Riset Berbasis AI Ungkap Fakta Mencengangkan, Ternyata Segini Tingkat Kepercayaan Publik Terhadap Pemerintah
Temuan itu berdasarkan hasil penelitian dilakukan DEPP Intelligence Research.
Democracy and Election Empowerment Partnership (DEEP) Intelligence Research mengungkap hasil riset tahunan berbasis Artificial Intelligence (AI) terkait kepercayaan publik terhadap pemerintah sepanjang 2025.
Hasil penelitian dilakukan DEPP Intelligence Research mengungkapkan bahwa publik mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah.
Direktur DEEP Intelligence Research, Neni Nur Hayati menjelaskan hasil riset berbasis AI menunjukkan bahwa sepanjang 2025 dinamika politik Indonesia dipenuhi kegelisahan publik, mulai dari kontroversi RUU TNI, pembatasan kebebasan berpendapat hingga menguatnya sentimen politik dinasti.
Menurut Neni, hasil riset DEEP Intelligence itu mencatat total 174.730 dari pemberitaan media siber, cetak, dan elektronik. Seluruh berita, artikel, dan opini dikurasi melalui basis data media daring terverifikasi, transkrip siaran berita elektronik, serta kliping media cetak.
Dia mengatakan, pemberitaan media massa Prabowo Subianto mayoritas pemberitaan media daring (online), dengan gelombang pemberitaan terbesar beredar pada periode Januari 1 Desember 2025 oleh program Makan Bergizi Gratis, Pemberantasan Korupsi dan Hukum.
"Media sosial menjadi kanal utama masyarakat menyampaikan kekecewaan. Algoritma yang mempercepat penyebaran konten emosional membuat isu-isu bernada negatif berkembang pesat," kata Neni di Rumah Perubahan, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (2/12).
Media Sosial Tempat Keluh Kesah
Wacana pengesahan revisi UU TNI, koalisi gemuk, di sisi lain, pidato Prabowo di podium Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan keterlibatan Prabowo dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Gaza juga menjadi salah satu penopang utama sentimen positif terhadap pemerintah. Meski pidato Prabowo mendapat sambutan positif, publik tetap menilai Indonesia belum bersikap tegas dalam membela Palestina.
"Media sosial sering menjadi tempat di mana masyarakat lebih bebas menyampaikan keluh kesah, kritik, atau ketidakpuasan. Algoritma media sosial juga cenderung mempercepat penyebaran konten yang memicu emosi kuat,” ujar Neni.
Hasil Percakapan di Media Sosial
Percakapan publik di media sosial juga menunjukan pola yang fluktuatif sepanjang tahun, terutama terkait isu politik, demokrasi, penegakan hukum, hingga kebebasan sipil.
Data DEEP Intelligence mencatat bahwa sejumlah peristiwa seperti percepatan pengesahan RUU TNI, polarisasi politik menjadi pemicu gelombang diskusi yang memuncak di ruang digital.
Artikel ini ditulis reporter magang: Mochamad Aidil Akbar