Muhammadiyah Sulteng Ajak Tasamuh Sikapi Perbedaan Penentuan 1 Syawal 1447 H
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng mengajak seluruh warganya untuk menjunjung tinggi sikap tasamuh dalam menyikapi perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 H, demi menjaga kerukunan umat.
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Tengah (Sulteng) menekankan pentingnya bersikap tasamuh atau toleransi di tengah potensi perbedaan penentuan awal Syawal 1447 Hijriah. Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulteng Mulkus Kisman menyatakan bahwa warga Muhammadiyah di daerah tersebut telah melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 Hijriah sesuai maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pelaksanaan ibadah ini dilakukan dengan penuh kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni sosial.
Sikap tasamuh ini menjadi krusial untuk menjaga kebersamaan dan kerukunan umat, terutama dalam momen penting seperti Hari Raya Idul Fitri. Mulkus Kisman mengemukakan bahwa pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh pengurus di setiap tingkatan untuk tetap menjaga kebersamaan, saling menghargai, dan menghormati terhadap perbedaan yang ada. Pesan ini disampaikan secara berjenjang hingga ke tingkat ranting.
Di Kota Palu sendiri, Muhammadiyah telah menyiapkan 11 titik lokasi pelaksanaan Shalat Idul Fitri, dengan sebagian besar tempatnya di lapangan. Ini menunjukkan kesiapan Muhammadiyah dalam menjalankan ibadah sesuai keyakinan mereka, sembari tetap mengedepankan nilai-nilai toleransi dan persatuan di tengah masyarakat.
Pentingnya Tasamuh dalam Kehidupan Beragama
Tasamuh, secara harfiah, berarti toleransi, yakni sikap saling menghargai perbedaan tanpa menghakimi satu sama lain. Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, tasamuh berperan penting dalam menciptakan kedamaian dan harmoni. Sikap ini juga dapat dipahami sebagai keterbukaan untuk menerima, menghargai, dan menghormati perbedaan yang ada.
Dalam ajaran Islam, tasamuh merupakan sikap akhlak terpuji yang sangat ditekankan. Sikap ini tidak hanya dibatasi pada saling menghormati antar sesama Muslim, tetapi juga meluas kepada non-Muslim, dengan tetap menjaga akidah dan keyakinan masing-masing. Tasamuh bukan berarti mencampuradukkan keimanan dan ritual dalam agama, melainkan menghargai eksistensi agama yang dianut orang lain.
Muhammadiyah sendiri memandang toleransi sebagai wujud persaudaraan kemanusiaan universal, sesuai dengan ajaran Islam yang mereka yakini. Organisasi ini sejak awal konsisten menggunakan istilah moderasi beragama dan menjunjung tinggi kemanusiaan universal tanpa memandang latar belakang etnis, agama, dan unsur primordial lainnya. Pandangan ini diwujudkan dalam berbagai program sosial, pendidikan, dan kesehatan yang inklusif tanpa memandang latar belakang agama.
Muhammadiyah dan Penentuan 1 Syawal 1447 H
Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Penetapan ini telah diumumkan melalui Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.
Dasar penetapan ini adalah hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Penetapan ini juga mengacu pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Sistem KHGT ini bertujuan untuk mewujudkan penyatuan awal bulan hijriah di seluruh dunia berdasarkan parameter astronomis yang terpenuhi di kawasan mana pun.
Potensi perbedaan penentuan 1 Syawal 1447 H di Indonesia memang kerap terjadi, di mana pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) kemungkinan akan menetapkan 21 Maret 2026. Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan metode dalam menentukan awal bulan Hijriah. Muhammadiyah menggunakan metode hisab (perhitungan astronomi) dengan prinsip wujudul hilal, yaitu jika bulan sudah berada di atas ufuk. Sementara itu, pemerintah dan organisasi lain seperti Nahdlatul Ulama (NU) menggunakan metode rukyat (pengamatan langsung hilal) dengan kriteria MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura) yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat.
Menjaga Kerukunan di Tengah Perbedaan
Dalam menyikapi perbedaan penetapan 1 Syawal ini, Muhammadiyah Sulteng secara tegas menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dan kerukunan di antara umat Islam. Sikap tasamuh menjadi landasan utama agar perbedaan yang ada tidak menimbulkan perpecahan atau ketegangan di masyarakat. Ini adalah wujud dari komitmen Muhammadiyah terhadap persatuan umat.
Sikap saling menghargai dan menghormati perbedaan adalah kunci untuk menciptakan kedamaian dalam masyarakat yang majemuk. Dengan mengedepankan tasamuh, setiap individu dapat menjalankan keyakinannya tanpa mengganggu atau merasa terganggu oleh keyakinan orang lain, sehingga tercipta lingkungan yang kondusif.
Implementasi tasamuh dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam momen penting seperti Idul Fitri, menunjukkan komitmen terhadap nilai-nilai toleransi yang diajarkan dalam Islam. Ini merupakan upaya nyata untuk memperkuat tali persaudaraan dan keharmonisan sosial, menjadikan perbedaan sebagai kekayaan, bukan sumber konflik.
Sumber: AntaraNews