Polri Perkuat Alat Digunakan Personel Tugas di Daerah Rawan Konflik, Bakal Dilengkapi Seragam Anti Panah hingga Molotov
Seragam personel ini diharapkan dapat disiapkan untuk personel yang memiliki tugas di daerah rawan konflik atau memiliki potensi kerusuhan.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan akan terus memperkuat peralatan personel kepolisian sebagai upaya memberikan rasa aman bagi masyarakat. Hal ini disampaikan saat pembukaan rapat kerja teknis (rakernis) Staf Logistik (Slog) Polri di Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (15/4).
Sigit meresmikan Slog Lab baru yang digunakan untuk mengecek dan memastikan kualitas seragam personel. Dengan begitu, seragam yang diberikan benar-benar sesuai dengan standar prosedur.
"Kita tadi juga melihat dan diperagakan langsung bagaimana kita juga menyiapkan pakaian khususnya untuk personel-personel yang memiliki tugas dalam menghadapi potensi kerusuhan," ujar Sigit.
Seragam personel ini, menurut Sigit, diharapkan dapat disiapkan untuk personel yang memiliki tugas di daerah rawan konflik atau memiliki potensi kerusuhan. Salah satu alasan keunggulan pakaian ini yaitu dirancang untuk menghindari serangan anak panah.
"Salah satunya di wilayah-wilayah yang sering terjadi konflik, yang sering menggunakan alat panah, tadi diperagakan dan Alhamdulillah dengan peralatan yang baru anggota kita bisa terhindar dari potensi apabila ada serangan panah," kata Sigit.
Tak hanya pada pakaian yang dikenakan, Sigit menuturkan bahwa personel yang bertugas di daerah rawan konflik akan diberikan berbagai macam alat pengaman lainnya. Alat ini akan digunakan saat terdapat potensi ancaman di lapangan.
"Apakah itu mulai dari lemparan molotov, kemudian juga tembakan, dan juga tentunya segala macam yang membahayakan anggota," jelas dia.
Adapun tujuan penggunaan seragam khusus ini, dijelaskan Sigit untuk memastikan personelnya dapat tampil percaya diri, khususnya saat melaksanakan kegiatan pengamanan kepada masyarakat.
Bagikan Alat Operasional
Dalam kesempatan ini, Sigit juga membagikan ratusan alat operasional yang diperlukan oleh masyarakat. "Ada kurang lebih 430 unit kendaraan, mulai dari motor, kemudian mobil patroli dengan tenaga listrik, dan juga peralatan-peralatan patroli di wilayah-wilayah konflik seperti di Papua, Papua Tengah, Dogiyai," kata Sigit.
Selain itu, ada pula ambulans dan kendaraan lain yang dapat digunakan saat kondisi banjir. Oleh karena itu, Sigit menegaskan bahwa alat-alat tersebut harus digunakan semaksimal mungkin, demi memberikan dukungan kepada personel yang bertugas.
"Sehingga kehadiran Polri dalam memberikan rasa aman, dalam melaksanakan tugas," tegas Sigit.
Atur Standar Minimal Alat Personel
Sigit menjelaskan Polri tengah menyusun MEPE (Minimal Essential Police Equipment), sehingga jelas standar milimal alat yang dimiliki personel saat bertugas.
"Sebentar lagi saat ini kita juga sedang menyusun MEPE, bagaimana ini menjadi harapan bahwa kita memiliki standar terkait dengan Minimal Essential Police Equipment. Jadi peralatan standar minimal yang harus kita miliki," kata Sigit.
Dia menegaskan, penyusunan MEPE ini merupakan upaya dalam memastikan kesiapan peralatan yang akan digunakan. Bahkan, alat tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing. Sehingga, ketika personel Polri tampil dan turun menjalankan tugas, dapat dilakukan semaksimal mungkin. Dengan demikian, Polri dapat memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat saat bertugas.
Resmikan Slog Lab
Selain itu, Sigit meresmikan Slog Lab baru yang digunakan untuk mengecek dan memastikan kualitas seragam personel. Dengan begitu, seragam yang diberikan benar-benar sesuai dengan standar prosedur.
"Kita tadi juga melihat dan diperagakan langsung bagaimana kita juga menyiapkan pakaian khususnya untuk personel-personel yang memiliki tugas dalam menghadapi potensi kerusuhan," ujar Sigit.