Kubu PB XIV Hangabehi Upayakan Kirab 1 Suro Berlangsung Lancar di Tengah Dualisme
Dualisme penyelenggaraan ini sebelumnya juga disorot kubu PB XIV Purboyo.
Kubu Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi menanggapi santai masih adanya dualisme penyelenggaraan Kirab Pusaka Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.
Seperti diketahui, dua kubu PB XIV Purboyo dan PB XIV Hangabehi, dijadwalkan menggelar kirab pusaka pada hari yang sama, Selasa 16 Juni 2026 malam. Kedua kubu pun telah melakukan berbagai persiapan.
Ketua Eksekutif Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, KPH Eddy Wirabhumi, yang menjadi penyokong utama PB XIV Hangabehi mengatakan, pihaknya terus berupaya agar kegiatan sakral itu tetap berlangsung dengan baik.
"Kita terus berupaya mencari solusi agar acara itu bisa dilangsungkan secara kehati-hatian, secara baik. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang saat ini ada pihak lain juga yang ingin menyelenggarakan, yang notabene ya mau tidak mau itu juga bagian dari keluarga besar kita juga," ujar Wirabhumi saat ditemui wartawan di Keraton Surakarta, Rabu (10/6).
Wirabhumi menyebut, pihaknya akan melakukan musyawarah dengan aparat keamanan, Pemerintah Kota Surakarta, dan pemerintah pusat melalui Kementerian Kebudayaan. Hal ini karena Kirab 1 Suro saat ini sedang dalam proses untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Keraton Surakarta.
"Nah, mudah-mudahan ada titik temu sehingga itu bisa berlangsung. Walaupun dalam suasana tidak biasa, tapi semaksimal mungkin mudah-mudahan bisa diselenggarakan secara baik. Hari ini sedang terus dilakukan upaya untuk mencari solusi," ungkapnya.
"Mohon doanya mudah-mudahan dalam waktu dekat nanti ada rapat bersama, dengan pemerintah, dengan pihak keamanan, agar acara ini bisa berlangsung secara baik," imbuhnya.
Terkait pendataan pusaka milik keraton, Wirabhumi menjelaskan bahwa yang didata tidak hanya pusaka, tetapi seluruh aset keraton lainnya. Mulai dari gamelan, wayang, hingga barang-barang yang ada di museum.
"Memang sudah harus menyentuh ke sana. Tapi sekali lagi ini juga masih ada perbedaan pendapat di keluarga. Kami terus mencoba untuk melakukan komunikasi. Yang saya tahu pemerintah pusat sedang terus melakukan upaya dialog walaupun upaya itu ya maju mundur," ucapnya.
Ia menambahkan, beberapa perwakilan keluarga besar keraton sudah mulai hadir dalam pertemuan, meski belum bisa memberikan keputusan final.
"Tetapi kalau tidak terus dicoba tentu tidak akan pernah sampai di titik yang kita harapkan. Nanti maksimal seperti apa akan kami beritahukan," katanya lagi.
Imbauan dari Kubu PB XIV Purboyo
Dualisme penyelenggaraan ini sebelumnya juga disorot kubu PB XIV Purboyo. Pengageng Sasana Wilapa dari PB XIV Purboyo, GKR Panembahan Timoer Rumbay Kusuma Dewayani. Putri PB XIII itu mengimbau agar tidak ada pihak yang membuat acara tandingan.
"Kami berharap tidak ada pihak-pihak tertentu yang menyelenggarakan kegiatan tandingan atau menciptakan dualisme acara yang berpotensi menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat serta mengurangi nilai adat leluhur, budaya, dan kesakralan Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro," ujar Rumbay kepada awak media di Kori Talang Paten, Keraton Surakarta, Selasa (9/6).
Menurut Rumbay, masyarakat sudah mengetahui pihak-pihak yang sejak era Susuhunan Paku Buwana XIII konsisten menyelenggarakan acara tandingan.
"Tindakan tersebut tidak hanya menimbulkan kebingungan di tengah masyarakat, tetapi juga berpotensi merongrong marwah, kewibawaan, legitimasi adat, serta keluhuran budaya Keraton Surakarta Hadiningrat yang telah diwariskan secara turun-temurun," jelasnya.
Ia meminta praktik dualisme tidak kembali terjadi dalam Hajad Dalem Kirab Pusaka Dalem Malam 1 Suro yang diselenggarakan atas perintah Sri Susuhunan Paku Buwono XIV Purboyo.
"Demi menjaga kesakralan tradisi, ketertiban pelaksanaan adat, dan kehormatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat," tegasnya.
Kirab Pusaka Malam 1 Suro merupakan tradisi adat dan budaya yang telah berlangsung turun-temurun di lingkungan Keraton Surakarta.