Pemprov Sulteng Dorong Penguatan Ketahanan Sistem Kesehatan Pesisir Hadapi Dampak Perubahan Iklim
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah serius memperkuat Ketahanan Sistem Kesehatan Pesisir. Perubahan iklim menjadi ancaman nyata, bagaimana strategi adaptasi untuk melindungi masyarakat?
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) secara aktif mendorong penguatan ketahanan sistem kesehatan di wilayah pesisir. Upaya ini dilakukan sebagai langkah antisipasi dan adaptasi terhadap dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, Syahriar, di Palu pada Jumat, menegaskan bahwa perubahan iklim adalah ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengidentifikasi ancaman ini secara global, menyoroti urgensi penanganannya.
Dampak perubahan iklim tidak hanya bersifat langsung, seperti banjir dan gelombang panas ekstrem, namun juga secara tidak langsung memicu peningkatan penyakit berbasis lingkungan serta memberikan tekanan signifikan terhadap sistem pelayanan kesehatan yang ada.
Ancaman Perubahan Iklim terhadap Kesehatan Masyarakat Pesisir
Perubahan iklim secara langsung berkontribusi pada peningkatan risiko berbagai penyakit menular dan tidak menular. Penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, diare, dan pneumonia, menjadi lebih sering terjadi atau mengalami peningkatan kasus di wilayah pesisir.
Peningkatan ini dipicu oleh perubahan suhu yang ekstrem, pola curah hujan yang tidak menentu, serta frekuensi bencana hidrometeorologi yang kian meningkat. Bencana seperti banjir, tanah longsor, dan kekeringan, secara signifikan memengaruhi kondisi kesehatan lingkungan dan masyarakat.
Indonesia, khususnya wilayah pesisir, sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim ini. Panjang garis pantai yang luas, kepadatan penduduk yang tinggi, serta tingginya risiko bencana hidrometeorologi menjadikan penguatan ketahanan sistem kesehatan sebagai kunci penting.
Syahriar menekankan bahwa sistem kesehatan harus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi, merespons, dan beradaptasi secara efektif. Hal ini krusial guna melindungi serta meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di tengah tantangan perubahan iklim.
Strategi Penguatan Sistem Kesehatan dan Penelitian Kolaboratif
Penguatan ketahanan sistem kesehatan menjadi fokus utama melalui lokakarya koordinasi dan sosialisasi. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan riset Partnership Indonesia-Australia for Research (PAIR) Sulawesi CH 3.2, yang berfokus pada sistem kesehatan ketahanan iklim wilayah pesisir.
Penelitian ini secara spesifik mencakup wilayah Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan Kabupaten Parigi Moutong di Sulawesi Tengah. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada tingkat kerentanan terhadap dampak perubahan iklim.
Kegiatan yang melibatkan lintas sektor ini mengadopsi pendekatan terintegrasi dalam mendukung adaptasi perubahan iklim di sektor kesehatan. Kesehatan merupakan hak asasi manusia (HAM), sehingga strategi adaptasi perubahan iklim di bidang kesehatan perlu diprioritaskan.
Meskipun demikian, masih terdapat tantangan signifikan, yaitu keterbatasan kapasitas dan pengetahuan tenaga kesehatan. Hal ini menjadi hambatan dalam mengimplementasikan adaptasi perubahan iklim di wilayah kerja masing-masing.
Harapan dan Rekomendasi Kebijakan Berbasis Bukti
Penelitian yang sedang berjalan ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara berbagai sektor terkait. Kolaborasi ini penting untuk menciptakan respons yang lebih komprehensif dan terkoordinasi dalam menghadapi isu perubahan iklim.
Lebih lanjut, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan yang berbasis bukti. Rekomendasi ini akan menjadi panduan bagi pemerintah daerah dalam merumuskan strategi adaptasi yang efektif dan berkelanjutan.
Tujuan akhir dari semua upaya ini adalah peningkatan kesiapsiagaan daerah dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat pesisir dapat lebih terlindungi dari risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim.
Sumber: AntaraNews