarnya.
Penghancuran jembatan tertinggi di kawasan tersebut pada 2 April, yang dianggap oleh Iran sebagai keajaiban rekayasa, menandai fase baru yang kelam dalam perang, di mana presiden AS mengancam akan membawa Iran kembali ke "zaman batu."
Seorang insinyur yang terlibat dalam pembangunan jembatan tersebut mengungkapkan rasa malunya dalam wawancara televisi Iran.
"Kami membangun semuanya dengan kemampuan, tenaga kerja, dan sumber daya kami sendiri, dan saya merasa sangat malu pada diri saya sendiri karena tidak dapat membuat masyarakat memanfaatkannya."
Dalam konteks perang, hukum internasional seharusnya melindungi warga sipil serta objek sipil seperti infrastruktur, yang diatur dalam Konvensi Jenewa. Oona A Hathaway, profesor hukum internasional di Universitas Yale, mengungkapkan bahwa presiden AS tidak memberikan penjelasan yang cukup untuk menjadikan objek sipil yang ia ancam sebagai target militer yang sah. Ia juga menyatakan bahwa negara-negara lain memiliki kewajiban untuk memastikan penghormatan terhadap Konvensi Jenewa.
"Jika serangan yang diancamkan ini dilakukan maka hal itu akan merupakan kejahatan perang. Membuat sengsara penduduk sipil untuk mendapatkan keuntungan dalam perundingan tidaklah sah," kata Hathaway menegaskan.
Fasilitas-fasilitas penting di Iran, termasuk pabrik baja, pabrik petrokimia, universitas, dan fasilitas medis, telah menjadi target serangan gabungan AS-Israel. Menurut laporan dari otoritas Iran, sekitar 81.000 lokasi sipil telah rusak, termasuk 61.000 rumah, 19.000 lokasi komersial, 275 pusat medis, dan hampir 500 sekolah.
Dari pihak Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengklaim bahwa Israel telah menghancurkan 70 persen produksi baja Iran, dengan alasan bahwa fasilitas tersebut digunakan untuk membuat rudal. Ia juga mengonfirmasi serangan terhadap pabrik petrokimia.
Iran memiliki kemampuan untuk mengendalikan Selat Hormuz dengan mengancam dan menyerang kapal yang melintas di jalur tersebut, yang menciptakan tekanan besar terhadap perdagangan minyak, sebuah titik kekuatan utama Teheran dalam konflik ini.