Aksi Pro-Palestina Ganggu Perayaan 50 Tahun Microsoft, Soroti Kontrak dengan Israel
Insiden terjadi di markas besar Microsoft di Redmond, Washington
Seorang pengunjuk rasa pro-Palestina menginterupsi acara perayaan 50 tahun Microsoft pada Kamis (4/4) waktu setempat, sebagai bentuk protes terhadap kontrak perusahaan tersebut dengan pemerintah Israel.
Insiden terjadi di markas besar Microsoft di Redmond, Washington, saat CEO Satya Nadella sedang menyampaikan sambutan dalam acara internal yang dihadiri karyawan dan mitra perusahaan. Seorang perempuan naik ke atas panggung sambil meneriakkan protes terkait keterlibatan Microsoft dalam proyek militer dan teknologi dengan Israel.
Mengutip NYPost, Senin (7/4), aksi tersebut terekam dalam beberapa video yang segera menyebar di media sosial. Perempuan tersebut mengenakan pakaian bergambar bendera Palestina dan membawa spanduk bertuliskan “Microsoft Mendukung Genosida.” Ia kemudian diamankan oleh petugas keamanan dan dibawa keluar dari lokasi.
Protes ini terkait kontrak teknologi antara Microsoft dan pemerintah Israel, termasuk keterlibatan perusahaan dalam penyediaan layanan komputasi awan dan kecerdasan buatan. Kelompok aktivis menuduh teknologi tersebut digunakan dalam operasi militer Israel yang kontroversial di wilayah Palestina.
Seorang juru bicara Microsoft mengatakan bahwa acara tetap dilanjutkan setelah insiden berlangsung beberapa menit. “Kami menghormati hak setiap individu untuk menyuarakan pendapatnya, namun keselamatan seluruh peserta tetap menjadi prioritas utama,” ujarnya dalam pernyataan resmi.
Aksi protes ini mencerminkan kian meningkatnya tekanan terhadap perusahaan teknologi besar untuk bersikap atas konflik geopolitik, terutama yang melibatkan Palestina dan Israel. Microsoft bukan satu-satunya yang menjadi sasaran protes — perusahaan seperti Google, Amazon, dan Meta juga menghadapi desakan serupa dalam beberapa tahun terakhir.
Sejauh ini, Microsoft belum memberikan tanggapan langsung mengenai isi tuntutan dari pengunjuk rasa maupun rincian kontrak yang dipermasalahkan.
Aksi tersebut menjadi sorotan dalam perayaan setengah abad berdirinya Microsoft, yang awalnya dirancang untuk merayakan sejarah perusahaan sebagai pionir teknologi global. Kini, sorotan juga tertuju pada tanggung jawab etis perusahaan teknologi dalam konflik global yang sedang berlangsung.