Tahukah Anda? Harga Alat Musik Dambus Bisa Capai Rp2 Juta, MKAN Minta Pemerintah Bina Perajinnya
Majelis Kerapatan Adat Negeri (MKAN) Pangkalpinang mendesak pemerintah membina perajin alat musik dambus yang kian langka demi lestarinya warisan budaya ini. Mengapa pembinaan ini krusial?
Majelis Kerapatan Adat Negeri (MKAN) Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, baru-baru ini menyuarakan keprihatinan mendalam. Mereka mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret dalam membina perajin alat musik dambus.
Langkah ini dianggap krusial demi menjaga kelestarian musik tradisional khas daerah tersebut yang kini menghadapi ancaman kepunahan. Ketua Harian MKAN Kota Pangkalpinang, Datuk Randindo Arsalim, mengungkapkan bahwa jumlah perajin dambus semakin menyusut.
Kondisi ini tidak hanya mengancam keberadaan alat musiknya, tetapi juga masa depan musik dambus itu sendiri. Pembinaan diharapkan dapat menumbuhkan kembali minat serta keahlian dalam membuat dan memainkan alat musik unik ini.
Tantangan Pelestarian Alat Musik Dambus di Bangka Belitung
Pelestarian alat musik dambus menghadapi berbagai tantangan serius yang perlu segera diatasi. Salah satu faktor utama adalah berkurangnya jumlah perajin yang memiliki keahlian khusus dalam membuat instrumen ini.
Datuk Randindo Arsalim menyatakan, "Saat ini perajin alat musik dambus semakin berkurang, sehingga dapat mengancam pelestarian musik tradisional ini." Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi pembinaan agar keahlian tersebut tidak hilang ditelan zaman.
Selain kelangkaan perajin, minimnya minat masyarakat untuk membeli alat musik dambus juga menjadi kendala. Harga yang relatif tinggi, dengan gitar dambus paling murah mencapai Rp2 juta, menjadi salah satu penyebab utama rendahnya daya beli.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan, di mana kurangnya permintaan berdampak pada berkurangnya produksi dan pada akhirnya mengancam keberadaan alat musik tradisional ini.
Keunikan dan Tingginya Nilai Seni Dambus
Alat musik dambus memiliki keunikan tersendiri yang membedakannya dari instrumen lain, menjadikannya warisan budaya yang patut dilestarikan. Ciri khas utama terletak pada desain ujung gitar yang harus berukiran kepala rusa atau pelanduk.
Proses pengerjaannya pun dilakukan secara manual, membutuhkan ketelitian dan keahlian tinggi dari para perajin. "Gitar dambus daerah ini memiliki ciri khas, yaitu di ujung gitar harus berukiran kepala rusa atau pelanduk dan pengerjaannya dilakukan secara manual," jelas Datuk Randindo Arsalim.
Tingkat kesulitan dalam pembuatan alat musik dambus membuat hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menguasai tekniknya. Keahlian ini tidak dapat dipelajari secara instan, melainkan melalui proses panjang dan dedikasi.
Oleh karena itu, setiap alat musik dambus yang dihasilkan tidak hanya bernilai sebagai instrumen, tetapi juga sebagai karya seni yang sarat akan nilai budaya dan sejarah lokal.
Peran Pemerintah dalam Menjaga Warisan Dambus
Melihat kondisi yang ada, peran aktif pemerintah daerah sangat dibutuhkan untuk memastikan kelangsungan alat musik dambus. Pembinaan tidak hanya ditujukan kepada perajin, tetapi juga kepada seniman dambus.
Pembinaan ini bertujuan untuk melestarikan dan memasyarakatkan musik tradisional di kalangan generasi muda. "Pembinaan kepada perajin dan seniman dambus ini sangat penting dalam melestarikan dan memasyarakatkan musik tradisional di kalangan generasi muda di daerah ini," tegas Datuk Randindo Arsalim.
Pemerintah diharapkan dapat menyusun program-program yang mendukung regenerasi perajin dan seniman, seperti pelatihan, workshop, atau bahkan subsidi untuk produksi alat musik. Selain itu, promosi musik dambus melalui acara budaya atau festival juga dapat meningkatkan minat masyarakat.
Dengan adanya dukungan penuh dari pemerintah, diharapkan alat musik dambus tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat berkembang dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Bangka Belitung.
Sumber: AntaraNews