TB Berau Coal 118 pulang ke Indonesia dikawal kapal perang Filipina
Kabarnya mereka akan sampai dalam tujuh hari, jika cuaca cerah.
Tugboat Berau Coal 118 milik PT Rusianto Bersaudara, segera pulang ke Indonesia setelah dipastikan mendapat pengawalan kapal perang Filipina. Kapal tunda itu terpaksa tertahan di Filipina, pascainsiden penculikan awak TB Charles pada 22 Juni lalu.
Delike (37), istri ABK Berau Coal 118 Fenti Tamamilang (40) mengatakan, kepastian kepulangan itu disampaikan suaminya tadi pagi. Dalam komunikasi BlackBerry Messenger, Fenti mengatakan, dia dan sepuluh ABK lainnya segera pulang ke Indonesia dengan tujuan Samarinda, Kalimantan Timur, setelah mendapatkan jaminan keamanan dari militer Filipina.
"Dikawal dari Negros sampai Basilan, diamankan dari militer Filipina sampai ke perbatasan (perairan Malaysia-Filipina dan Indonesia)," kata Delike, saat berbincang bersama wartawan, di mes karyawan PT Rusianto Bersaudara, Sungai Lais, Rabu (3/8).
Delike menerangkan, suaminya berangkat ke Filipina sejak 4 Juni lalu. Sebagai Mualim II, Fenti memang sering bolak-balik ke Filipina sejak 1995.
"Kemarin 4 Juni itu berangkat dari Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Pulang nanti belum dipastikan tanggalnya, tapi segera pulang langsung ke Samarinda," ujar Delike.
"Biasanya kalau suami saya ke Filipina, paling lama 1 bulan, itu sudah termasuk cuaca buruk di laut. Per tanggal 4 Agustus besok, genap 2 bulan bertugas di kapal, tertahan pulang," tambah Delike.
Menurut Delike, waktu tempuh pelayaran paling cepat dari Filipina ke Samarinda mencapai tujuh hari. Jika ada hambatan cuaca di tengah laut, bisa mulur hingga sepuluh hari. Pascainsiden penculikan dan penyanderaan TB Charles, Delike mengaku khawatir nasib suaminya dan ABK lainnya di atas kapal Berau Coal 118.
"Tentu khawatir banget pasti lah. Kan suami saya belum pulang, masih di Filipina," sebut Delike.
Putri semata wayang Delike dan Fenti Tamamilang, Elisya Virgina Tamamilang (12), mengaku sudah rindu dengan ayahnya bertugas selama dua bulan ini.
"Ya kangen lah. Telepon jarang, seringnya BBM saja," tutup Virgina.
Baca juga:
Lemahnya UU akar masalah penculikan ABK di Laut Filipina
Resah menanti nasib awak TB Charles
Keamanan Laut Sulu dan Abu Sayyaf belum jadi perhatian di ASEAN
Pemerintah tanggapi serius ancaman Abu Sayyaf bunuh sandera WNI
Menhan Indonesia, Malaysia & Filipina bahas keamanan maritim di Bali
Ini enam poin hasil pertemuan Menhan RI, Malaysia & Filipina di Bali