Mengingat Kembali Raden Maladi, Kiper Hebat yang Jadi Inspirasi Haornas dan Menteri Olahraga Indonesia
Kisah Raden Maladi, kiper hebat yang menjadi tokoh kunci di balik lahirnya Hari Olahraga Nasional (Haornas) dan perjalanan panjangnya sebagai Menteri Olahraga.
Hari Olahraga Nasional (Haornas) yang setiap tahun diperingati pada 9 September, merupakan sebuah prasasti penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Penetapan Haornas oleh Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1985, berawal dari peresmian hasil pemugaran Stadion Sriwedari di Solo pada tanggal tersebut. Di balik peringatan Haornas, terdapat semangat perjuangan bangsa melalui olahraga dan jejak para tokoh yang tak terlupakan.
Salah satu sosok sentral yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah Haornas adalah Raden Maladi. Beliau merupakan tokoh yang turut menyumbangkan pemikiran dan tenaganya demi kesuksesan Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Solo, yang diselenggarakan pada 8-12 September 1948. PON inilah yang kemudian menjadi sumber inspirasi utama peringatan Haornas hingga kini.
PON pertama tersebut bermula dari kongres olahraga yang diadakan pada Januari 1946 di Solo, menghasilkan kesepakatan pembentukan Pengurus Besar Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI). Dalam struktur kepengurusan PORI, Raden Maladi ditetapkan sebagai Bendahara II sekaligus Ketua Bagian Sepak Bola, menandai awal kiprahnya yang signifikan dalam dunia olahraga nasional.
Peran Penting Raden Maladi dalam PON I
PORI, yang kala itu dipimpin oleh Mr Widodo Sastrodiningrat, mengadakan serangkaian rapat intensif untuk merencanakan kompetisi olahraga nasional. Hasilnya, diputuskan untuk menyelenggarakan PON I di Solo, sebuah daerah yang dianggap paling siap untuk menjadi tuan rumah perhelatan olahraga berskala besar di tengah kondisi pasca-kemerdekaan. Keputusan ini menunjukkan visi jauh ke depan para pendiri olahraga nasional.
Menurut Sorip Harahap dalam bukunya Pekan Olahraga Nasional I-X, Sejarah Ringkas dan Perkembangannya (1985), pelaksanaan PON 1948 di Solo dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk menghidupkan kembali 'Ikatan Sport Indonesia (ISI) Sportweek' yang pernah digelar pada tahun 1938. Selain itu, kegagalan Indonesia untuk berpartisipasi dalam Olimpiade 1948 di London, salah satunya karena belum diakuinya kedaulatan Indonesia oleh Pemerintah Inggris, semakin membakar semangat untuk mengadakan pesta olahraga di tanah air sendiri.
PON I di Solo, yang berpusat di Stadion Sriwedari, berhasil diselenggarakan dengan sukses besar. Pembukaan pada 8 September 1948 dipimpin langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia Soekarno, dan diikuti oleh sekitar 600 atlet yang berkompetisi dalam sembilan cabang olahraga. Cabang-cabang tersebut meliputi atletik, bola basket, bulu tangkis, sepak bola, tenis, renang, polo air, panahan, dan pencak silat, menunjukkan keragaman partisipasi.
Pertandingan olahraga PON I secara resmi dimulai pada 9 September 1948. Tanggal inilah yang kemudian menjadi asal muasal dan landasan penetapan Hari Olahraga Nasional (Haornas), mengukuhkan warisan penting dari perhelatan tersebut bagi sejarah olahraga Indonesia.
Kiprah Gemilang Raden Maladi sebagai Kiper Nasional
Keikutsertaan Raden Maladi dalam kongres olahraga Januari 1946 tidak lepas dari rekam jejaknya yang cemerlang di dunia olahraga. Dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, mengungkapkan bahwa Maladi sudah aktif berolahraga sejak masa sekolahnya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Solo pada tahun 1926. Bahkan, ia meraih nilai sempurna 10 dalam pelajaran olahraga, menunjukkan bakat alaminya.
Maladi dikenal giat berolahraga dan menyukai berbagai cabang seperti sepak bola, atletik, renang, kasti, tolak peluru, dan anggar. Bakatnya di sepak bola semakin terasah, terutama setelah guru olahraga di Algemene Middlebare School (AMS), Johannes Christoffel, mengarahkannya untuk menjadi penjaga gawang. Christoffel bahkan memperkenalkan Maladi pada berbagai pustaka tentang kiper Eropa, memperkaya pengetahuannya.
Selama menempuh pendidikan di AMS B (1930-1932), Maladi giat berlatih bersama bond Indonesia Mataram. Setelah lulus, pria kelahiran Karanganyar pada 31 Agustus 1912 ini bermain untuk PSIM pada tahun 1930 dan kemudian bergabung dengan Persis. Bersama Persis, Maladi berhasil membawa klub tersebut menjuarai Kompetisi Perserikatan PSSI secara beruntun pada tahun 1939-1941, menunjukkan dominasinya di bawah mistar gawang.
Kemampuan menonjolnya sebagai penjaga gawang membuat Raden Maladi dipanggil untuk memperkuat tim nasional Indonesia pertama pada tahun 1937. Dalam buku Soeeratin Sosrosoegondo, Menentang Penjajahan Belanda dengan Sepak Bola Kebangsaan (2014), Eddi Elison menjelaskan bahwa timnas yang dibentuk PSSI tanpa pengaruh organisasi sepak bola Hindia Belanda (NIVU) ini hanya memiliki dua hari persiapan untuk menghadapi kesebelasan Nan Hwa dari Hong Kong atau China selatan pada 7 Agustus 1937. Pertandingan yang berakhir imbang 2-2 di Semarang ini mendapatkan perhatian besar, dan Maladi bermain hingga akhir laga dengan performa yang dipuji lawan, termasuk penyerang legendaris Lee Wai Tong.
Dari Ketum PSSI hingga Menteri Olahraga
Nama Raden Maladi semakin berkibar setelah diangkat sebagai salah satu pengurus PORI pada kongres Januari 1946. Kiprahnya di bidang olahraga terus berlanjut dan semakin menonjol. Pada Kongres ke-12 PSSI yang diselenggarakan pada 2-4 September 1950 di Semarang, Maladi terpilih sebagai Ketua Umum PSSI ketiga, menggantikan Artono Martosoewignyo.
Pada masa kepemimpinan Maladi, PSSI mengalami perubahan nama dari Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia, dan kantor pusatnya dipindahkan ke Jakarta. Syahrul Anwar dalam bukunya Militer, PSSI dan Sepak Bola Indonesia 1975-2003 (2021), menyebut bahwa Maladi membawa PSSI ke era baru, termasuk bergabungnya PSSI dengan FIFA pada 1952 dan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pada 1954, membuka pintu bagi sepak bola Indonesia di kancah internasional.
Maladi juga berperan penting dalam penunjukan pelatih legendaris asal Yugoslavia, Antun 'Toni' Pogacnik, untuk melatih tim nasional Indonesia. Di bawah arahan Pogacnik, Indonesia mencatat sejarah dengan menahan imbang tanpa gol tim kuat Uni Soviet di Olimpiade 1956 di Melbourne. Periode Maladi sebagai ketua umum PSSI juga diwarnai prestasi membanggakan timnas, seperti meraih perunggu Asian Games 1958 di Tokyo dan menembus semifinal Asian Games 1954, keduanya di bawah asuhan Pogacnik.
Kiprah Maladi yang gemilang di dunia olahraga, ditambah pengalamannya menata Radio Republik Indonesia pada awal kemerdekaan, membuatnya dipercaya Presiden Soekarno untuk menjabat Menteri Penerangan pada Kabinet Kerja II, dari tahun 1960 hingga 1962. Sebagai Menteri Penerangan, Maladi bertanggung jawab atas beroperasinya Televisi Republik Indonesia (TVRI) pada tahun 1962, yang berhasil menyiarkan secara langsung Asian Games IV di Jakarta. Dua tahun berselang, dedikasinya dalam menyukseskan Asian Games 1962 dan perjalanan panjangnya di dunia olahraga mengantarkannya ditunjuk Soekarno sebagai Menteri Olahraga pada Kabinet Dwikora I sampai III (1964-1966).
Warisan dan Pesan Abadi Raden Maladi
Saat menjabat sebagai Menteri Olahraga, Raden Maladi sempat mengemban tugas penting sebagai Ketua Komite Nasional Games of the New Emerging Forces (Ganefo) atau Pesta Olahraga Negara-Negara Berkembang, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No 178 Tahun 1964. Ini menunjukkan kepercayaan besar negara terhadap kapasitas kepemimpinannya dalam skala internasional.
Untuk mengenang jasa-jasa Raden Maladi bagi olahraga nasional, mulai dari perannya dalam PON I hingga kepemimpinannya di PSSI, Pemerintah Kota Solo pernah mengubah nama Stadion Sriwedari menjadi Stadion R Maladi pada Agustus 2003. Meskipun delapan tahun kemudian nama stadion tersebut kembali menjadi Sriwedari, upaya ini tetap menjadi pengingat akan kontribusinya yang besar.
Setiap individu mengukir sejarahnya sendiri selama hidup, dan Raden Maladi berhasil melakukannya dengan gemilang. Konsistensi, kemampuan, kepemimpinan, dan kerja kerasnya layak menjadi contoh inspiratif bagi generasi muda serta para praktisi olahraga di Indonesia. Dedikasinya yang tanpa henti patut diteladani.
Khusus untuk PSSI, Raden Maladi pernah menyampaikan pesan penting dalam artikel di surat kabar Berita Yudha berjudul "Kompetisi Yg Teratur Tingkatkan Kemampuan Pemain", terbit pada Senin, 17 Januari 1983. Beliau menekankan bahwa pengembangan sepak bola nasional harus difokuskan pada pembinaan pemain melalui klub dalam kompetisi yang teratur, bukan dengan cara-cara instan. "Klub sepak bola adalah wadah pembinaan induk pemain. Maka sistem kompetisi terbaik ialah kompetisi antarklub seperti yang dipakai di seluruh dunia," kata Maladi, menegaskan pentingnya fondasi yang kuat dalam pengembangan olahraga.
Sumber: AntaraNews