Unik! Ada Ilmu Matematika di Balik Terapi Meracik Parfum, Jadi Media Healing Warga Batam
Warga Batam menemukan cara unik untuk healing dari trauma psikis melalui terapi meracik parfum. Aktivitas ini tak hanya seru, tapi juga mengajarkan ilmu matematika di dalamnya.
Kota Batam, Kepulauan Riau, menjadi saksi sebuah inovasi menarik dalam pendekatan kesehatan mental. Sejumlah warga di kota ini berkesempatan mengikuti kelas meracik parfum yang diselenggarakan oleh Sandyakala_Story bekerja sama dengan Perfume Workshop pada Minggu, 07 September. Kegiatan ini dirancang bukan sekadar untuk menciptakan aroma wangi, melainkan sebagai media interaktif untuk healing dan berbagi pengalaman.
Inisiatif ini dipelopori oleh dr. Revit Jayanti, seorang dokter spesialis kedokteran jiwa yang mengelola Sandyakala_Story. Kelas ini tidak hanya diperuntukkan bagi pasien dr. Revit, tetapi juga terbuka luas untuk masyarakat umum yang tertarik pada aktivitas kreatif dan terapeutik. Tujuannya jelas, yakni menyediakan wadah bagi peserta untuk berinteraksi sosial, memulihkan diri dari trauma psikis, dan saling mendukung dalam proses penyembuhan.
Antusiasme peserta terlihat dari beragam latar belakang yang hadir, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat umum. Mereka datang dengan harapan mendapatkan pengalaman baru sekaligus menemukan cara untuk mengatasi beban emosional. Melalui perpaduan antara seni meracik aroma dan dukungan psikologis, workshop ini menawarkan dimensi baru dalam upaya menjaga kesehatan jiwa.
Meracik Parfum: Lebih dari Sekadar Hobi, Ini Terapi Jiwa
Bagi sebagian peserta, terapi meracik parfum ini menjadi jembatan menuju pemulihan. Salah satunya adalah Gea (21), seorang mahasiswa asal Batam yang telah tiga kali mengikuti kelas pelatihan yang diadakan oleh dr. Revit. Sebelumnya, Gea telah mencoba mindful yoga dan kelas menghias kue, dan kini menemukan keseruan serta manfaat healing dari meracik parfum.
Gea sendiri merupakan pasien dr. Revit yang mengalami trauma psikis serius akibat perundungan selama masa kuliah, diperparah dengan hubungan toksik yang pernah dijalaninya. "Seru sih, selain bisa healing juga bisa punya keterampilan baru," ungkap Gea, menunjukkan bagaimana kegiatan ini memberikan dampak positif ganda baginya.
Workshop yang dikelola oleh Sandyakala_Story ini memang dirancang sebagai ruang aman bagi peserta untuk memulihkan diri. Kehadiran dr. Revit Jayanti sebagai psikiater memastikan bahwa aspek terapeutik dari kegiatan ini terpenuhi, memberikan dukungan profesional bagi mereka yang membutuhkan.
Menciptakan Aroma, Menemukan Diri: Pengalaman Peserta
Tidak semua peserta datang dengan latar belakang trauma psikis. Nia (25), misalnya, hadir sebagai peserta umum yang mengetahui informasi workshop meracik parfum dari teman dan media sosial. Baginya, meracik parfum adalah kesempatan untuk menambah pengalaman dan menciptakan aroma yang sesuai dengan seleranya sendiri.
"Saya bukan pasien, tapi tertarik ikut karena seru aja bisa punya skill baru dan teman baru," kata Nia, menggambarkan daya tarik universal dari kegiatan ini. Proses meracik parfum sendiri dipandu oleh profesional Perfume Workshop, Gita Rinjani, yang didatangkan langsung dari Bogor.
Dalam sesi tersebut, sekitar 25 peserta diajak untuk memahami "ilmu matematika" di balik peracikan parfum. Mereka belajar tentang takaran aroma-aroma yang ingin dicampurkan untuk menghasilkan wangi yang diinginkan, berpedoman pada piramid parfum yang terdiri atas top notes, middle notes, dan base notes. Beragam bibit aroma seperti orange, bergamote, melon, lavender, jasmine, ylang, lili, rose, dark rose, cocobut, white tea, caramel, tobaco, sandalwood, dan banyak lagi, tersedia untuk dieksplorasi.
Pentingnya Berbagi dan Bangkit dari Trauma
Di akhir pelatihan, ada sesi "ruang bercerita" yang menjadi momen krusial bagi para peserta. Di sinilah mereka dapat berbagi kisah dan pengalaman pribadi, serta saling memberi semangat satu sama lain. Sesi ini memperkuat aspek komunitas dan dukungan emosional yang menjadi inti dari workshop ini.
dr. Revit Jayanti mengingatkan bahwa setiap individu pasti mengalami hal-hal berat dalam hidup, seperti penolakan, pengabaian, atau perlakuan tidak menyenangkan, meskipun dengan pola yang berbeda. Ia menekankan pentingnya menempatkan perasaan pada tempatnya. "Jika ingin menangis, menangislah pada tempatnya. Setelah itu, dunia harus terus berjalan. Dunia tidak menunggu kita sampai baik-baik saja, tapi kita harus bangkit setelahnya," pesan dr. Revit.
Ia juga mengingatkan pentingnya bercerita pada orang yang tepat, seperti psikiater, bila menemukan tanda-tanda gangguan psikologis. Selain itu, dr. Revit menekankan agar tidak membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang memiliki waktu dan proses pemulihan yang berbeda-beda.
Sumber: AntaraNews