Penderita Baru Capai 181 Orang, Kasus HIV/AIDS di Sumsel Kian Mengkhawatirkan
Kasus baru tersebut dengan rincian 139 kasus HIV dan 42 kasus AIDS. Hampir di setiap kabupaten dan kota di Sumsel terdapat kasus baru.
Kasus baru HIV/AIDS di Sumatera Selatan sepanjang Januari-Februari 2026 mencapai 181 penderita. Angka ini menunjukkan trend kenaikan dan kian mengkhawatirkan.
Kasus baru tersebut dengan rincian 139 kasus HIV dan 42 kasus AIDS. Hampir di setiap kabupaten dan kota di Sumsel terdapat kasus baru.
Palembang menjadi daerah tertinggi penderita baru yakni 64 kasus HIV dan 21 kasus AIDS. Kemudian Lubuklinggau (10 kasus baru), Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ulu Timur, Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin (masing-masing 5 kasus), Ogan Ilir (4 kasus), Banyuasin dan Musi Rawas (masing-masing 3 kasus), Pagaralam (2 kasus), Empat Lawang dan Penukal Abab Lematang Ilir (masing-masing 1 kasus). Hanya Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan dan Musi Rawas Utara yang tidak terdapat kasus baru HIV/AIDS.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel Ira Primadesa Ogatiyah mengungkapkan, penambahan kasus penyakit seksual menular itu cukup signifikan. Kuantitasnya bisa saja bertambah seiring masih dilakukan skrining di pusat kesehatan.
"Dalam dua bulan di awal tahun ini sudah ada 181 kasus baru HIV/AIDS di Sumsel, angkanya cukup tinggi," ungkap Ira, Rabu (15/4).
Penderita Setiap Tahun Meningkat
Ira mengatakan, fenomena ini perlu diantisipasi karena sangat mengkahawatirkan. Dari tahun ke tahun, penderita penyakit itu terus bertambah.
Berdasarkan data, pasien HIV/AIDS di provinsi itu tercatat berjumlah 907 orang pada 2025. Dengan rincian, 609 orang penderita HIV dan 298 orang terinfeksi AIDS.
Peningkatan penderita HIV/AIDS cukup signifikan terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Pada 2021, kasus baru HIV/AIDS yang terdata sebanyak 321 kasus, pada 2022 meningkat menjadi 639 kasus, 2023 melonjak kembali sebanyak 846 kasus, dan naik drastis pada 2024 yang berjumlah 992 kasus.
Ira mengatakan, tingginya penderita penyakit itu perlu menjadi kewaspadaan semua lapisan masyarakat. Jika tidak, angkanya terus bertambah seiring terjadinya penularan.
"Perilaku seksual berisiko masih menjadi penyebab utama penularan," kata Ira.
Ira menyebut pihak Dinkes Sumsel telah melakukan beberapa upaya dalam penanggulangan penularan HIV/AIDS. Seperti program perluasan layanan klinik untuk tes dan pengobatan HIV, mobile klinik untuk menjangkau kelompok populasi kunci yang sulit dijangkau untuk dilakukan skrining HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual.
"Tentunya sosialisasi kepada masyarakat, terutama kalangan siswa, agar tidak terjebak dalam perilaku seksual yang berisiko tinggi tertular HIV/AIDS," kata Ira.