PBNU Resmikan 41 SPPG di Lombok Barat, Perkuat Program Makan Bergizi Gratis
PBNU resmikan 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lombok Barat, perkuat program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo. Langkah ini dorong gizi dan ekonomi pesantren.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf, secara resmi meresmikan 41 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pada Sabtu sore di Lombok Barat. Peresmian ini bertujuan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas oleh Presiden Prabowo. SPPG ini dikelola oleh yayasan pondok pesantren di bawah naungan organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut.
Acara peresmian dipusatkan di Pondok Pesantren Darul Qur'an, Desa Bengkel, Kecamatan Labuapi, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kehadiran PBNU dalam program ini menunjukkan komitmen kuat untuk berkontribusi pada peningkatan gizi masyarakat. Inisiatif ini merupakan bagian dari jaringan tim konsultasi akselerasi program MBG yang dibentuk PBNU.
KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa pembangunan SPPG oleh yayasan NU ini adalah upaya nyata membantu menyukseskan program pemerintah. Dukungan ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak penerima manfaat di berbagai wilayah. Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dan Ketua PWNU NTB Masnun Tahir turut hadir dalam peresmian tersebut.
PBNU Perluas Jaringan SPPG untuk Dukung MBG
PBNU telah membentuk jaringan luas SPPG di seluruh Indonesia sebagai bagian dari komitmennya terhadap program Makan Bergizi Gratis. Saat ini, terdapat 200 SPPG yang sudah beroperasi di bawah yayasan pondok pesantren NU. Ratusan SPPG lainnya masih dalam proses pengajuan ke Badan Gizi Nasional (BGN) untuk segera dioperasikan.
Target PBNU adalah mencapai 1.000 SPPG di seluruh Indonesia dalam waktu dekat. Gus Yahya mengungkapkan bahwa 41 SPPG yang baru diresmikan ini tersebar di berbagai daerah. Wilayah tersebut meliputi NTB, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, menunjukkan jangkauan nasional program ini.
NTB menjadi lokasi peresmian keempat setelah sebelumnya PBNU meresmikan SPPG di Cirebon, Jember, dan Batang. Khusus di NTB, sebanyak 36 SPPG diresmikan pada hari yang sama. Ekspansi ini adalah bukti nyata percepatan implementasi program MBG melalui kolaborasi PBNU.
Jaga Kualitas Gizi dan Dorong Ekonomi Pesantren
Pentingnya menjaga kualitas makanan menjadi perhatian utama PBNU dalam menjalankan program SPPG. KH Yahya Cholil Staquf menekankan agar setiap SPPG memastikan menu makanan yang disajikan higienis, bersih, dan sehat. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan menjamin kesehatan penerima manfaat.
Gus Yahya mengingatkan bahwa murid, santri, dan penerima manfaat program MBG bukanlah sekadar angka statistik. Mereka adalah anak-anak bangsa yang merupakan masa depan negara. Oleh karena itu, perlakuan terbaik harus diberikan untuk memastikan pertumbuhan dan perkembangan mereka optimal.
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyambut baik inisiatif PBNU ini, melihatnya sebagai langkah strategis yang mendukung program pemerintah. Ia menyoroti potensi pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui SPPG. Pondok pesantren dapat memiliki pendapatan sendiri serta membuka peluang bagi jamaah untuk memasok kebutuhan MBG, seperti telur atau sayuran.
Melalui ekosistem perputaran ekonomi di dalam pesantren, harapan Presiden untuk melihat pesantren yang kuat dapat terpenuhi. Program ini tidak hanya menyediakan gizi, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi lokal. Ini adalah sinergi positif antara program pemerintah dan pemberdayaan komunitas pesantren.
Sumber: AntaraNews