Resmikan Migrant Service Center, Menteri P2MI Sorot Penguatan Soft Skills
Ia menegaskan bahwa kementerian yang dipimpinnya memiliki mandat khusus untuk menangani seluruh siklus Pekerja Migran Indonesia (PMI).
Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesa (P2MI) Mukhtarudin bersama Rektor Universitas Hasanuddin meresmikan Migrant Service Centre (MSC) di Hotel Unhas & Convention, Kamis (13/11). Pemerintah saat ini mengedepankan perlindungan bagi pekerja migran.
“Presiden Prabowo memberikan perhatian besar terhadap perlindungan pekerja migran Indonesia, mulai dari tahap pra-penempatan hingga pasca-kepulangan. Pendekatan ini menjadi dasar penguatan sistem perlindungan dari hulu ke hilir,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya pembekalan soft skills dalam proses persiapan calon pekerja migran sebagai faktor penentu keberhasilan di dunia kerja internasional.
“Kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh aspek keilmuan, tetapi juga kemampuan beradaptasi, komunikasi, dan etika kerja. Karena itu, penguatan soft skills perlu menjadi bagian integral dalam program pelatihan,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa kementerian yang dipimpinnya memiliki mandat khusus untuk menangani seluruh siklus Pekerja Migran Indonesia (PMI).
“Kami fokus pada pemberdayaan dan perlindungan dari hulu hingga hilir bagi pekerja migran Indonesia,” ungkapnya.
Presiden Prabowo Menekankan Dua Fokus Utama
Lebih lanjut, Mukhtarudin menyampaikan bahwa Presiden menekankan dua fokus utama yang harus menjadi perhatian kementerian, yakni peningkatan kualitas perlindungan PMI sebelum, selama, dan setelah bekerja di luar negeri.
"Kedua, peningkatan kualitas dan kapasitas calon PMI melalui pendidikan vokasi serta peningkatan keterampilan (upskilling) untuk mendorong penempatan pekerja migran terampil," bebernya.
Mukhtarudin juga mengungkapkan bahwa pihaknya tengah menyusun ekosistem terintegrasi bagi pekerja migran Indonesia, yang memadukan aspek perlindungan, layanan, hingga peningkatan kompetensi.
“Kami sedang merancang dan mengelola ekosistem yang terintegrasi bagi pekerja migran Indonesia. Tentu kami juga akan meminta masukan dari perguruan tinggi,” jelasnya.
Di akhir pemaparannya, dia berharap pekerja migran Indonesia dapat tersebar di berbagai sektor dan wilayah dengan kompetensi yang semakin baik, sehingga mampu berdaya saing ditingkat global.
Mempersiapkan Tenaga Profesional Indonesia
Sementara Rektor Unhas, Prof Jamaluddin Jompa, menegaskan bahwa pendirian MSC merupakan komitmen Unhas. Prof JJ mengaku perlu memperkuat peran strategis Unhas sebagai knowledge institution yang berkontribusi langsung terhadap pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berdaya saing global.
“Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya kami dalam mempersiapkan tenaga profesional Indonesia. Setiap proses persiapan harus didukung secara menyeluruh agar menghasilkan sumber daya yang kompeten dan siap bersaing di level internasional,” jelas Prof JJ.
Prof JJ menekankan bahwa perguruan tinggi memiliki keunggulan komparatif dalam mendukung pengembangan kapasitas pekerja migran, terutama melalui infrastruktur akademik dan fasilitas pelatihan yang terintegrasi di Unhas.
“Perguruan tinggi memiliki tanggung jawab sosial untuk mengambil peran aktif dalam program seperti ini. Unhas memiliki berbagai laboratorium, rumah sakit, serta klinik yang dapat menjadi sarana pengembangan keterampilan teknis dan profesional secara komprehensif,” ujarnya.
Prof JJ juga menyampaikan bahwa pendirian MSC merupakan perwujudan transformasi Unhas dari sekadar penghasil gagasan menjadi pelaku aktif dalam implementasi kebijakan peningkatan kualitas tenaga kerja nasional.
“Unhas bergerak dari wacana menuju aksi nyata. Kami berkomitmen untuk berkontribusi secara konkret terhadap percepatan penyiapan tenaga profesional Indonesia agar mampu mengisi peluang global yang semakin terbuka,” ucapnya.