Kawasan perumahan ini diklaim punya akses internet terbesar di dunia
Harga satu unit rumah ini mencapai Rp 1 miliar.
Cyber Park Indonesia membangun kawasan hunian fiber optik terbesar bukan hanya di Indonesia, tapi juga di dunia dan diklaim bisa menyaingi kapasitas kebutuhan infrastruktur internet di Sillicon valley. Kawasan hunian cyber atau cyber home tersebut diberi nama Tamansari Cyber. Kawasan ini disebut satu satunya berkonsep real cyber home di Indonesia.
CEO Cyber Park Indonesia, Dedi Yudiant mengatakan, konsep hunian ini bukan hanya cocok sebagai tempat tinggal sekaligus kantor, tapi dapat dikembangkan sebagai data center berskala UKM. Menurut Dedi, gagasan membangun kawasan cyber home ini akan mampu menjawab dan memberi solusi internet lelet yang merupakan masalah sebagian masyarakat Indonesia di rumah mereka.
"Di rumah cyber inilah kami bangun fasilitas akses internet kapasitas besar dan cepat di Indonesia. Setiap rumah terpasang internet dengan kekuatan riil 100 Mbps dengan upload dan download sama (simetris) dengan opsi IP Public bila ingin menghidupkan server sendiri dari rumah, bahkan sekarang sudah progress menuju 1 Gbps setiap Rumah. Malah, kami sedang upgrade menuju 10 Gbps sehingga ini satu-satunya Kawasan dengan rumah akses internet terbesar di dunia, bukan lagi hanya di Indonesia," ujar Dedi dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (3/5).
Kawasan ini dibangun di atas luas tanah sekitar 13 hektar, Tamansari Cyber berlokasi di Kelurahan Mulyaharja, masih termasuk di dalam Kota Bogor. Selain memiliki view berlatar Gunung Salak, perumahan ini didukung berbagai fasilitas kawasan yang sudah sangat hidup dan berkembang karena berdampingan dengan kawasan Bogor Nirwana Residence (BNR), dua hotel berbintang Aston dan Padjajaran Suites , fasilitas hiburan, serta pusat kuliner.
Untuk membangun kawasan ini, Cyber Park Indonesia menggandeng developer Wika Realty sebagai mitra atau JO (joint operation).
Menurut Dedi, Tamansari Cyber sangat cocok bagi para pengusaha/pebisnis berbasis dalam jaringan (daring) atau bagi para pekerja di bidang teknologi, informasi, dan komunikasi (TIK) yang berkutat dengan internet. Kecepatan internet di dalamnya diklaim sangat stabil, baik untuk mengunduh atau mengunggah data di dalam rumah.
"Dengan demikian, semua pekerjaan yang membutuhkan internet bisa dilakukan di rumah. Dari guru online, dokter online ,industri kreatif, industri digital dan sebagainya. Ini sudah eranya ekonomi digital, harus serbacyber," ujarnya.
Rumah ini disebut sangat cocok dihuni oleh pebisnis start up di industri kreatif, pengembang aplikasi, pekerja animasi, desainer, dan lain-lainnya. Penghuni juga bisa menempuh pendidikan secara home schooling, karena materi pelajaran bisa disampaikan melalui internet.
"Jadi, jelas sekali, bahwa ini bukan lagi bicara home user seperti biasanya. Kalau mau seperti itu, orang bisa pilih rumah konvensional saja, karena kami membangun Tamansari Cyber ini sebagai rumah masa depan untuk generasi Y dan generasi Z," jelas Dedi.
Saat ini tipe rumah Tamansari Cyber dirancang dalam dua jenis, yaitu homepage dan bandwith dengan jumlah total 400 unit. Untuk tipe homepage seluas bangunan 75 meter persegi dan luas tanah 120 meter persegi, harga yang ditawarkan Rp 1,2 miliar.
Sementara itu, untuk tipe bandwith dengan luas bangunan 62 meter persegi dan luas tanah 105 meter persegi harganya dibanderol Rp 1 miliar lebih dengan KPR bisa Rp 7-9 juta per bulan.
Baca juga:
Ini instruksi baru Jokowi dalam penyederhanaan izin bangun rumah
Jokowi izinkan WNA miliki rumah di RI, bagaimana di negara lain?
Aturan BPN, orang asing bisa jaminkan & wariskan rumah di Indonesia
Aturan baru, orang asing beli rumah di Jakarta minimal harga Rp 10 M
Ini 6 masalah dalam penyaluran KPR yang merugikan konsumen
YLKI: Banyak konsumen dirugikan dari produk KPR perbankan
Per 18 Maret 2016, BTN salurkan KPR ke 45 ribu unit rumah