5 Pesepakbola Dunia yang 'Dikucilkan' Karena Pro Palestina, Diancam Pidana Hingga Putus Kontrak
Perbedaan pandangan di tengah konflik Israel vs Palestina memiliki dampak serius bagi para pesepakbola dunia. Seperti beberapa sosok berikut ini.
Dukungan terhadap Palestina oleh sejumlah pesepakbola dunia berujung pada konsekuensi serius. Beberapa di antaranya bahkan harus kehilangan pekerjaan dan menghadapi tekanan politik yang berat. Kasus-kasus ini memicu perdebatan tentang batasan kebebasan berekspresi di dunia olahraga.
Setidaknya ada lima pesepakbola yang mengalami nasib pahit karena pandangan pro-Palestina mereka. Hukuman yang diterima bervariasi, mulai dari denda finansial hingga pemutusan kontrak oleh klub. Dukungan ini dianggap melanggar aturan klub atau memicu kontroversi di tengah masyarakat.
Artikel ini akan mengulas lima pesepakbola dunia yang terkena dampak akibat dukungan mereka terhadap Palestina. Kasus mereka menjadi sorotan dan menimbulkan pertanyaan tentang standar ganda dalam menyikapi ekspresi politik di dunia sepak bola. Berikut daftar lengkapnya.
Frederic Kanoute (Dihukum Denda)
Frederic Kanoute, mantan striker Sevilla ini sempat membuat wasit mengeluarkan kartu kuning dan didenda $ 4000 di pertandingan Copa Del Rey 2009 melawan Deportivo La Coruna.
Penyebabnya tidak lain adalah dukungannya terhadap Palestina. Setelah mencetak gol kemenangan 2-1, pemain ini mengangkat bajunya dan menunjukkan kaos berwarna hitam yang bertuliskan "Palestine".
Dalam artikel english.al-akhbar.com, Kanoute menyatakan di website resminya, "Kami mendapat laporan bahwa pada tanggal 10 November 2012, tentara Israel membom stadion olahraga di Gaza, mengakibatkan empat pemain muda yang sedang bermain sepak bola meninggal dunia... Kejadian ini tidak bisa diterima karena anak-anak terbunuh ketika mereka bermain sepakbola."
Pernyataan dari news.bbc.co.uk, Aluanen mengungkapkan ke Radio Marca bahwa Kanoute telah menunjukkan bahwa ia adalah pendukung Palestina yang sangat berani dengan aksi dukungannya di event publik.
Anwar El Ghazi (Dipecat Mainz 05)
Anwar El Ghazi, pemain asal Belanda, menjadi salah satu contoh pesepakbola yang harus kehilangan pekerjaannya karena mendukung Palestina.
Ia dipecat oleh klubnya, Mainz 05, setelah mengunggah postingan di media sosial yang dianggap pro-Palestina. Keputusan klub ini menuai pro dan kontra di kalangan penggemar sepak bola.
Mainz 05 berdalih bahwa unggahan El Ghazi tidak dapat ditoleransi, terutama karena stadion mereka dinamai untuk menghormati seorang pendiri klub yang beragama Yahudi.
Klub merasa bahwa tindakan El Ghazi bertentangan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh klub. Pemecatan ini menjadi pukulan telak bagi karier El Ghazi.
El Ghazi sendiri tidak menyesali tindakannya dan menganggap pembelaannya terhadap Palestina lebih penting daripada pekerjaannya.
Ia merasa memiliki kewajiban moral untuk menyuarakan dukungannya terhadap rakyat Palestina yang menderita akibat konflik berkepanjangan. Sikap El Ghazi ini menuai pujian dari sebagian pihak yang mendukung perjuangan Palestina.
Youcef Atal (Diskors Tuduhan Anti-Semit)
Youcef Atal, pemain asal Aljazair yang bermain untuk OGC Nice, juga menerima sanksi akibat dukungan terhadap Palestina.
Ia diskors oleh klubnya setelah membagikan postingan media sosial yang dianggap mendukung Palestina. Postingan tersebut memicu kontroversi dan kecaman dari berbagai pihak.
Klub dan jaksa Prancis menuduh Atal menyebarkan ujaran kebencian dan anti-semitisme melalui postingannya. Bahkan, jaksa Prancis menuding Atal telah "mengagungkan terorisme" melalui unggahannya tersebut. Tuduhan ini sangat serius dan dapat berakibat fatal bagi karier Atal.
Kasus Atal ini menjadi perhatian serius di Prancis, di mana dukungan terhadap Palestina seringkali dianggap sebagai tindakan yang kontroversial.
Skorsing yang dijatuhkan kepada Atal menunjukkan bahwa klub dan otoritas Prancis tidak mentolerir segala bentuk dukungan terhadap Palestina yang dianggap melanggar hukum atau norma yang berlaku.
Mahmoud Al Mardi (Dihukum Denda)
Mahmoud Al Mardi, pemain Tim Nasional Yordania, juga terkena sanksi akibat menunjukkan dukungan terhadap Palestina. Ia didenda oleh Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) karena menunjukkan slogan pro-Palestina di balik jerseynya saat merayakan gol.
Tindakan Mardi ini dianggap melanggar aturan AFC yang melarang segala bentuk ekspresi politik di lapangan. Denda yang dijatuhkan kepada Mardi bersifat finansial dan tidak memengaruhi penampilannya di Piala Asia.
Meskipun demikian, denda ini menjadi pengingat bagi para pemain sepak bola untuk berhati-hati dalam mengekspresikan pandangan politik mereka di lapangan. AFC berupaya menjaga netralitas politik dalam setiap pertandingan sepak bola.
Meskipun didenda, tindakan Mardi tetap mendapat dukungan dari banyak pihak yang menganggapnya sebagai bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Banyak yang menilai bahwa Mardi berani mengambil risiko untuk menyuarakan dukungannya terhadap perjuangan Palestina.
Noussair Mazraoui (Diancam Pidana)
Pemain Bayern Munich, Noussair Mazraoui pernah dituntut ke pengadilan oleh politisi Jerman, Voker Beck atas unggahannya yang membela Palestina di tengah konlik Israel dan Hamas.
Beck melaporkan Mazraoui ke polisi Munich dan kejaksaan Jerman karena pemain asal Maroko itu dituding mendukung kejahatan karena membela Hamas.
"Pernyataan 'bantulah saudara-saudara kita yang tertindas di Palestina agar mereka bisa meraih kemenangan' yang diucapkan pasca pembantaian 7 Oktober hanya dapat dipahami sebagai persetujuan atas tindakan Hamas," ucap Beck dikutip dari Bild.
Mazraoui sebelumnya mengunggah bendera Palestina dan video dukungan tak lama setelah serangan Hamas ke Israel pecah pada 7 Oktober 2023. Usai postingan itu viral, Mazraoui langsung dipanggil manajemen klub. Secara pandangan, Die Roten merupakan pendukung Israel dan mengutuk keras aksi terorisme Hamas terhadap Israel.
Dalam keterangannya, Mazraoui menegaskan bahwa ia menentang perang dan heran alasan banyak orang yang justru menyebut dirinya pro terorisme.
"Posisi saya adalah saya akan bekerja untuk perdamaian dan keadilan di dunia ini. Artinya, saya akan selalu menentang segala bentuk terorisme, kebencian, dan kekerasan. Itu adalah sesuatu yang akan selalu saya dukung," kata Mazraoui.