Tahukah Anda? Material Daur Ulang Jadi Kunci Utama Wujudkan Bangunan Gedung Hijau Ramah Lingkungan
Mewujudkan bangunan gedung hijau tak melulu soal tanaman, tetapi dimulai dari pemilihan material. Temukan bagaimana material daur ulang berperan penting dalam konstruksi berkelanjutan!
Konsep bangunan gedung hijau kini semakin relevan di tengah isu perubahan iklim global. Para ahli menekankan bahwa upaya mewujudkan struktur ramah lingkungan ini tidak hanya terbatas pada desain visual semata, melainkan juga berakar pada pemilihan material yang digunakan.
M. Deni Desvianto, seorang arsitek sekaligus Project Director Pandega Desain Weharima (PDW), mengungkapkan bahwa langkah awal menuju bangunan hijau bisa dimulai dari penggunaan material yang mendukung program tersebut. Hal ini disampaikannya di Jakarta pada Selasa (07/10), menyoroti pentingnya aspek fundamental dalam konstruksi.
Pendapat ini diperkuat oleh Berlina Winata, Associate Structural Engineer di ARUP, yang melihat potensi penerapan konsep hijau tidak hanya pada bangunan, tetapi juga pada proyek infrastruktur. Kedua pakar ini sepakat bahwa inovasi material menjadi elemen krusial dalam menciptakan lingkungan binaan yang lebih berkelanjutan.
Inovasi Material Daur Ulang untuk Bangunan Berkelanjutan
Deni Desvianto menjelaskan, penggunaan material daur ulang merupakan salah satu cara efektif untuk mendukung pembangunan berkelanjutan. Sebagai contoh, "conblock" atau blok beton pracetak yang terbuat dari sampah dapat memiliki daya serap air yang tinggi.
Ia menambahkan, "Misalnya dari bahan daur ulang. Contoh 'conblock' (blok peton pracetak), dibuat dari sampah. Tetapi daya serapnya tinggi. Jadi air kalau di atas jatuh ke atas 'conblock' langsung meresap ke tanah." Inovasi semacam ini menunjukkan bahwa material limbah dapat diubah menjadi komponen bangunan yang fungsional dan ramah lingkungan.
Lebih lanjut, Deni menekankan bahwa "green building" tidak hanya berarti bangunan yang berwarna hijau atau dipenuhi tanaman. Konsep ini mencakup berbagai aspek pengolahan di dalamnya, termasuk penggunaan material, konsumsi air, indeks interior yang memengaruhi kenyamanan internal, hingga pengelolaan manajemen bangunan secara keseluruhan.
Konsep Hijau Meluas ke Infrastruktur: Jalan Tol dan Terowongan
Berlina Winata memperluas pandangan tentang penerapan konsep hijau tidak hanya pada gedung, tetapi juga pada proyek infrastruktur berskala besar. Ia mencontohkan, jalan tol, jembatan, atau bahkan terowongan memiliki potensi besar untuk diintegrasikan dengan prinsip-prinsip bangunan hijau.
Menurut Berlina, penting untuk mempertimbangkan penggunaan "materi-materi yang rendah karbon untuk jalan tol." Selain itu, optimasi penggunaan energi juga menjadi fokus utama, terutama pada fasilitas seperti terowongan yang membutuhkan pencahayaan dan ventilasi terus-menerus.
Dalam konteks pembangunan jalan, Berlina menyarankan untuk mencari alternatif material selain aspal yang lebih ramah lingkungan. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara konsultan, arsitek, dan akademisi untuk mengembangkan serta mengimplementasikan material-material baru yang mampu mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan.
Pendekatan holistik ini menunjukkan bahwa upaya menuju keberlanjutan harus mencakup seluruh spektrum pembangunan, dari skala terkecil hingga proyek infrastruktur raksasa. Dengan demikian, "Material Bangunan Hijau" akan menjadi pondasi bagi masa depan yang lebih lestari.
Sumber: AntaraNews