Agen CIA Pengkhianat Terbesar AS ke Rusia Meninggal, ini Sosok dan Sepak Terjangnya
Kabar tersebut disampaikan oleh juru bicara Biro Penjara Amerika Serikat.
Aldrich Ames, mantan petugas kontraintelijen Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) yang berkhianat dengan menjadi mata-mata bagi Uni Soviet (kemudian Rusia), meninggal dunia. Kabar tersebut disampaikan oleh juru bicara Biro Penjara Amerika Serikat.
Dikutip dari CBS News, Rabu (7/1/2026), Ames mengembuskan napas terakhir pada Senin (5/1/2026) di usia 84 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Federal Cumberland, Maryland. Ia tengah menjalani hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat atas aksi spionase yang dianggap sebagai salah satu pengkhianatan paling merusak dalam sejarah intelijen AS.
Sebagai veteran CIA selama 31 tahun, Ames telah menjadi agenda ganda AS dan Uni Soviet (Rusia). Dia diyakini telah membocorkan lebih dari 100 operasi intelijen rahasia. Informasi yang ia serahkan menyebabkan sejumlah agen ditangkap atau dieksekusi. Pengkhianatan itu dilakukannya demi imbalan uang dari Soviet dalam jumlah besar yang kemudian membiayai gaya hidup mewahnya.
Dalam pengakuannya, Ames menyatakan telah membocorkan "hampir semua agen Soviet dari CIA dan dinas-dinas Amerika dan asing lainnya yang saya kenal" serta memberikan Uni Soviet dan Rusia "sejumlah besar informasi tentang kebijakan luar negeri, pertahanan, dan keamanan Amerika Serikat." Departemen Pertahanan AS mencatat, Ames mengungkap identitas 10 agen Amerika, dengan sedikitnya sembilan di antaranya kemudian dieksekusi.
Sepanjang kariernya, terdapat banyak tanda peringatan yang seharusnya terdeteksi. Di antaranya hasil tes pendeteksi kebohongan yang menunjukkan jawaban menipu, kekayaan mendadak yang tak dapat dijelaskan, kinerja kerja yang menurun, serta masalah penyalahgunaan alkohol. Namun, CIA berulang kali melewatkan atau mengabaikan sinyal tersebut, bahkan terus mempromosikan Ames ke posisi-posisi yang semakin sensitif.
Profil Ames
Ames lahir di River Falls, Wisconsin, pada 1941. Ia menghabiskan sebagian masa kecilnya di Asia Tenggara ketika ayahnya bekerja untuk CIA. Setelah lulus SMA dan gagal dalam beberapa mata kuliah di Universitas Chicago, ia bergabung dengan CIA pada 1962 sebagai staf administrasi. Bersamaan dengan itu, ia melanjutkan pendidikan di Universitas George Washington dan meraih gelar sejarah pada 1967.
Pada 1969, Ames menikahi istri pertamanya yang juga bekerja di CIA dan menerima penugasan luar negeri pertamanya di Ankara, Turki. Di sana, ia bertugas menargetkan mata-mata Soviet untuk direkrut. Namun, tiga tahun kemudian ia dipulangkan ke markas CIA di Virginia akibat kinerja yang memburuk.
Sekembalinya ke Amerika Serikat, masalah alkohol mulai memengaruhi pekerjaannya, sementara pernikahannya berujung pada keretakan. Ames kemudian ditugaskan ke Mexico City dari 1981 hingga 1983. Di sana, ia bertemu Rosario, seorang atase kebudayaan Kedutaan Besar Kolombia sekaligus informan CIA, yang kelak menjadi istrinya dan kemudian didakwa sebagai kaki tangannya.
Meski tercatat melakukan sejumlah pelanggaran keamanan, termasuk meninggalkan tas kerja berisi materi rahasia di kereta di New York serta kekhawatiran atas kebiasaan minumnya, Ames tetap dipromosikan menjadi kepala cabang Soviet di divisi kontraintelijen CIA.
Berkhianat ke Uni Soviet
Tekanan finansial semakin menghimpitnya. Perceraian dengan istri pertamanya membuat Ames terlilit utang, sementara kehadiran Rosario membawa beban keuangan baru. Dalam kondisi itu, pada 1985 ia mendekati pihak Soviet dan menyerahkan nama-nama perwira KGB yang diam-diam bekerja untuk FBI, sebagai imbalan uang sebesar 50.000 dolar AS.
Ia kemudian memberikan daftar aset CIA kepada KGB. Laporan Komite Intelijen Senat AS pada 1994 menyebut tindakan tersebut memberikan "pukulan telak" bagi operasi CIA di Uni Soviet. KGB menjanjikan lebih dari 2 juta dolar AS atas kerja samanya. Untuk menutupi asal-usul kekayaannya, Ames mengklaim kepada rekan-rekannya bahwa Rosario berasal dari keluarga kaya.
Ames melanjutkan aktivitas spionasenya selama sembilan tahun berikutnya, termasuk saat bertugas di Roma pada 1986–1989. Dari 1990 hingga 1994, ia mengawasi operasi di Eropa Barat dan Cekoslowakia serta bekerja di pusat kontra-narkotika CIA, sambil rutin melakukan perjalanan ke Wina, Bogota, dan Caracas untuk bertemu dengan para pengendalinya. Sementara itu, CIA dan FBI terus memburu sumber kebocoran besar tersebut.
Ames dan Istrinya Ditangkap
Pada 1993, penyelidikan mulai mengarah kuat kepada Ames. Setelah berbulan-bulan pengawasan, ia ditangkap pada 21 Februari 1994 di Arlington, Virginia, hanya beberapa hari sebelum dijadwalkan menghadiri sebuah konferensi di Moskow.
Hampir dua bulan kemudian, Ames dan istrinya mengaku bersalah atas tuduhan spionase. Rosario Ames dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun.
Direktur CIA saat itu, R. James Woolsey, menyebut Ames sebagai "pengkhianat keji terhadap negaranya yang membunuh sejumlah orang yang membantu Amerika Serikat dan Barat memenangkan Perang Dingin." Woolsey menambahkan bahwa para agen itu tewas karena "pengkhianat pembunuh menginginkan rumah yang lebih besar dan sebuah Jaguar."
Dalam wawancara dengan New York Times setelah penangkapannya, Ames mengatakan bahwa uang merupakan motivasi utama di balik keputusannya menjadi mata-mata. Namun, ia juga menyebut pandangannya mulai berubah sejak sering makan siang dengan seorang koresponden surat kabar Partai Komunis, Pravda, pada 1970-an. Menurutnya, ancaman Soviet tidak sebesar yang digambarkan oleh Amerika Serikat.
"Saya tahu apa yang merusak dan apa yang tidak merusak, dan saya tahu seperti apa Uni Soviet sebenarnya, dan saya tahu apa yang terbaik untuk kebijakan luar negeri dan keamanan nasional," katanya kepada New York Times.
"Dan saya akan bertindak berdasarkan itu."