Wali Kota Makassar Luncurkan Program BioBerkah 1.000 Pipa Biopori: Langkah Strategis Menuju Nol Sampah 2027
Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meluncurkan program BioBerkah 1.000 pipa biopori, sebuah langkah strategis menuju Makassar nol sampah 2027 yang didukung penuh masyarakat dan Permabudhi.
Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, pada Minggu, 26 Oktober, secara resmi meluncurkan Program BioBerkah (Biopori Mengubah Sampah Jadi Berkah).
Inisiatif ini digagas oleh Permabudhi Kota Makassar dan dilaksanakan di Wihara Vimalakirti, Sulawesi Selatan, sebagai bagian dari upaya pengelolaan sampah organik.
Peluncuran program yang melibatkan distribusi 1.000 pipa biopori ini menjadi tonggak penting dalam mendorong kesadaran masyarakat serta sejalan dengan target Makassar menuju kota nol sampah pada tahun 2027.
Dukungan Masyarakat dan Kebijakan Pemerintah Kota
Wali Kota Munafri Arifuddin menyatakan apresiasinya terhadap Permabudhi Kota Makassar yang telah menginisiasi gerakan lingkungan ini. Menurutnya, kesadaran masyarakat yang bergerak secara mandiri sangat penting dalam mencapai perubahan.
“Saya senang melihat masyarakat bergerak sendiri, seperti yang dilakukan oleh Permabudhi hari ini. Artinya, kesadaran mulai tumbuh. Pemerintah bisa membuat aturan, tapi perubahan hanya terjadi kalau masyarakat mau ikut bergerak,” ujarnya di Makassar.
Langkah ini dinilai sejalan dengan arah kebijakan Pemerintah Kota Makassar yang memprioritaskan pengelolaan sampah dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Pemkot saat ini tengah mengembangkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi di setiap RT/RW.
Dalam sistem ini, warga didorong untuk memiliki biopori, teba, dan eco-enzyme di lingkungan masing-masing. “Setiap RT nanti harus punya sistem pengelolaan sampahnya sendiri. Harus ada biopori, Teba, dan pemisahan sampah rumah tangga. Ini harga mati. Karena dari situlah keseimbangan lingkungan dimulai,” tegas Munafri.
Menuju Makassar Zero Waste 2027
Munafri Arifuddin juga menguraikan arah besar program lingkungan Makassar menuju kota zero waste pada tahun 2027. Targetnya adalah melahirkan ribuan rumah tangga mandiri sampah.
Rumah tangga tersebut diharapkan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang. Masyarakat akan didorong untuk mengelola sampah sendiri.
Sampah organik dapat diubah menjadi produk bermanfaat seperti pupuk organik, maggot, atau cairan eco-enzyme. Ini akan mengurangi beban TPA secara drastis.
“Kami ingin memberi penghargaan untuk rumah tangga zero waste. Bukan lagi sekadar gerakan komunitas, tapi gaya hidup baru warga Makassar. Kalau ini jalan, beban TPA bisa berkurang drastis dan kota kita akan semakin bersih,” jelasnya.
Peran Aktif Permabudhi dalam Gerakan Lingkungan
Ketua Permabudhi Kota Makassar, Suzanna, menyampaikan bahwa gerakan BioBerkah merupakan bentuk sukacita dukungan umat Buddha terhadap program pemerintah. Total 1.000 pipa biopori akan dibagikan.
Pipa-pipa biopori ini akan didistribusikan kepada umat Buddha di seluruh wihara di Makassar, dengan 120 pipa pertama diserahkan secara simbolis pada kegiatan peluncuran tersebut.
“Kami ingin berkontribusi untuk Makassar yang lebih bersih. Mungkin kelihatannya sederhana, tapi ini langkah spiritual untuk belajar ‘lebih repot’ demi masa depan yang lebih baik,” ucap Suzanna.
Gerakan ini juga menjadi cara Permabudhi menyatukan berbagai aliran umat Buddha melalui semangat kepedulian terhadap lingkungan hidup.
Sumber: AntaraNews