Ulama Kaltim Ingatkan Umat Islam Hindari Perusak Pahala Puasa Selama Ramadan
Kiai Haji Muhammad Haiban dari Kalimantan Timur mengajak umat Islam menjauhi berbagai perbuatan tercela yang berpotensi menjadi perusak pahala puasa di bulan suci Ramadan, agar ibadah tidak sia-sia.
Kiai Haji Muhammad Haiban, seorang ulama terkemuka dari Kalimantan Timur, menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk sungguh-sungguh menghindari perbuatan tercela. Tindakan-tindakan ini berpotensi merusak pahala ibadah puasa selama bulan suci Ramadan. Ia menekankan pentingnya menjaga esensi spiritual puasa agar tidak menjadi sia-sia.
Dalam kajian subuhnya di Masjid Islamic Center Kalimantan Timur, Samarinda, Kiai Haiban mengibaratkan orang yang hanya menahan lapar dan haus namun tidak mendapat pahala seperti mesin pembuat es yang beroperasi tanpa menghasilkan es. Hal ini menunjukkan bahwa puasa bukan sekadar menahan diri secara fisik.
Ia menjelaskan bahwa ada perbedaan mendasar antara hal-hal yang membatalkan puasa secara fikih dan perbuatan yang hanya menggugurkan ganjaran kebaikan. Memahami perbedaan ini krusial agar umat Islam dapat menjalankan puasa dengan sempurna dan meraih pahala maksimal.
Membedakan Pembatal Puasa dan Perusak Pahala
Secara fikih, terdapat perbedaan jelas antara tindakan yang membatalkan puasa dan perbuatan yang sekadar menggugurkan ganjaran. Sesuatu yang membatalkan puasa akan membuat ibadah rukun Islam keempat ini dianggap tidak sah secara syariat. Ini berarti puasa harus diulang atau diganti.
Contoh pelanggaran yang secara langsung membatalkan puasa adalah aktivitas makan dan minum dengan unsur kesengajaan di siang hari. Namun, apabila seseorang menelan makanan atau minuman karena benar-benar lupa, puasanya tetap dinilai sah dan ia wajib melanjutkan hingga waktu maghrib tiba. Ini menunjukkan keringanan dalam syariat Islam.
Pelanggaran serius lainnya yang membatalkan puasa adalah melakukan hubungan suami istri pada siang hari saat Ramadan. Perbuatan ini tidak hanya membatalkan puasa, melainkan juga mengharuskan pelakunya membayar denda atau kafarat yang berat. Hal ini menegaskan pentingnya menjaga kesucian bulan Ramadan.
Perbuatan yang Mengikis Ganjaran Puasa
Di sisi lain, hal-hal yang tergolong sebagai perusak pahala puasa berkaitan erat dengan ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan lisan dan luapan emosi sehari-hari. Perbuatan ini tidak membatalkan puasa secara sah, namun menghilangkan nilai spiritual dan ganjaran dari ibadah tersebut. Oleh karena itu, menjaga perilaku sangatlah penting.
Mengeluarkan perkataan buruk, kotor, atau jorok merupakan penyebab utama hilangnya esensi spiritual puasa seseorang. Demikian pula, kemarahan tanpa sebab yang logis sangat dilarang, mengingat tujuan utama ibadah menahan lapar ini adalah melatih tingkat kesabaran manusia.
Segala bentuk praktik kedustaan, seperti kecurangan dalam urusan perdagangan maupun pengucapan sumpah palsu di pengadilan, dipastikan menghapus seluruh ganjaran ibadah di mata Tuhan. Kebiasaan mengumpat atau melakukan gibah dengan membicarakan keburukan orang lain, meskipun informasi yang disampaikan adalah fakta, juga diharamkan karena merusak pahala puasa.
Kiai Haiban menyarankan, apabila ada pihak lain yang sengaja memancing pertengkaran, umat Islam sangat dianjurkan untuk menahan amarah. Cukup dengan mengucapkan kalimat penolakan halus berbunyi "saya sedang berpuasa", hal ini dapat meredam potensi kerusakan pahala akibat emosi sesaat. Rasulullah Muhammad SAW telah memberikan tuntunan praktis agar setiap Muslim segera mengambil air wudu ketika sedang marah.
Sumber: AntaraNews