Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Tak Sehat, Peringkat Ke-10 Terburuk Dunia
Meskipun diguyur hujan selama beberapa pekan, **Kualitas Udara Jakarta** pada Rabu pagi tercatat tidak sehat, bahkan menempati posisi ke-10 kota dengan polusi terburuk di dunia, memicu kekhawatiran dan imbauan kesehatan bagi warga Ibu Kota.
Kualitas udara di Jakarta pada Rabu pagi ini dilaporkan masuk kategori tidak sehat berdasarkan pantauan laman IQAir. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan, mengingat Ibu Kota telah diguyur hujan selama beberapa pekan terakhir. Jakarta bahkan menempati peringkat ke-10 kota dengan kualitas udara dan polusi terburuk di dunia.
Indeks Kualitas Udara (Air Quality Index/AQI) yang terpantau pada pukul 05.32 WIB menunjukkan angka 127. Angka ini disertai dengan konsentrasi partikel halus PM2.5 yang mencapai 40 mikrogram per meter kubik. Kondisi ini dapat merugikan kesehatan manusia, terutama bagi kelompok yang sensitif, serta berpotensi menimbulkan kerusakan pada tumbuhan atau mengurangi nilai estetika lingkungan.
Melihat kondisi ini, masyarakat diimbau untuk tetap menjaga kesehatan diri. Penggunaan masker sangat disarankan jika harus beraktivitas di luar rumah. Langkah antisipatif ini penting untuk meminimalisir dampak buruk polusi udara terhadap pernapasan dan kesehatan secara keseluruhan.
Indeks Kualitas Udara dan Dampaknya bagi Kesehatan
Kategori kualitas udara yang baik didefinisikan sebagai tingkat yang tidak memberikan efek negatif bagi kesehatan manusia atau hewan. Kondisi ini juga tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan, ataupun nilai estetika, dengan rentang PM2.5 sebesar 0-50.
Sementara itu, kategori sedang menunjukkan kualitas udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan manusia atau hewan. Namun, kategori ini dapat berdampak pada tumbuhan yang sensitif dan nilai estetika, dengan rentang PM2.5 sebesar 51-100.
Kualitas udara yang tidak sehat, seperti yang dialami Jakarta pagi ini, berada dalam rentang PM2.5 sebesar 101-199. Kondisi ini dapat merugikan manusia atau kelompok hewan yang sensitif. Selanjutnya, kategori sangat tidak sehat memiliki rentang PM2.5 sebesar 200-299, yang dapat merugikan kesehatan pada sejumlah segmen populasi yang terpapar. Terakhir, kategori berbahaya (300-500) secara umum dapat merugikan kesehatan yang serius pada populasi secara keseluruhan.
Perbandingan Kualitas Udara Global
Kualitas Udara Jakarta yang masuk kategori tidak sehat menempatkannya di posisi ke-10 dalam daftar kota dengan polusi terburuk di dunia. Beberapa kota lain yang menduduki peringkat teratas menunjukkan betapa seriusnya masalah polusi udara secara global.
Kota dengan kualitas udara terburuk urutan pertama adalah Delhi, India, dengan AQI mencapai 340. Disusul oleh Krasnoyarsk, Rusia, di urutan kedua dengan angka 231, dan Lahore, Pakistan, di urutan ketiga dengan AQI 191.
Peringkat keempat dan kelima ditempati oleh kota-kota di China, yaitu Hangzhou dengan AQI 165 dan Chengdu dengan AQI 163. Posisi Jakarta di antara kota-kota ini menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi Ibu Kota dalam menjaga kualitas udaranya.
Upaya Jakarta Memantau dan Mengatasi Polusi Udara
Jakarta telah menjadi kota dengan sistem pemantauan kualitas udara terintegrasi dan terluas di Indonesia. Jaringan ini melibatkan 111 Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) yang aktif tersebar di seluruh wilayah Ibu Kota.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa sistem pemantauan tersebut merupakan kombinasi antara stasiun referensi dan sensor berbiaya rendah (Low-Cost Sensor atau LCS) yang dipasang di berbagai titik strategis. “Melalui sistem yang terintegrasi ini, kami dapat memantau kondisi udara secara 'real-time' dan melakukan langkah mitigasi lebih cepat untuk melindungi kesehatan warga,” ujar Asep di Jakarta, pada Jumat (17/10/2025).
Jaringan pemantauan ini merupakan hasil kolaborasi yang kuat antara DLH DKI Jakarta, Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), organisasi masyarakat sipil, perguruan tinggi, serta mitra dari sektor swasta. Selain itu, Jakarta juga tengah menyiapkan "Early Warning System" (EWS) untuk polusi udara sebagai langkah antisipatif dan responsif terhadap potensi peningkatan pencemaran, menunjukkan komitmen serius dalam menghadapi isu kualitas udara.
Sumber: AntaraNews