Waspadai Sentimen SARA sebagai Operasi Penggalangan Negara Adidaya Terhadap Masyarakat Indonesia
Menurut Hendropriyono, operasi sentimen SARA itu diinginkan AS setelah konsep geostrategi di Timur Tengah dan di Eropa terlaksana.
Mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono meminta pemerintah mewaspadai operasi penggalangan dilakukan Amerika Serikat (AS) melalui sentimen Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).
Menurut Hendropriyono, operasi sentimen SARA itu diinginkan AS setelah konsep geostrategi di Timur Tengah dan di Eropa terlaksana, kondisi geopolitik kini mulai bergeser ke Asia.
"Pukulan terhadap AS dalam perang dagang akan berkepanjangan, karena rencana dibangunnya terusan Kra di Thailand oleh China," kata Hendropriyono dalam keterangan tertulisnya, Senin (3/2).
Waspada Konflik Meluas
Di sisi lain, Hendropriyono mengatakan, ambang perang finansial sudah semakin jelas bahwa Indonesia berada dalam posisi BRICS yang berseberangan dengan kedaulatan USD.
Dia menilai jika sentimen SARA semakin berkembang menjadi konflik sosial yang meluas, maka tentara AS akan datang untuk melaksanakan misi perdamaian di bawah bendera PBB.
"Dengan demikian tersusun kekuatan garis belakang yang mendalam, untuk mendukung ofensif AS di Laut China Selatan," kata Hendropriyono.
Hendropriyono tidak mau terjadi perang saudara di Indonesia akibat operasi SARA dilakukan negara adidaya tersebut. Dia menegaskan tak mau Indonesia menjadi kancah pertempuran antar-super power yang berimbas terhadap kehancuran dan masa depan anak cucu.
"Berpikirlah yang jernih, kendalikan suara agar tidak menebar kebencian antar masyarakat bangsa Indonesia dan bertindaklah dengan kewaspadaan maksimal terhadap perkiraan keadaan intelijen strategis ini," kata Hendropriyono.