Korban Banjir Situbondo Mulai Keluhkan Demam dan Gatal-gatal, Dinkes Siagakan Posko Kesehatan
Pasca-banjir bandang, sejumlah Korban Banjir Situbondo di beberapa kecamatan mulai merasakan gangguan kesehatan seperti demam dan gatal-gatal, mendorong Dinkes Situbondo untuk sigap mendirikan posko kesehatan darurat.
Warga terdampak banjir bandang di Situbondo, Jawa Timur, kini menghadapi tantangan kesehatan baru setelah bencana alam. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Situbondo, Dwi Herman Susilo, mengonfirmasi bahwa masyarakat mulai mengeluh sakit demam dan gatal-gatal. Keluhan ini muncul tak lama setelah posko kesehatan darurat didirikan di lokasi terdampak paling parah.
Posko kesehatan tersebut mulai beroperasi pada Jumat (23/1) di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, salah satu daerah yang paling parah terdampak. Selain demam dan gatal-gatal, beberapa warga juga datang dengan luka-luka akibat terkena kaca dan paku saat banjir menerjang rumah mereka. Kondisi ini menunjukkan kebutuhan mendesak akan bantuan medis di lapangan.
Banjir bandang yang melanda wilayah Situbondo pada Rabu (21/1) malam, khususnya akibat luapan Sungai Lubawang, telah menyebabkan kerusakan signifikan pada ratusan rumah. Respons cepat dari Dinkes Situbondo dengan mendirikan posko kesehatan darurat bertujuan untuk memastikan layanan medis cepat tersedia bagi seluruh Korban Banjir Situbondo.
Penanganan Kesehatan Darurat Pasca-Banjir
Dinas Kesehatan Kabupaten Situbondo segera mengambil langkah proaktif dengan mendirikan posko kesehatan darurat. Posko ini berlokasi di Desa Kalianget, Kecamatan Banyuglugur, yang merupakan salah satu titik terparah terdampak banjir bandang. Layanan medis cepat menjadi prioritas utama untuk mengatasi keluhan kesehatan yang mulai bermunculan di kalangan warga.
Keluhan utama yang dilaporkan oleh Korban Banjir Situbondo meliputi demam dan gatal-gatal, yang seringkali menjadi masalah kesehatan umum setelah banjir. Selain itu, ada juga laporan warga yang mengalami luka-luka akibat serpihan benda tajam seperti kaca dan paku saat air bah menghantam permukiman mereka. Kondisi ini memerlukan penanganan medis segera untuk mencegah infeksi.
Tenaga kesehatan dari puskesmas terdekat, didukung oleh RSUD Besuki dan Dinkes, telah dikerahkan penuh untuk melayani masyarakat di posko tersebut. Posko kesehatan darurat ini direncanakan beroperasi selama lima hari, mulai Jumat (23/1) hingga Selasa (27/1). Namun, Dwi Herman Susilo menyatakan bahwa durasi layanan dapat diperpanjang jika kondisi di lapangan masih memerlukan bantuan medis.
Dampak Luas Banjir dan Sebaran Wilayah Terdampak
Banjir luapan Sungai Lubawang pada Rabu (21/1) malam menyebabkan dampak yang meluas di beberapa kecamatan di Situbondo. Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, menjadi salah satu area yang paling parah, dengan 440 rumah warga terdampak secara signifikan. Kerusakan infrastruktur dan permukiman menjadi perhatian utama.
Selain Desa Lubawang, Desa Kalianget di kecamatan yang sama juga mengalami dampak parah, dengan 246 unit rumah terdampak banjir bandang. Luapan air juga merambah ke Kecamatan Besuki, di mana 5.425 rumah terdampak tersebar di Desa Pesisir (2.882 rumah), Desa Kalimas (193 rumah), Desa Demung (44 rumah), dan Desa Besuki (2.306 rumah).
Hujan intensitas tinggi turut menyebabkan meluapnya sejumlah aliran sungai lain, memperparah kondisi di beberapa desa. Di antaranya, 113 rumah warga terdampak di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan, serta 169 rumah di Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan. Selanjutnya, 154 rumah di Desa/Kecamatan Kendit juga dilaporkan terdampak banjir.
Sumber: AntaraNews