Sidang Lanjutan, Nadiem Makarim Minta Maaf dan Akui Kurang Paham Budaya Birokrasi
Dalam pernyataannya, Nadiem menyinggung cara kepemimpinannya yang mungkin dianggap terlalu berani dan tidak mempertimbangkan etika birokrasi.
Mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Nadiem Makarim, menyampaikan pernyataan yang penuh emosi saat melakukan sesi wawancara singkat di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat beberapa waktu lalu. Setelah menghabiskan tujuh bulan dalam tahanan, Nadiem memutuskan untuk merenungkan diri dan meminta maaf kepada publik serta para tokoh politik.
"Terima kasih teman-teman media. Saya hari ini mau bercerita sedikit. Saya sudah 7 bulan di penjara dan walaupun alhamdulillah saya bersyukur bahwa semua tuduhan tidak terbukti," ungkap Nadiem dalam wawancaranya.
Dalam pernyataannya, Nadiem menyinggung cara kepemimpinannya yang mungkin dianggap terlalu berani dan tidak mempertimbangkan etika birokrasi yang ada. "Saya ingin mengakui ini, bahwa saya masuk mungkin tidak selalu menghormati budaya birokrasi. Saya bawa banyak sekali orang dari luar masuk ke dalam, para profesional muda yang mungkin menciptakan gesekan-gesekan," tambahnya.
Nadiem juga mengakui bahwa sikapnya yang terlalu menekankan profesionalisme dalam bekerja membuatnya kurang memperhatikan aspek politik dan sosial. "Saya mungkin kurang santun dalam cara penyampaian saya. Saya kurang menghormati dan kurang sowan kepada tokoh-tokoh, baik masyarakat maupun politik. Saya salah tidak memahami bahwa sebagian dari tugas saya adalah fungsi politik," jelasnya.
Mohon Maaf Atas Kesalahan
Nadiem menyadari bahwa selama menjabat, terdapat ucapan atau tindakan yang mungkin telah menyinggung banyak pihak. Dengan sikap yang rendah hati, ia mengungkapkan permohonan maaf yang tulus.
"Untuk itu saya ingin sekali mohon maaf. Saya ingin mohon maaf sebesar-besarnya kalau ada ucapan-ucapan atau perilaku saya pada saat menjadi Menteri yang tidak berkenan," ungkapnya.
Selama tujuh bulan terpisah dari keluarga dan anak-anak, Nadiem mengakui bahwa masa tersebut sangatlah berat. Namun, ia tetap optimis dan mendapatkan inspirasi dari tokoh-tokoh sejarah Indonesia yang pernah mengalami pengorbanan yang lebih besar darinya.
"Hal itu memberikan saya kekuatan, memberikan saya inspirasi, dan itulah alasan kenapa bahkan dalam situasi terpuruk seperti ini, saya masih optimis. Saya masih mencintai negara saya, saya percaya ujungnya keadilan itu masih menjadi azas dasar dari negara Indonesia yang saya cintai ini," tutup Nadiem.