Muhammadiyah Dorong Transformasi Layanan Sosial Berbasis Komunitas, Perkuat Kesejahteraan Masyarakat
Muhammadiyah gagas transformasi layanan sosial dari panti asuhan ke komunitas, perkuat kesejahteraan masyarakat dengan model Pusat Solidaritas Kesejahteraan Masyarakat (PSKM).
Organisasi keagamaan Muhammadiyah tengah menginisiasi perubahan signifikan dalam pendekatan layanan sosialnya. Pergeseran ini bertujuan untuk menjawab kompleksitas dan keberagaman tantangan kesejahteraan masyarakat yang semakin dinamis di era modern.
Inisiatif ini berfokus pada transformasi dari pengelolaan panti asuhan tradisional menuju penguatan layanan berbasis komunitas yang lebih adaptif dan inklusif. Langkah strategis ini diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih luas serta relevan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mariman Darto, secara tegas menekankan pentingnya perluasan orientasi kerja MPKS. Perubahan fundamental ini disampaikan dalam rapat koordinasi wilayah di Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada Sabtu (13/6).
Menguatkan Peran Komunitas melalui PSKM
Mariman Darto menjelaskan bahwa MPKS tidak lagi hanya berfokus pada panti asuhan, melainkan harus bertransformasi menjadi penggerak layanan sosial berbasis komunitas yang proaktif. Pendekatan baru ini krusial agar Muhammadiyah dapat merespons berbagai persoalan sosial yang terus berkembang di tengah masyarakat dengan lebih efektif.
Sebagai bagian integral dari upaya ini, Muhammadiyah yang telah berusia 114 tahun menggagas pembentukan Pusat Solidaritas Kesejahteraan Masyarakat (PSKM). PSKM dirancang sebagai model pengembangan layanan sosial yang lebih terintegrasi, adaptif, dan mampu menjangkau berbagai segmen masyarakat.
Kehadiran PSKM diharapkan dapat memperkuat fungsi sosial Muhammadiyah yang selama ini banyak mengandalkan lembaga pengasuhan anak. Dengan demikian, layanan sosial Muhammadiyah akan memiliki jangkauan yang lebih luas, mendalam, dan berbasis pada kebutuhan riil komunitas.
Transformasi ini mencerminkan komitmen Muhammadiyah untuk terus relevan dalam misi kemanusiaan dan dakwah sosialnya. Fokus pada komunitas memungkinkan intervensi yang lebih personal, berkelanjutan, serta melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat itu sendiri.
Peningkatan Kualitas Pengasuhan dan Inspirasi Historis
Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Nusa Tenggara Barat (NTB), Falahuddin, menambahkan bahwa transformasi layanan sosial harus selaras dengan peningkatan kualitas pengasuhan. Hal ini berlaku khususnya di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.
Falahuddin mengingatkan bahwa LKSA tidak seharusnya hanya berfungsi sebagai tempat tinggal bagi anak-anak yang membutuhkan perlindungan sosial semata. Lembaga ini harus mampu memberikan pengasuhan yang komprehensif, berkualitas, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Untuk mendukung hal tersebut, Falahuddin juga mendorong penyusunan buku pedoman pengasuhan anak yang standar. Buku pedoman ini akan menjadi acuan bersama bagi seluruh LKSA di wilayah Nusa Tenggara Barat, memastikan standar pengasuhan yang seragam dan optimal bagi setiap anak.
Layanan sosial merupakan bagian penting dari misi Muhammadiyah dalam melayani umat, terutama masyarakat miskin dan kelompok rentan. Majelis ini sesungguhnya merupakan pengembangan dari Penolong Kesengsaraan Oemoem yang terinspirasi dari al-Ma'un, sebuah gagasan mulia yang dicetuskan oleh Kiai Syuja’ pada tahun 1918.
Sumber: AntaraNews