Deretan Kisah Kematian Dokter di Gaza yang Menyayat Hati dalam Serangan Israel, Ada yang Wafat Disiksa di Penjara
Serangan Israel telah merenggut nyawa sejumlah dokter di Gaza, menciptakan tragedi kemanusiaan yang mendalam dan keprihatinan mendalam.
Serangan Israel di Gaza telah mengakibatkan krisis kemanusiaan yang mengerikan. Salah satu dampaknya yang paling menyayat hati adalah hilangnya nyawa warga sipil dan para dokter yang berdedikasi.
Terbaru, dokter yang berperan sebagai Direktur Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Marwan al-Sultan. Dokter yang menjadi tonggak bagi kesehatan masyarakat di Gaza ini wafat bersama sang istri sekaligus anak-anak mereka belum lama ini.
Kematian para dokter ini bukan hanya kehilangan bagi keluarga dan komunitas mereka. Tetapi juga pukulan telak bagi sistem kesehatan Gaza yang sudah kewalahan. Keberadaan mereka sangat penting untuk memberikan perawatan medis bagi penduduk yang menderita akibat konflik yang berkepanjangan.
Berikut adalah beberapa kisah yang menyayat hati tentang dokter-dokter yang gugur di Gaza.
Keluarga Dr. Alaa al-Najjar
Pada 24 Mei 2025, serangan udara Israel menewaskan sembilan dari sepuluh anak Dr. Alaa al-Najjar. Suaminya, Dr. Hamdi Al Najjar, meninggal dunia pada 1 Juni 2025 akibat luka serius yang dideritanya dalam serangan yang sama.
Hanya putra bungsunya yang berusia 11 tahun yang selamat. Dr. Alaa sendiri adalah seorang dokter anak.
Kisah Dr. Alaa al-Najjar adalah tragedi yang tak terbayangkan. Kehilangan hampir seluruh keluarganya dalam satu serangan adalah pukulan yang sangat berat.
Sebagai seorang dokter anak, ia mendedikasikan hidupnya untuk merawat anak-anak lain. Namun ia tidak mampu melindungi anak-anaknya sendiri dari kekerasan.
Kisah Dr. Alaa al-Najjar menjadi simbol penderitaan mendalam yang dialami oleh warga sipil di Gaza. Ini menyoroti dampak mengerikan dari konflik terhadap keluarga dan anak-anak.
Kematian keluarganya adalah kehilangan yang tak tergantikan, dan menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian dan perlindungan warga sipil.
Dr. Adnan al-Barash
Dr. Adnan al-Barash, kepala ortopedi di Rumah Sakit al-Shifa di Gaza, meninggal di penjara Israel pada 19 April 2024 setelah ditahan lebih dari empat bulan. Kelompok advokasi Palestina mencurigai ia disiksa selama penahanan.
Kematiannya menimbulkan pertanyaan serius tentang perlakuan terhadap tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.
Kematian Dr. Adnan al-Barash adalah kehilangan besar bagi dunia medis Palestina. Sebagai seorang ahli ortopedi, ia telah membantu banyak pasien yang menderita cedera akibat konflik.
Kematiannya di penjara Israel menimbulkan kecurigaan akan pelanggaran hak asasi manusia dan perlakuan tidak manusiawi terhadap tahanan.
Kasus Dr. Adnan al-Barash menyoroti perlunya penyelidikan independen terhadap kematian tahanan di penjara-penjara Israel. Ini juga menekankan pentingnya menghormati hak asasi manusia dan memberikan perlakuan yang adil bagi semua tahanan, tanpa memandang latar belakang atau afiliasi politik mereka.
Dr. Mohammed Shabat
Dr. Mohammed Shabat, alumni Fakultas Kedokteran UIN Jakarta, gugur di Gaza pada November 2024 bersama keluarganya. Ia berperan sebagai penghubung penting dalam penyaluran bantuan medis di Gaza Utara.
Kematiannya merupakan kehilangan bagi almamaternya dan bagi upaya kemanusiaan di Gaza.
Dr. Mohammed Shabat adalah contoh nyata bagaimana pendidikan dapat menginspirasi seseorang untuk berdedikasi pada kemanusiaan. Sebagai seorang dokter, ia memilih untuk kembali ke Gaza dan membantu masyarakatnya yang menderita akibat konflik.
Perannya sebagai penghubung bantuan medis sangat penting dalam memastikan bahwa bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan.
Kematian Dr. Mohammed Shabat adalah pengingat akan pentingnya solidaritas internasional dan dukungan bagi rakyat Palestina. Dedikasinya untuk kemanusiaan dan pengabdiannya kepada masyarakat Gaza akan selalu dikenang.
Kisahnya menginspirasi kita untuk terus berjuang demi keadilan dan perdamaian.
Dr. Hammam Alloh
Dokter yang bernama Hammam Alloh (36) turut menjadi salah satu korban tewas dalam serangan udara militer Israel pada tahun 2023 silam. Semasa hidup, dia terkenal lantang menyuarakan kondisi darurat kesehatan di Palestina.
Bahkan saat Israel memberi instruksi ke warga Palestina untuk mengungsi, dia tetap teguh untuk tinggal di Gaza Utara agar dapat memberikan perawatan medis di Rumah Sakit Al-Shifa.
Dilansir dari NU Online, serangan udara yang menewaskan dokter muda tersebut terjadi di kediaman mertuanya yang menampung dia bersama 25 anggota keluarga lainnya.
Rumah tersebut berjarak 10 menit jalan kaki dari Rumah Sakit Al-Shifa. Akibat serangan udara Israel, Hammam tewas meninggalkan seorang istri dan dua anak kecil yang baru berusia 4 dan 5 tahun.
Dr. Marwan al-Sultan
Terbaru, Dr. Marwan al-Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, tewas bersama istri dan anak-anaknya dalam serangan udara Israel pada 2 Juli 2025 lalu. Kematiannya merupakan kehilangan besar bagi sistem kesehatan Gaza yang sudah porak-poranda.
Ia dikenal sebagai ahli jantung ternama dan advokat vokal untuk perlindungan warga sipil. Al-Sultan sering memberikan informasi terkini tentang krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Ia menjadi suara bagi mereka yang tidak terdengar. Kematiannya menambah daftar panjang tenaga kesehatan yang menjadi korban konflik. Ini menyoroti risiko besar yang dihadapi para pekerja medis di zona perang.
Kematian Dr. Marwan al-Sultan meninggalkan luka yang mendalam bagi dunia medis dan kemanusiaan. Dedikasinya untuk menyelamatkan nyawa dan memperjuangkan hak-hak warga Gaza akan selalu dikenang.
Kisahnya menjadi simbol keberanian dan pengorbanan di tengah konflik yang tak berkesudahan.
Israel Melanggar Hukum Internasional
Serangan terhadap warga sipil hingga tenaga medis dan fasilitas kesehatan di Gaza telah menimbulkan krisis kemanusiaan yang serius. Laporan PBB menunjukkan bahwa layanan kesehatan di Gaza nyaris hancur total akibat serangan Israel.
Banyak rumah sakit dan fasilitas medis lainnya mengalami kerusakan parah atau bahkan hancur. Jumlah tenaga medis yang tewas akibat konflik ini sangat tinggi.
Berbagai organisasi internasional dan LSM mengecam tindakan tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan potensi kejahatan perang. Israel membantah tuduhan tersebut, dengan menyatakan bahwa mereka beroperasi sesuai dengan hukum internasional dan tidak pernah menargetkan warga sipil yang tidak bersalah.
Namun, bukti-bukti yang ada menunjukkan pola serangan yang sistematis terhadap tenaga medis dan fasilitas kesehatan di Gaza. Hal ini menimbulkan pertanyaan serius tentang niat dan proporsionalitas tindakan militer Israel.
Perlindungan tenaga medis dan fasilitas kesehatan adalah kewajiban yang harus dihormati oleh semua pihak dalam konflik.