Apple Pindahkan Produksi iPhone dari China ke Brasil, Hindari Tarif Impor Donald Trump?
Dikabarkan bahwa Apple akan memproduksi iPhone 16 Pro di Brasil.
Apple dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk meningkatkan kapasitas pabrik iPhone yang berlokasi di Brasil. Menurut sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, keputusan ini diambil untuk mengurangi dampak dari tarif impor yang baru saja diterapkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh 9to5Mac pada hari Selasa (8/4), disebutkan bahwa Apple ingin memanfaatkan tarif impor yang lebih rendah di Brasil, yaitu hanya 10 persen, dibandingkan dengan tarif yang mencapai 34 persen dari Cina dan 26 persen dari India.
Strategi Alternatif Apple untuk Mengurangi Harga iPhone?
Perusahaan teknologi raksasa yang bermarkas di Cupertino ini telah melakukan perakitan beberapa model iPhone di Brasil sejak tahun 2011, bekerja sama dengan mitra perakitan, Foxconn.
Namun, produksi di pabrik yang terletak di Sao Paulo selama ini hanya terbatas pada model iPhoneentry-level yang dijual di pasar lokal. Dengan adanya kebijakan tarif dari Trump, Apple berencana untuk merakit lebih banyak model, termasuk untuk pertama kalinya model iPhone 16 Pro yang akan diproduksi di pabrik tersebut.
Informasi ini semakin diperkuat dengan adanya sertifikasi dari Anatel, regulator telekomunikasi Brasil. "Kemungkinan perluasan perakitan iPhone di Brasil mulai dipelajari tahun lalu, dengan peningkatan pada mesin dan proses industri," tulis laporan tersebut.
Bagaimana Pengaruh Tarif Trump terhadap Apple?
Kebijakan tarif impor yang diterapkan oleh Donald Trump memberikan dampak signifikan terhadap rantai pasokan Apple, yang selama ini sangat tergantung pada Cina.
Dengan tarif yang mencapai 34 persen untuk produk-produk dari Tiongkok, perusahaan tersebut terpaksa mencari alternatif lain demi menjaga daya saing di pasar Amerika Serikat.
Di sisi lain, India yang juga menjadi salah satu lokasi produksi iPhone, dikenakan tarif sebesar 26 persen. Brasil muncul sebagai pilihan yang lebih menguntungkan karena tarifnya hanya 10 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan kedua negara lainnya.
Jika rencana ekspansi ke Brasil ini berhasil, iPhone yang dirakit di sana tidak hanya akan memenuhi kebutuhan pasar lokal, tetapi juga dapat diekspor ke pasar Amerika Serikat dengan beban pajak yang jauh lebih ringan.
Dengan kata lain, langkah ini dapat memberikan keuntungan kompetitif bagi Apple di pasar global. Perusahaan perlu mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk biaya produksi dan kebijakan pajak, untuk memastikan keberlangsungan bisnisnya di tengah ketatnya persaingan.
“Kebijakan tarif impor Donald Trump ini berdampak besar terhadap rantai pasokan Apple yang selama ini sangat bergantung pada Cina,” ungkap sumber terkait.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya bagi perusahaan untuk beradaptasi dengan perubahan kebijakan yang dapat memengaruhi operasional mereka.
Faktor Harga iPhone 16 Meningkat Lebih dari 40 Persen
Konsumen di Amerika Serikat (AS) mungkin perlu mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli iPhone akibat penerapan tarif tinggi oleh Presiden AS Donald Trump terhadap beberapa negara. Situasi ini diperkirakan dapat merubah secara signifikan peta perdagangan global.
Sejumlah analis berpendapat bahwa produk konsumen seperti iPhone akan menjadi yang paling terpengaruh, dengan kemungkinan kenaikan harga antara 30% hingga 40% jika Apple memutuskan untuk meneruskan tarif tersebut kepada pelanggan.
Hal ini terjadi karena sebagian besar produksi iPhone masih dilakukan di China, yang dikenakan tarif sebesar 54% oleh Trump. Jika kebijakan ini berlanjut, Apple harus membuat pilihan sulit antara menanggung biaya tambahan atau meneruskannya kepada konsumen.
Model iPhone 16 yang paling terjangkau di pasar AS saat ini dijual dengan harga USD 799 atau sekitar Rp 13,5 juta (berdasarkan kurs Rp 16.990 per 1 USD). Namun, harga tersebut bisa melonjak hingga USD 1.142 (sekitar Rp 19,3 juta) jika Apple memutuskan untuk membebankan tarif tersebut kepada konsumen, sesuai dengan proyeksi dari analis di Rosenblatt Securities.
Mereka menyatakan bahwa harga iPhone bisa meningkat hingga 43% jika tarif tersebut diteruskan kepada pembeli. Dengan demikian, konsumen harus bersiap menghadapi kemungkinan kenaikan harga yang signifikan pada produk yang mereka inginkan.
Apakah harga iPhone akan Meningkat?
Harga iPhone 16 Pro Max, yang memiliki layar 6,9 inci dan kapasitas penyimpanan 1 terabyte, saat ini dijual dengan harga USD 1.599 (sekitar Rp 27 juta). Namun, harga tersebut dapat melonjak hampir menjadi USD 2.300 (sekitar Rp 39 juta) sebagaimana dilaporkan oleh New York Post pada Senin (7/4/2025). Di Indonesia, beberapa peritel resmi Apple menawarkan iPhone 16 Pro Max 1TB dengan harga yang seragam, yaitu Rp 34.999.000.
Selain itu, analis dari TechInsights, Wayne Lam, memperkirakan bahwa biaya komponen untuk iPhone 16 Pro (256GB) mengalami kenaikan dari USD 550 (sekitar Rp 9,3 juta) menjadi USD 820 (sekitar Rp 13,9 juta).
Kenaikan biaya ini disebabkan oleh tarif impor sebesar 54% yang diterapkan pada produk-produk yang berasal dari Tiongkok, di mana sebagian besar iPhone dirakit dengan menggunakan komponen dari berbagai negara. Meskipun Apple pernah mendapatkan pengecualian tarif impor pada masa pemerintahan Trump, hingga kini belum ada pengecualian untuk produk tertentu.