Terungkap! Mengapa Identifikasi 3 Korban Heli Jatuh Kalsel WNA Lebih Cepat Selesai Dibanding WNI?
Tiga jasad WNA korban heli jatuh di Kalimantan Selatan telah teridentifikasi dan siap dipulangkan. Simak alasan di balik cepatnya proses identifikasi korban heli jatuh ini.
Tim Identifikasi Korban Bencana (DVI) Kepolisian Daerah Kalimantan Selatan (Polda Kalsel) telah mengumumkan kabar penting terkait kecelakaan helikopter BK117 D3. Tiga jasad warga negara asing (WNA) yang menjadi korban insiden nahas tersebut kini telah berhasil diidentifikasi sepenuhnya. Keluarga korban diizinkan untuk mengambil jenazah mulai Minggu, 7 September, dari Rumah Sakit Bhayangkara Banjarmasin.
Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Kalsel, Kombes Pol dr Muhammad El Yandiko, menyampaikan informasi ini dalam konferensi pers Operasi DVI Polri. Beliau menyatakan bahwa proses pengambilan jasad diserahkan sepenuhnya kepada kewenangan masing-masing pihak keluarga. Kepastian ini memberikan kelegaan bagi keluarga korban yang telah menanti.
Kecelakaan helikopter BK117 D3 terjadi di kawasan hutan Desa Emil Baru, Mentewe, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Insiden ini menewaskan delapan orang, terdiri dari tiga WNA dan lima WNI. Proses identifikasi jasad WNA telah rampung pada Sabtu sore, 6 September, sekitar pukul 17.00 WITA, setelah diterima pada Jumat dini hari.
Proses Identifikasi Cepat WNA
Proses identifikasi jasad WNA korban heli jatuh di Kalimantan Selatan dapat diselesaikan lebih cepat dibandingkan jasad WNI. Hal ini dijelaskan oleh Kombes Pol dr Muhammad El Yandiko, yang menyebutkan beberapa faktor kunci. Kondisi jasad WNA yang relatif lebih baik menjadi salah satu penyebab utama percepatan identifikasi.
Selain itu, kelengkapan catatan medis jasad WNA juga sangat membantu tim DVI dalam proses identifikasi. Data seperti rontgen gigi dan properti yang melekat pada tubuh korban memudahkan pencocokan. Properti yang mudah dikenali seperti tato, tindik telinga, bekas operasi, cincin, atau kalung menjadi petunjuk penting bagi tim.
Yandiko menekankan bahwa identifikasi melalui properti atau tanda khusus pada badan yang tidak hilang sangat membantu. Ia mencontohkan, "Misal ada jam tangan yang tidak melekat di badan saat kecelakaan, ini bisa petunjuk ditanya ke keluarga. Termasuk dompet, menunjukkan identitas, bisa dibaca dengan mudah." Hal ini mempercepat proses verifikasi identitas korban.
Kendala Identifikasi WNI dan Metode DVI
Berbeda dengan jasad WNA, lima jasad WNI korban heli jatuh masih dalam proses identifikasi hingga saat ini. Kondisi jasad WNI yang cukup parah terbakar menjadi kendala utama dalam proses identifikasi. Kerusakan pada kulit dan jaringan tubuh membuat properti sulit dikenali dan catatan medis menjadi lebih krusial.
Yandiko menjelaskan bahwa beberapa properti cukup sulit dikenali jika kondisi tubuh rusak dalam kondisi membusuk tingkat lanjut. Oleh karena itu, catatan gigi menjadi sangat membantu dalam kasus ini. Identifikasi juga diperkuat dengan keterangan dan pembuktian dari pihak keluarga korban, terutama terkait properti yang melekat di badan dan tidak rusak.
"Jadi catatan gigi sangat membantu. Kemudian properti juga akan sangat menguatkan karena jasad mudah dikenali dengan keterangan dan pembuktian dari pihak keluarga korban, properti yang melekat di badan dan tidak rusak," ujarnya. Tim DVI terus bekerja keras untuk menyelesaikan identifikasi seluruh korban.
Kronologi Penemuan dan Evakuasi
Kecelakaan helikopter BK117 D3 ini melibatkan delapan korban, termasuk pilot Kapten Haryanto dari Batam, teknisi Hendra Darmawan dari Luwu, dan enam penumpang. Penumpang WNA meliputi Mark Werren (Australia), Santha Kumar Prabhakaran (India), dan Claudine Pereira Quito (Brasil). Sementara penumpang WNI adalah Iboy Irfan Rosa (Riau), Yudi Febrian Rahman (Pekan Baru), dan Andys Rissa Pasulu (Balikpapan).
Bangkai helikopter ditemukan oleh Tim SAR pada Rabu, 3 September, sekitar pukul 14.45 WITA. Lokasi penemuan berada di titik 03° 5’6” S – 115° 37’39.07” E, di kawasan hutan sekitar Desa Emil Baru, Kecamatan Mentewe, Tanah Bumbu, Kalsel. Helikopter tersebut hilang kontak sejak Senin, 1 September, sekitar pukul 08.54 WITA.
Penemuan bangkai helikopter berada pada jarak sekitar 700 meter dari titik koordinat yang sebelumnya diberikan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Pejabat On Scene Commander (OSC) segera mengerahkan seluruh Search and Rescue Unit (SRU) darat menuju lokasi. Proses evakuasi seluruh jasad berhasil diselesaikan pada Kamis, 4 September, malam sekitar pukul 21.50 WITA.
Sumber: AntaraNews