Pusdalops Catat 216 Korban Jiwa Akibat Bencana Alam di Sumut
Pusdalops PB Sumut melaporkan 216 jiwa menjadi korban bencana alam hidrometeorologi yang melanda 17 kabupaten/kota di Sumut dalam sepekan terakhir. Simak selengkapnya!
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB) Sumatera Utara (Sumut) melaporkan data mengejutkan terkait dampak bencana alam yang melanda provinsi tersebut. Sebanyak 216 jiwa tercatat meninggal dunia akibat serangkaian bencana hidrometeorologi yang terjadi dalam kurun waktu satu pekan terakhir. Data ini menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan masyarakat luas.
Ratusan korban jiwa ini tersebar di 17 kabupaten/kota di Sumut, yang terdampak bencana hidrometeorologi antara tanggal 21 hingga 28 November 2025. Bencana ini meliputi hujan lebat, banjir, dan tanah longsor yang dipicu oleh kondisi cuaca ekstrem. Laporan sementara ini menunjukkan skala kerusakan dan kerugian yang signifikan di berbagai wilayah.
Pihak berwenang terus melakukan pendataan dan upaya penanganan di lapangan untuk mengatasi dampak bencana ini. Perkembangan data dan informasi terkini akan terus disampaikan kepada publik. Situasi ini menuntut respons cepat dan koordinasi yang baik dari semua pihak terkait untuk membantu para korban dan memulihkan kondisi wilayah terdampak.
Dampak Bencana Hidrometeorologi di Sumatera Utara
Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Utara telah menyebabkan kerugian besar, terutama dalam hal korban jiwa. Pusdalops PB Sumut mencatat bahwa 216 orang meninggal dunia akibat kejadian ini. Wilayah terdampak bencana hidrometeorologi ini mencakup 17 kabupaten/kota yang tersebar di seluruh provinsi.
Adapun 17 kabupaten/kota yang terlanda bencana alam tersebut adalah Kota Medan, Kota Tebingtinggi, Kota Binjai, Kota Padangsidimpuan, Kota Sibolga, Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Serdang Bedagai, Kabupaten Langkat, Kabupaten Humbang Hasudutan, dan Kabupaten Pakpak Bharat. Selain itu, Kabupaten Nias, Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Asahan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Tapanuli Tengah, Kabupaten Mandailing Natal, serta Kabupaten Padang Lawas juga turut terdampak.
Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyatakan bahwa laporan tersebut merupakan data sementara yang diterima Pusdalops PB Sumut. "Untuk perkembangan atas bencana itu akan terus diinformasikan termasuk data-datanya," ujarnya, menegaskan komitmen untuk terus memperbarui informasi.
Berbagai upaya penanganan telah dilakukan oleh masing-masing wilayah terdampak dan pemangku kebijakan terkait. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mitigasi dampak, evakuasi, serta penyaluran bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Koordinasi antarlembaga menjadi kunci dalam menghadapi situasi darurat ini.
Penyebab Cuaca Ekstrem: Siklon Tropis Senyar
Cuaca ekstrem yang memicu bencana hidrometeorologi di Sumatera Utara dalam beberapa hari terakhir dijelaskan oleh Kepala Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I, Hendro Nugroho. Menurutnya, kondisi ini merupakan dampak dari Siklon Tropis Senyar. Siklon ini telah menyebabkan peningkatan intensitas hujan di seluruh wilayah Sumut.
Siklon Tropis Senyar sendiri merupakan Bibit Siklon Tropis 95B yang mulai berkembang sejak tanggal 21 November 2025. Bibit siklon ini terbentuk di perairan timur Aceh, tepatnya di Selat Malaka. Keberadaannya secara signifikan mempengaruhi pola cuaca regional, membawa dampak buruk bagi wilayah daratan.
"Dampaknya dalam satu minggu terakhir, wilayah Sumatera Utara dilanda hujan setiap hari," kata Hendro Nugroho. Siklon Tropis Senyar memberikan dampak peningkatan intensitas dan memicu potensi cuaca ekstrem berupa hujan lebat hingga ekstrem, gelombang tinggi, serta angin kencang di wilayah Sumatera Utara. Kondisi ini sangat berbahaya bagi masyarakat.
Ditambah lagi, kondisi kelembapan udara yang sangat tinggi turut memperparah situasi. Udara yang cukup basah semakin mendukung potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di beberapa wilayah Sumatera Utara. Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi ideal bagi terjadinya bencana hidrometeorologi yang mematikan.
Sumber: AntaraNews