Kiat Dokter Atasi Anak "Picky Eater": Kenalkan Makanan Lewat Sensory Play dan Food Hierarchy
Dokter spesialis anak dr. Ian Suryadi Suteja membagikan kiat jitu mengatasi anak "picky eater" dengan metode sensory play dan sensory food hierarchy, serta pentingnya deteksi alergi susu sapi.
Dokter spesialis anak, dr. Ian Suryadi Suteja, M.Med Sc, Sp.A, membagikan panduan penting bagi orang tua dalam mengatasi kebiasaan "picky eater" pada anak. Diskusi kesehatan ini berlangsung di Jakarta pada hari Jumat, 6 Maret 2026. Beliau menekankan pendekatan bertahap untuk mengenalkan makanan baru kepada si kecil.
Dalam penjelasannya, dr. Ian menyarankan dua metode utama yang dapat diterapkan. Metode tersebut meliputi sensory play atau permainan melatih sensorik dengan berbagai tekstur makanan. Selain itu, ada juga metode sensory food hierarchy yang dilakukan secara bertahap.
Kedua pendekatan ini bertujuan untuk membantu anak terbiasa dengan keberadaan makanan yang sebelumnya tidak disukai. Dengan demikian, anak dapat secara perlahan menerima dan mencoba berbagai jenis makanan. Ini adalah langkah proaktif untuk mengatasi anak "picky eater".
Mengenal Metode Sensory Food Hierarchy
Untuk mengatasi anak "picky eater", dr. Ian Suryadi Suteja menyarankan orang tua untuk memulai dengan sensory play. Aktivitas ini melibatkan anak dalam interaksi langsung dengan makanan melalui sentuhan dan pengamatan. Cari beragam ide sensory play yang bisa dilakukan setiap hari.
Selanjutnya, orang tua dapat mempelajari dan menerapkan metode sensory food hierarchy. Metode ini dirancang untuk membantu anak mengenal makanan secara bertahap melalui berbagai interaksi. Tujuannya adalah membangun kenyamanan dan rasa ingin tahu anak terhadap makanan baru.
Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan langkah awal sensory food hierarchy. Orang tua cukup meletakkan makanan yang tidak disukai anak di piring mereka setiap hari. Penting untuk tidak memaksa anak memakannya, biarkan mereka terbiasa melihat makanan tersebut.
"Kalau dia picky eater anaknya enggak mau makan daging sama sekali, tiap hari Anda harus kasih daging di dalam piring, suruh anak lihat terus, perkara dia enggak mau makan nggak apa-apa yang penting tiap hari dibiasain ada di situ. Lama-lama anak terbiasa melihat, pasti penasaran," ujar dr. Ian. Anak akan melalui tahap melihat, merasa penasaran, menyentuh, mencium, hingga akhirnya mencoba makanan tersebut.
Pentingnya Deteksi Alergi Susu Sapi pada Anak "Picky Eater"
Selain strategi pengenalan makanan, dr. Ian juga menyoroti pentingnya memastikan tidak adanya alergi susu sapi pada anak. Alergi ini kerap ditemukan pada anak yang mengalami kebiasaan "picky eater". Verifikasi alergi sangat krusial sebelum mengambil kesimpulan.
Beliau sering menemukan kasus pasien yang diklaim alergi susu sapi. Namun, setelah pemeriksaan lebih lanjut, ternyata anak tersebut tidak memiliki alergi. "Kalau semua susu tinggi kalori pasti yang namanya susu pasti mengandung susu sapi. Tapi ingat dulu nomor satu, benar-benar pastikan itu alergi susu sapi atau enggak," imbuh dr. Ian.
Untuk mengetahui apakah anak alergi susu sapi, orang tua dapat mencoba memberikannya dan mengamati reaksi tubuh. Perhatikan munculnya gejala seperti ruam, muntah, batuk, atau pilek setelah konsumsi. Jika gejala tersebut muncul, hentikan pemberian susu sapi sementara waktu.
"Kasih susu sapi kalau dia misalnya punya gejala terus stop susu sapinya selama 2-4 minggu gejalanya hilang secara konstan hilang. Terus Anda harus coba pakai susu sapi lagi, direchallenge lagi ternyata muncul gejala dalam 1-3 hari, maka memang betul anak itu alergi susu sapi," jelas dr. Ian. Proses ini membantu orang tua dan dokter memastikan diagnosis alergi dengan akurat.
Sumber: AntaraNews