Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon: Strategi Pemerintah dan Masyarakat Atasi Stunting
Kota Cirebon gencar melakukan berbagai upaya Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon melalui program Gemarikan dan budidaya lokal untuk menekan angka stunting serta memberdayakan masyarakat.
Suasana meriah di Lapangan Kebon Pelok, Kota Cirebon, menjadi saksi nyata upaya pemerintah mendekatkan bahan pangan bergizi kepada masyarakat. Gerakan Pangan Murah (GPM) ini tidak hanya menyediakan sembako, tetapi juga paket olahan ikan yang sangat dinantikan warga. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan asupan gizi, khususnya bagi anak-anak di tengah tantangan stunting.
Rahma (34), salah satu warga, mengungkapkan kegembiraannya saat menerima bingkisan paket ikan. Ia merasa terbantu karena dapat menyediakan lauk bergizi untuk anaknya dengan harga terjangkau. Program ini menunjukkan bagaimana hilirisasi sektor perikanan dapat menjangkau langsung meja makan keluarga.
Melalui distribusi langsung dan edukasi, pemerintah Kota Cirebon berupaya keras memastikan "generasi emas" mendapatkan nutrisi optimal. Langkah ini krusial untuk mendukung tumbuh kembang anak dan menciptakan sumber daya manusia unggul di masa depan.
Akses Ikan Segar di Kota Pesisir
Sebagai kota pesisir, Cirebon memiliki potensi perikanan yang melimpah, menjadikannya bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warganya. Ibu rumah tangga seperti Nurul (36) dari Harjamukti, sudah terbiasa berburu ikan segar di pasar tradisional sejak pagi. Ia memahami pentingnya protein ikan untuk tumbuh kembang anaknya.
Nurul, yang memiliki anak balita, sering menonton video tentang pola makan sehat untuk anak. "Katanya bagus buat otak, jadi saya usahakan tetap beli," tuturnya singkat, menunjukkan kesadaran akan manfaat omega-3 dari ikan. Meskipun harga ikan seperti kembung mencapai Rp30-35 ribu per kg, ia tetap mengusahakan konsumsi ikan.
Wamad (33) juga rutin membeli ikan 1-2 kg setiap minggu di Pasar Kanoman, memilih jenis seperti ikan layar atau kembung yang harganya terjangkau. Meskipun ia khawatir dengan kondisi laut yang banyak sampah, kebiasaan mengonsumsi ikan tetap dipertahankan. Hal ini mencerminkan bagaimana masyarakat Cirebon berupaya menjaga asupan gizi keluarga.
Data dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Cirebon menunjukkan peningkatan produksi perikanan tangkap dan budidaya. Produksi tangkap naik dari 5.958,75 ton pada 2020 menjadi 7.784,42 ton pada 2024, sementara budidaya meningkat dari 206,32 ton menjadi 376,49 ton dalam periode yang sama. Meskipun demikian, akses merata ke ikan segar masih menjadi pekerjaan rumah untuk Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon.
Program Pemerintah dalam Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon
Pemerintah pusat dan daerah gencar menggalakkan program "Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan" (Gemarikan) untuk meningkatkan Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon. Kepala DKP3 Kota Cirebon, Elmi Masruroh, menjelaskan bahwa program ini rutin menyasar keluarga berisiko stunting (KRS) di seluruh kelurahan. Pembagian ikan kembung, yang kaya omega-3, menjadi fokus utama.
DKP3 Kota Cirebon juga mengadopsi program "Pojok Stunting" (Posting) yang diselenggarakan bersamaan dengan GPM. Setiap kegiatan GPM, 30 paket bantuan berisi ikan segar disalurkan kepada masyarakat. Hingga Oktober 2025, program ini telah berjalan 26 kali, dengan respons positif dari warga yang merasa terbantu untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Ikan yang dibagikan berasal dari sumbangan pengusaha kapal di Pelabuhan Kejawanan, sebagai bentuk apresiasi atas kebijakan pemerintah kota terkait retribusi jasa usaha. "Mereka patuh membayar retribusi, sehingga kami bisa menerbitkan rekomendasi untuk BBM subsidi. Di sinilah kepercayaan antara kami terjalin," ungkap Elmi. Program ini menciptakan hubungan simbiosis mutualisme antara pelaku usaha perikanan dan warga.
Berkat Gemarikan dan Posting, angka Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon perlahan naik dari 33,49 kg per kapita pada 2020 menjadi 42,85 kg per kapita pada 2024. Meskipun masih di bawah realisasi nasional, tren positif ini menunjukkan keberhasilan upaya pemerintah dalam mendorong kebiasaan makan ikan.
Budidaya Ikan Lokal untuk Ketahanan Pangan
Selain distribusi, pemerintah daerah juga mendorong budidaya ikan di lahan sempit sebagai strategi ketahanan pangan dan Peningkatan Konsumsi Ikan Cirebon. Elmi Masruroh mencontohkan wilayah Pekiringan yang aktif memanfaatkan kolam darat untuk memelihara nila. Bantuan kolam bioflok dari KKP senilai Rp10 juta per unit juga diberikan kepada kelompok masyarakat.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris DKP3 Kota Cirebon, Yudi Lukmana Hakim, menambahkan bahwa dukungan pemerintah mencakup penyediaan sarana budidaya, benih, dan pakan. Bantuan ini disesuaikan dengan komoditas yang diajukan masyarakat, seperti lele, nila, atau udang vaname. Meskipun anggaran terbatas, program ini tetap berjalan karena manfaatnya jelas dirasakan.
Kelurahan Kebonbaru menjadi contoh sukses, di mana warga bersama kader PKK mengelola kolam terpal berisi lele. Hasil panen, rata-rata 20-40 kg setiap 2,5-3 bulan, sebagian besar disalurkan ke posyandu untuk penanganan stunting. "Harganya pun dibedakan, Rp25 ribu per kg untuk masyarakat, Rp20 ribu untuk kader," cetus Lurah Kebonbaru, Shufi Pelangi Jiwa.
Pola penjualan kecil-kecilan ini efektif dalam menciptakan perputaran ekonomi lokal sekaligus memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Intervensi protein hewani ini sangat penting, terutama mengingat angka stunting di wilayah tersebut tergolong tinggi.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Keberlanjutan
Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, mengapresiasi program budidaya yang tidak hanya membantu ekonomi rumah tangga tetapi juga mendukung penanganan stunting. Penurunan angka stunting dari 19,9 persen pada 2023 menjadi 14,9 persen pada 2024 merupakan bukti kolaborasi lintas sektor, termasuk kontribusi signifikan dari sektor perikanan.
Di tingkat nasional, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong hilirisasi sektor perikanan dan pembinaan nelayan agar sesuai standar internasional. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) KKP, Lotharia Latif, menekankan pentingnya penggunaan alat tangkap ramah lingkungan dan sertifikasi hasil tangkapan untuk memenuhi tuntutan pasar ekspor.
Lotharia menjelaskan bahwa sektor perikanan tangkap nasional sedang bertransisi menuju praktik modern yang lebih tertib dan berkelanjutan. KKP juga mengedukasi nelayan dan pemerintah daerah tentang pentingnya konservasi laut untuk menjaga sumber daya perikanan. "Kita pelan-pelan mentransformasi saudara-saudara kita nelayan supaya mereka bisa mengikuti aturan ini," ujarnya.
Dari hulu hingga hilir, rantai panjang perikanan di Kota Cirebon kini tersambung, tidak hanya dalam skala besar tetapi juga melalui distribusi langsung ke warga dan budidaya rumahan. Hasilnya terlihat nyata di meja makan keluarga, memberikan asupan gizi penting bagi "generasi emas" sejak usia dini.
Sumber: AntaraNews