Tim ULM Teliti Keragaman Hayati Hutan Kahung, Ungkap Keunikan Burung Kuau Raja
Tim ULM meneliti keragaman hayati Hutan Kahung, Kalsel. Burung Kuau Raja ditemukan sebagai indikator kesehatan ekosistem dan kekayaan budaya lokal.
Tim peneliti dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM) baru-baru ini melakukan studi lapangan di Hutan Kahung, Desa Belangian, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Penelitian ini berfokus pada keragaman hayati, khususnya pelacakan keberadaan Burung Kuau Raja (Argusianus argus) yang oleh masyarakat setempat disebut burung haruai atau merak hutan Kahung.
Dr. Amalia Rezeki, seorang Biologist Conservation ULM dan ketua tim, menyatakan bahwa studi ini bertujuan untuk mengumpulkan data penting mengenai spesies langka tersebut. Kehadiran burung kuau raja menjadi indikator vital bagi kesehatan ekosistem hutan hujan tropis di kawasan Meratus UNESCO Global Geopark.
Penelitian ini juga melibatkan Pusat Studi & Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia, menunjukkan kolaborasi dalam upaya pelestarian. Kemunculan burung kuau raja yang menggembirakan menjadi bukti bahwa hutan Kahung masih memiliki ekosistem yang terjaga dengan baik.
Indikator Kesehatan Ekosistem Hutan Kahung
Kehadiran Burung Kuau Raja di Hutan Kahung menjadi sinyal positif bagi para peneliti. Spesies ini dianggap sebagai indikator biologi yang kuat untuk menilai kesehatan ekosistem hutan hujan tropis. Dr. Amalia Rezeki menekankan pentingnya temuan ini dalam konteks konservasi.
Hutan Kahung sendiri merupakan bagian dari situs Meratus UNESCO Global Geopark, yang menambah nilai strategis penelitian ini. Kekayaan hayati di kawasan ini, termasuk burung kuau raja, menjadi aset berharga yang perlu dilindungi dan dipelajari lebih lanjut.
Penelitian ini tidak hanya mengidentifikasi keberadaan burung, tetapi juga mengumpulkan data perilaku dan habitatnya. Informasi ini krusial untuk perumusan strategi konservasi yang efektif di masa mendatang.
Keunikan Burung Kuau Raja dan Ritual Kawinnya
Burung Kuau Raja dikenal memiliki karakteristik fisik dan perilaku yang sangat khas. Jantan memiliki ukuran tubuh yang mencolok, bisa mencapai 120 hingga 200 sentimeter, jauh lebih besar dari betina yang sekitar 75 sentimeter. Bulu ekornya dapat memanjang hingga lebih dari satu meter.
Salah satu daya tarik utamanya adalah ritual kawin yang unik. Pejantan akan membersihkan lantai hutan dari dedaunan, menciptakan apa yang disebut "mating ring". Di area ini, pejantan akan memamerkan tarian sunyi dengan sayap lebar berbentuk kipas.
Sayap tersebut dihiasi pola menyerupai ratusan mata, yang berfungsi untuk memikat sang betina. Pameran bulu ekor yang dimekarkan membentuk kipas raksasa mirip merak juga menjadi bagian integral dari ritual memikat pasangannya.
Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pelestarian
Kepala Desa Belangian, Aunul, membenarkan bahwa warga sering melihat kemunculan Burung Kuau Raja di ketinggian sekitar 500 hingga 700 meter di atas permukaan laut (MDPL). Masyarakat setempat memiliki ikatan kuat dengan alam dan burung ini.
Masyarakat Belangian memiliki ritual khusus yang terhubung dengan keberadaan burung kuau raja, menunjukkan kearifan lokal dalam merawat alam. Hal ini mendorong mereka untuk sangat menjaga kelestarian hutan dan isinya melalui praktik-praktik tradisional.
Dayat, Ketua Pokdarwis Kahung Raya, menambahkan bahwa burung haruai bukan hanya indah, tetapi juga dipercaya memiliki manfaat. Bulu yang rontok diyakini dapat digunakan sebagai bahan "marabun", yang asapnya ampuh sebagai obat penyembuh hama dan penyakit pada tanaman padi gunung di desa.
Harapan Konservasi untuk Masa Depan
Dayat mengungkapkan harapan besar agar kepedulian terhadap kelestarian Burung Kuau Raja tidak hanya datang dari masyarakat Belangian. Ia mengajak masyarakat luas untuk turut serta menjaga keanekaragaman hayati, khususnya burung haruai.
Upaya konservasi ini penting agar generasi mendatang masih dapat menyaksikan keindahan dan keunikan burung kuau raja. Berbagi cerita dan harapan menjadi kunci untuk memastikan kelangsungan hidup spesies ini di habitat aslinya.
Melalui penelitian ilmiah dan dukungan kearifan lokal, Hutan Kahung diharapkan dapat terus menjadi rumah bagi Burung Kuau Raja, sekaligus menjadi contoh keberhasilan konservasi yang melibatkan berbagai pihak.
Sumber: AntaraNews