Literasi Digital Jadi Benteng Utama Keamanan Siber, PWI Pangkep Tekankan Kesadaran Individu
Ketua PWI Pangkep, Sakinah Fitrianti B, menegaskan bahwa literasi digital adalah benteng utama keamanan siber, menuntut kesadaran individu menghadapi ancaman digital yang kian kompleks.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Pangkep, Sakinah Fitrianti B, menyoroti pentingnya literasi digital sebagai benteng utama dalam menjaga keamanan siber. Pernyataan ini disampaikan di sela Pelatihan Manajemen Reputasi Digital yang diadakan Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel.
Acara yang berlangsung pada Minggu, 3 Mei 2026, di Makassar tersebut menekankan bahwa keamanan siber kini bukan lagi isu teknis semata. Ini telah menjadi kebutuhan mendasar di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
Sakinah Fitrianti B juga menegaskan bahwa ancaman kejahatan digital semakin kompleks, sehingga masyarakat dituntut lebih waspada. Kesadaran individu dalam menjaga data dan identitas pribadi di ruang siber menjadi krusial.
Pentingnya Literasi Digital untuk Keamanan Siber
Sakinah Fitrianti B, Ketua PWI Kabupaten Pangkep, menegaskan bahwa literasi digital merupakan fondasi utama untuk menghadapi berbagai risiko di dunia maya. Keamanan siber kini menjadi pilar penting dalam ekosistem digital yang terus berkembang pesat. Tanpa pemahaman yang memadai, masyarakat rentan terhadap berbagai serangan digital.
Menurutnya, keamanan informasi digital adalah kunci untuk membangun kepercayaan publik terhadap teknologi. Sistem keamanan yang kuat akan mencegah gangguan dan potensi keruntuhan ekosistem digital. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi sangat mendesak.
Ia juga menekankan bahwa keamanan digital tidak hanya terbatas pada perangkat keras dan lunak. Aspek terpenting adalah kesadaran individu dalam melindungi kerahasiaan informasi pribadi. Ini mencakup pemahaman tentang cara kerja ancaman siber dan langkah-langkah pencegahannya.
Menghadapi Ancaman Digital dan Peran Teknologi AI
Ancaman kejahatan digital saat ini semakin canggih dan beragam, menuntut kewaspadaan lebih dari setiap individu. Serangan siber tidak lagi hanya menyasar kelompok tertentu, melainkan dapat menyerang siapa saja yang terhubung dengan internet. Hal ini menjadikan literasi digital sebagai pertahanan pertama.
Perkembangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) turut memunculkan bentuk ancaman baru yang lebih kompleks. AI dapat digunakan untuk menciptakan serangan phishing yang lebih meyakinkan atau malware yang lebih sulit dideteksi. Oleh karena itu, pemahaman tentang risiko AI menjadi bagian penting dari literasi digital.
Masyarakat perlu memperkuat kemampuan literasi digital mereka guna menghadapi risiko seperti phishing, malware, dan pencurian data. Dengan pemahaman yang baik, individu dapat mengidentifikasi dan menghindari potensi bahaya di dunia maya. Pelatihan dan edukasi berkelanjutan sangat diperlukan untuk meningkatkan kewaspadaan ini.
Kesadaran Individu dan Pelatihan Manajemen Risiko
Sakinah Fitrianti B menjelaskan bahwa keamanan digital mencakup lebih dari sekadar teknologi. Ini juga melibatkan manajemen risiko yang efektif, pelatihan berkelanjutan, dan kesadaran setiap individu. Setiap pengguna internet memiliki peran aktif dalam menjaga data dan informasi mereka.
Pelatihan Manajemen Reputasi Digital yang diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulsel adalah salah satu upaya konkret. Acara ini diikuti oleh peserta dari berbagai kabupaten/kota se-Sulawesi Selatan. Perwakilan pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah juga turut serta dalam kegiatan penting ini.
Inisiatif semacam ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya menjaga reputasi dan keamanan digital. Dengan demikian, ekosistem digital dapat tumbuh lebih aman dan terpercaya bagi semua penggunanya. Kesadaran kolektif akan memperkuat benteng keamanan siber nasional.
Sumber: AntaraNews