Tahukah Anda? Transmigrasi Lahirkan 3 Provinsi, Ini 4 Amanat Presiden Prabowo untuk Calon Transmigran
Wakil Menteri Transmigrasi membeberkan 4 amanat Presiden Prabowo Subianto kepada calon transmigran. Program transmigrasi disebut krusial untuk kedaulatan dan ekonomi. Simak selengkapnya!
Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi, membeberkan empat amanat penting dari Presiden Prabowo Subianto kepada para calon transmigran. Amanat ini disampaikan dalam pembekalan di Balai Besar Pelatihan dan Pemberdayaan Masyarakat Transmigrasi (BBPPMT) Yogyakarta pada Sabtu, 1 November.
Pembekalan tersebut dihadiri oleh 75 calon transmigran Angkatan IV dan V Tahun 2025 yang akan segera diberangkatkan. Presiden Prabowo menekankan peran krusial program transmigrasi dalam menjaga kedaulatan bangsa dan mendorong lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
Pesan-pesan strategis ini bertujuan untuk mempersiapkan para calon transmigran agar memahami misi besar di balik program pemerintah. Mereka diharapkan dapat berkontribusi aktif dalam pembangunan nasional di wilayah penempatan baru.
Memperkuat Kedaulatan dan Nasionalisme Bangsa
Amanat pertama Presiden Prabowo Subianto, yang disampaikan oleh Wamentrans Viva Yoga Mauladi, adalah untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Program transmigrasi dinilai efektif mengisi ruang-ruang kosong di daerah terpencil.
"Pertama untuk menjaga NKRI. Karena, dengan berpindahnya penduduk dari yang padat ke daerah yang longgar akan menempati tanah-tanah yang kosong, ruang-ruang yang sepi, agar tidak ada penetrasi, tidak ada intervensi dari luar, yang bisa mengambil alih tanah dan air Indonesia," ujar Viva Yoga.
Selain itu, program transmigrasi juga berfungsi memperkuat semangat kebangsaan melalui interaksi beragam suku, agama, dan budaya di lokasi penempatan. Viva Yoga menegaskan bahwa perbedaan tersebut harus dipandang sebagai kekayaan, bukan sumber konflik, sehingga transmigrasi menjadi garda terdepan dalam merajut nasionalisme.
Mengentaskan Kemiskinan Melalui Reforma Agraria
Amanat kedua Presiden berfokus pada upaya pengentasan kemiskinan melalui skema reforma agraria. Setiap transmigran akan mendapatkan lahan seluas satu hingga dua hektare yang diharapkan menjadi sumber penghidupan baru bagi mereka.
Negara memiliki tanggung jawab penuh untuk mendukung perubahan nasib warga transmigrasi. "Ada perubahan dalam pendapatan, sehingga diharapkan bapak, ibu menjadikan tanah bukan sekadar tempat hidup, tempat permukiman, tetapi menjadikan sebagai sumber ekonomi untuk perubahan nasib," kata Viva Yoga.
Peserta transmigrasi juga menerima jaminan hidup dari pemerintah selama 1 hingga 1,5 tahun di awal penempatan. Bantuan ini bertujuan agar mereka dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan memulai usaha berbasis lahan secara optimal.
Kontribusi Transmigrasi pada Swasembada Pangan dan Ekonomi Baru
Amanat ketiga Presiden Prabowo menyoroti kontribusi signifikan program transmigrasi terhadap swasembada pangan nasional. Banyak kawasan transmigrasi yang telah berkembang menjadi sentra produksi pangan utama, khususnya beras.
"Sebagian besar kawasan transmigrasi itu menjadi lumbung pangan nasional," jelas Viva Yoga, menunjukkan keberhasilan program dalam mendukung ketahanan pangan. Ini membuktikan bahwa transmigrasi bukan hanya solusi sosial, tetapi juga strategis untuk ekonomi.
Amanat keempat adalah melahirkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah tujuan transmigrasi. Kehadiran penduduk dan aktivitas ekonomi di wilayah-wilayah ini secara otomatis memicu perkembangan infrastruktur dan layanan publik.
Sejak era Presiden Soekarno, program transmigrasi telah berhasil melahirkan 1.567 desa definitif, 464 kecamatan, 116 kabupaten/kota, bahkan tiga provinsi baru, yaitu Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, dan Papua Selatan. Ini menunjukkan dampak jangka panjang transmigrasi.
Persiapan dan Harapan untuk Calon Transmigran
Viva Yoga berharap para calon transmigran memiliki tekad kuat untuk menghadapi proses adaptasi dan pembangunan di wilayah yang masih berkembang. Perubahan nasib sangat bergantung pada kemauan dan kerja keras individu.
"Sebagai warga transmigrasi baru, itu harus punya keyakinan bahwa perubahan nasib itu harus ada di tangan kita sendiri," tegasnya. Semangat kemandirian ini menjadi kunci keberhasilan para transmigran di lokasi baru.
Direktur Jenderal Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Transmigrasi, Sigit Mustofa Nurudin, menambahkan bahwa 75 kepala keluarga (KK) yang dilatih di BBPPMT Yogyakarta adalah peserta program transmigrasi lokal. Mereka akan ditempatkan di Torire, Poso, dan Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan.
Menariknya, lima dari peserta tersebut adalah anggota TNI Angkatan Darat (AD) aktif yang berasal dari wilayah penempatan dan akan memasuki masa pensiun. Program transmigrasi untuk anggota TNI ini sudah ada sejak lama dan diatur agar mereka resmi menjadi warga transmigran setelah purnatugas.
Sumber: AntaraNews