Pencarian ABK Bintang Laut di Perbatasan RI-PNG Terkendala Cuaca Ekstrem
Tim SAR gabungan terus berupaya menemukan enam ABK KM Bintang Laut yang hilang di perairan perbatasan RI-PNG. Namun, Pencarian ABK Bintang Laut ini menghadapi kendala cuaca ekstrem. Simak selengkapnya.
Operasi pencarian terhadap enam anak buah kapal (ABK) KM Bintang Laut yang hilang di perairan perbatasan Indonesia-Papua Nugini (RI-PNG) masih terus berlangsung. Kapal penangkap cumi tersebut dilaporkan tenggelam pada Selasa, 20 Januari 2026, setelah diterjang ombak besar.
Kepala Kantor SAR Merauke, Rudi, menyatakan bahwa upaya pencarian mengalami hambatan signifikan akibat kondisi cuaca yang tidak menentu. Meskipun demikian, tim SAR gabungan bertekad untuk melanjutkan misi penyelamatan ini.
Insiden nahas ini menyebabkan 19 ABK berada dalam situasi darurat, dengan 13 di antaranya berhasil diselamatkan oleh kapal ikan yang melintas. Namun, enam ABK lainnya hingga kini masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama pencarian.
Detail Insiden dan Upaya Penyelamatan Awal
KM Bintang Laut, kapal penangkap cumi, mengalami musibah tenggelam di perairan sekitar perbatasan RI-PNG pada Selasa, 20 Januari 2026. Kapal tersebut diterjang ombak tinggi yang menyebabkan kerusakan parah dan akhirnya karam.
Dari total 19 ABK yang berada di kapal, 13 orang berhasil diselamatkan berkat kesigapan kapal ikan lain yang kebetulan melintas di dekat lokasi kejadian. Mereka yang berhasil diselamatkan antara lain Setiawan, Apan Supandi, Asep Purnama Sidik, Ujang Ramdani, Sawon, Abdullah, Heriawan, Supriyono, Dedi Sukanto, Ahmad Idwar Juarsi, Achmad Dicki Dermawan, dan Rudiono.
Sayangnya, satu dari 13 ABK yang ditemukan dalam kondisi selamat tersebut, yakni Asep Roslana, kemudian meninggal dunia. Para ABK yang selamat kini telah berada di Merauke dan mendapatkan pemeriksaan kesehatan di Puskesmas Kumbe.
Kendala Cuaca dan Tim SAR Gabungan
Kepala Kantor SAR Merauke, Rudi, menjelaskan bahwa operasi Pencarian ABK Bintang Laut yang tersisa menghadapi tantangan berat. Kondisi cuaca ekstrem, termasuk gelombang tinggi dan angin kencang, menjadi kendala utama bagi tim di lapangan.
Enam ABK yang masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian adalah Muhammad Rifai, Syahrul Ramdani, Lukman Hidayat, Sabriansyah, Tri Pandu Novianto, dan Dede Insan Permana. Tim SAR gabungan telah dikerahkan secara maksimal untuk menemukan mereka.
Tim pencari terdiri dari berbagai unsur, termasuk SAR Merauke, Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XI, Polair Polres Merauke, Kementerian Kelautan dan Perikanan Merauke, serta Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Merauke. Sinergi antarlembaga ini diharapkan dapat mempercepat proses pencarian di tengah kondisi yang sulit.
Sumber: AntaraNews