Prajurit TNI Gugur di Lebanon, DPR Minta Evaluasi Misi Perdamaian
Satu prajurit TNI yang berugas sebagai pasukan Penjaga Perdamaian di Lebanon gugur saat diserang Israel.
Kabar duka menyelimuti Tentara Nasional Indonesia (TNI). Seorang prajurit yang tengah bertugas dalam misi perdamaian di Lebanon dilaporkan gugur akibat serangan Israel.
Menanggapi tragedi tersebut, Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dave Akbarshah Fikarno Laksono menyampaikan belasungkawa yang mendalam atas pengabdian patriot bangsa tersebut.
"Ya, saya secara pribadi ataupun juga secara keluarga besar menyampaikan turut bela sungkawa yang amat mendalam atas meninggalnya prajurit TNI kita akibat sebuah serangan misil," kata Dave di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (30/3).
Tiga Prajurit TNI juga Luka
Dave menjelaskan, serangan tersebut sebenarnya ditujukan kepada kelompok Hizbullah. Namun, proyektil tersebut justru menghantam markas prajurit Indonesia.
Selain satu personel dinyatakan tewas, informasi sementara menyebutkan setidaknya ada tiga orang prajurit lainnya mengalami luka akibat ledakan tersebut.
"Akan tetapi terkena kepada markas kita dan mengakibatkan tewasnya satu prajurit kita dan juga infonya ada setidaknya satu orang lagi terluka berat," ujarnya.
Politikus Partai Golkar ini menekankan pentingnya menunggu penjelasan resmi dari Mabes TNI terkait rincian jumlah korban dan tingkat kerusakan markas.
Mengkaji Ulang Keberadaan TNI di Wilayah Konflik
Namun, ia menegaskan, peristiwa fatal ini harus menjadi momentum besar bagi pemerintah untuk mengkaji ulang efektivitas keberadaan personel TNI di wilayah konflik tersebut.
"Dan ini juga menjadi kesempatan untuk melakukan koreksi ataupun juga melihat, apakah keberadaan prajurit kita ini benar-benar berfungsi atau tidak," tegasnya.
Ia kemudian mempertanyakan, apakah kehadiran pasukan perdamaian saat ini masih relevan di tengah serangan yang terus berkelanjutan atau tidak.
Dave khawatir posisi prajurit Indonesia kini bukan lagi sebagai penjaga perdamaian, melainkan justru berisiko menjadi target serangan militer Israel (IDF).
"Apakah keberadaan kita ini berguna untuk menjaga perdamaian atau justru malah menjadi serangan, target daripada serangan daripada IDF," ungkapnya.
Pertimbangkan Penarikan MundurMengkaji Ulang
Melihat eskalasi situasi yang semakin membahayakan nyawa personel, Dave menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan langkah evakuasi atau penarikan mundur pasukan.
Menurutnya, keamanan prajurit harus menjadi prioritas utama di atas misi diplomatik jika kondisi di lapangan tidak lagi memungkinkan untuk dijaga secara kondusif.
"Nah, maka itu, bilamana kondisinya ini memang tidak bisa dinyatakan aman, ada sebaiknya untuk pemerintah melakukan, apa namanya, penarikan ataupun juga evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon," ucapnya.
Menurutnya, misi utama pasukan PBB adalah menjaga perdamaian, namun fakta di lapangan saat ini menunjukkan situasi pertempuran terbuka yang sangat sengit.
Dievaluasi Total
Jika misi sudah tidak bisa dilaksanakan karena kondisi perang, maka penempatan prajurit di luar negeri menurutnya sudah sepatutnya dievaluasi total.
"Iya, tentu ini kan fungsi kita ini adalah untuk menjaga perdamaian. Nah, jelas di sana ini tidak terjadi perdamaian, justru terjadi pertempuran. Nah, jadi ya kalau begitu ya fungsi kita ini tidak, tidak, tidak bisa melaksanakan misi kita," jelasnya.
Dave juga menyoroti langkah negara lain seperti Italia yang dikabarkan mulai bersiap menarik personel mereka dari Lebanon. Ia berharap pemerintah Indonesia segera menjalin komunikasi intensif dengan PBB guna menentukan sikap resmi demi keselamatan seluruh prajurit yang masih bertahan di sana.
"Maka itu, apakah kita harus mengambil hal tersebut? Nah, tentu harus ada pertimbangan dan juga harus ada komunikasi," pungkasnya.
Sebelumnya, empat prajurit TNI yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Lebanon menjadi korban bombardir rudal Israel. Satu gugur, 1 luka berat dan 2 lainnya luka ringan.
Demikian diungkapkan Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait.
"Kami mengonfirmasi adanya terdapat korban dari prajurit TNI, yaitu 1 orang meninggal dunia, 1 dalam kondisi luka berat, dan 2 luka ringan yang saat ini telah mendapatkan penanganan medis," kata Rico saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Senin (30/3).
Namun saat ini, Puspen TNI belum memberikan info detil terkait identitas prajuritnya yang menjadi korban.