Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Resah menanti nasib awak TB Charles

Resah menanti nasib awak TB Charles Keluarga ABK korban sandera Abu Sayyaf. ©2016 merdeka.com/nur aditya

Merdeka.com - Lebih dari sebulan para perempuan itu gundah. Mereka gelisah karena saban hari selalu diliputi rasa cemas akan keselamatan suami mereka yang bekerja sebagai awak kapal tunda Charles.

Dian Megawati Ahmad dan Elona Ramadhani ingin ada secercah harapan terkait penyanderaan suami mereka, Ismail dan Robin Pieter. Sebab, tekanan saat ini semakin berat lantaran kelompok penyandera Al Habsy Misaya mulai mengancam. Gertakan itu tak boleh dianggap remeh. Rekam jejak menyatakan, sudah beberapa sandera meregang nyawa lantaran upaya pembebasan dianggap terlampau lama.

Menurut Dian, gerombolan itu mengancam bakal memancung para sandera, jika tebusan tak dibayar. Mereka kini meminta uang PHP 250 juta, buat empat tawanan. Mereka pantas cemas, sebab hingga kini tidak pernah menerima kepastian tentang usaha pembebasan itu.

"Ini adalah hari ke-39 suami dan keluarga kita disandera. Kenapa sandera ABK Brahma dan Henry tempo hari, bisa lebih cepat? Kenapa ABK Charles lamban?" kata Elona.

"Iya, sekian lama hari demi hari berjalan, tentu dikatakan kita bersabar, bosan juga. Untuk itu kami ingin menemui langsung pemerintah, yang katanya mengupayakan pembebasan," timpal Dian.

Kondisi fisik empat sandera pun menurun, lantaran sering berpindah lokasi. Mereka juga makan seadanya.

"Iya dari suaranya di telepon, mereka (keempat korban sandera Ismail, M Nasir, Robin Piter dan M Sofyan) tidak seperti biasanya. Mereka makan yang ada saja, singkong dan kelapa," ucap Dian.

Dikarenakan lokasi yang berpindah-pindah, fisik pun menurun, dan tidak lagi tahu di mana keberadaan tiga sandera lainnya. Dian menerangkan, kondisi keempatnya lemas dan tertekan. Di ujung telepon sambungan internasional ke Filipina, Ismail mengatakan, dia dan tiga sandera lainnya, dalam kondisi sakit. Terlebih lagi, Muhammad Nasir, pria paruh baya itu mengalami infeksi di kakinya.

"Suami saya bilang, semua sudah sakit. Pak Nasir kakinya infeksi. Mereka minta perusahaan, pemerintah, segera bebaskan mereka. Segera saja (dibebaskan)," ujar Dian.

"Durasi telepon saya lumayan 15 menit 28 detik. Suami saya tidak bilang sakitnya apa. Cuma dari suaranya tidak seperti biasanya, sudah kondisi lemas," tambah Dian.

"Mereka tidak sebutkan lokasinya berada di mana. Yang jelas tidak bersama tiga sandera lainnya (kapten Ferry Arifin, Mabrur dan Edi Suryono). Tidak tahu di mana ketiga orang lainnya itu," terang Dian.

Dalam pembicaraan telepon dengan penyandera, penyandera kembali menegaskan permintaan tebusan 250 juta peso Filipina, untuk menebus keempat orang itu.

"Tidak memberi tenggat waktu, cuma minta secepatnya. Suami saya juga menyampaikan, secepatnya uang disiapkan sebelum terjadi sesuatu," sebut Dian.

Kemarin, mereka bertolak ke Jakarta buat bertemu beberapa pihak. Mereka berharap tatap muka itu menghasilkan kemajuan, dan tidak sekedar janji.

(mdk/ary)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP