Kronologi Senior Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang Aniaya Junior Versi Direktur
Segala aktifitas mahasiswa yang berjumlah 519 orang tersebut dikontrol oleh pembina, mulai dari aktifitas hingga kondisi asrama bernama Indika.
Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang Muhamad Ali Ulat mengakui adanya kasus pemukulan taruna senior terhadap juniornya di asrama. Menurutnya, kehidupan sehari-hari mahasiswa seluruhnya diatur mulai dari apel pagi hingga tidur malam.
Segala aktifitas mahasiswa yang berjumlah 519 orang tersebut dikontrol oleh pembina, mulai dari aktifitas hingga kondisi asrama bernama Indika. Sehingga pada tanggal 11 April, pembina melakukan kontrol asrama dan didapati kamar mandi dalam keadaan kotor.
"Kan di asrama Indika itu ada senior yang kami tempatkan sebagai penanggung jawab asrama dan bisa mengakomodir ade-ade. Disampaikan senior bahwa kamar mandi itu harus dibersihkan, dan dilakukan pembersihan hari itu juga dan selesai," ungkap Muhammad Ali Ulat saat ditemui, Jumat (24/4).
Sesaat sebelum tidur dilakukan apel malam dan kembali disampaikan kepada junior bahwa asrama itu harus bersih dan rapi. Saat mereka kembali ke asrama, senior sebagai penanggungjawab dan petugas piket mengumpulkan sebagian junior untuk pengecekan kembali kondisi kamar mandi yang kotor itu.
"Saat sedang dilakukan pengecekan, mereka mungkin meminta junior untuk tiarap dengan posisi seperti push up sambil diceramahi, saat itu mungkin ada satu atau dua yang tidak melakukan posisi push up. Akhirnya mungkin lost control lah, walaupun kami dilarang Pak Menteri untuk main pukul," ungkap Muhammad Ali Ulat.
Masih menurutnya, dengan jumlah pembina hanya sembilan orang untuk mengontrol 519 mahasiswa dengan karakternya masing-masing, maka ada kejadian yang diluar dari pengawasan dia sebagai direktur.
"Mungkin malam itu taruna seniornya marah lalu dipukul satu persatu dengan posisi taruna junior masih push up, tapi pukulnya hanya satu kali. Setelah pukul ada tindakan pembersihan lagi, dan setelah itu disuruh untuk tidur," tambah Muhammad Ali Ulat.
Pada tanggal 14 April semua taruna yang beragama Protestan diminta untuk mengikuti ibadah Paskah di luar lingkungan kampus. Saat itu para taruna dikumpulkan di lapangan namun saat pengecekan terdapat 10 taruna yang belum ada dalam barisan.
Pembina kemudian melaporkan ke piket untuk melakukan pengecekan di dalam asrama. "Saat di depan asrama pembina sudah teriak untuk keluar tapi karena tidak dijawab sehingga langsung masuk ke dalam kamar masing-masing," ungkap Muhammad Ali Ulat.
Saat ditemukan, para taruna junior langsung dipukul satu persatu sambil disuruh untuk keluar. Setelah itu semuanya pergi ibadah di gereja. "Kami sampaikan bahwa tindakan pemukulan senior terhadap junior tidak kami anjurkan, itu mereka lakukan sendiri," tegas Muhammad Ali Ulat.
Dua Pelaku Pemukulan Telah Dilaporkan ke Jakarta
Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Kupang Muhamad Ali Ulat mengaku, dia telah melaporkan kejadian itu dan dua orang terduga pelaku ke pimpinannya ke Jakarta untuk ditindaklanjuti.
"Kita nanti lakukan mediasi bersama keluarga korban dan keluarga pelaku, kasian ini kan taruna kita semua. Kami mohon maaf kami sudah melakukan pengawasan semaksimal mungkin tapi ada yang lepas dari pantauan kami. Ini kesalahan kami," tuturnya.
Sebelumnya, aksi premanisme dan kekerasan senior terhadap yunior di kampus kembali terjadi. Kali ini seorang mahasiswa Politeknik Perikanan dan Kelautan Bolok, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) mengaku dianiaya seniornya.
Korban Junel Sandro Sinlae (19) mengaku beberapa kali dianiaya seniornya berinisial JW (20) dan PL (21) di Asrama Politeknik Kelautan dan Perikanan yang terletak di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat.
Para pelaku merupakan senior korban yang juga bersama-sama menghuni asrama Politeknik Kelautan dan Perikanan Bolok.
Kasus penganiayaan ini telah dilaporkan korban ke Polsek Kupang Barat dan dengan nomor laporan polisi LP/B/11/IV/2025/SPKT/Polsek Kupang Barat, tanggal 23 April 2025.