Ketua PBNU Dukung Soeharto dan Gus Dur Ditetapkan Sebagai Pahlawan Nasional
Keduanya dinilai punya peran besar di saat bangsa dalam keadaan sulit.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Fahrur Rozi (Gus Fahrur) mendukung usulan Kementerian Sosial Republik Indonesia kepada Dewan Gelar atas menetapkan Presiden ke-2 RI, H.M. Soeharto dan Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Pahlawan Nasional pada tahun ini.
Menurut Gus Fahrur, bangsa Indonesia perlu belajar dari masa lalu baik dari kebaikan maupun kekurangannya untuk membangun masa depan yang lebih bijak dan berkeadaban.
"Dalam tradisi keilmuan Islam, ada kaidah penting: Al-muhafazhah ‘ala al-qadim ash-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah, menjaga yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik," kata Gus Fahrur, Rabu (5/11).
Keduanya Punya Kontribusi Besar
Gus Fahrur menilai Soeharto maupun Gus Dur memiliki kontribusi besar terhadap bangsa dalam dua fase sejarah yang berbeda. Menurutnya, Soeharto berjasa besar dalam stabilisasi nasional dan pembangunan ekonomi.
"Di masa beliau, Indonesia dikenal dunia sebagai salah satu macan ekonomi baru Asia, dengan program pembangunan yang terencana dan stabilitas ekonomi serta keamanan yang tinggi," katanya.
Selain itu, lanjut Gus Fahrur, Soeharto juga memiliki jasa besar di bidang sosial-keagamaan. Menurutnya, Soeharto membangun ratusan masjid di seluruh Indonesia. Tercatat sekitar 999 masjid dibangun atas prakarsa Soeharto.
Keduanya Punya Jasa saat Bangsa Sulit
Sementara itu, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menurutnya berjasa besar dalam memperjuangkan demokrasi, pluralisme, dan rekonsiliasi bangsa pasca reformasi.
“Keduanya punya jasa luar biasa dalam membangun bangsa di masa-masa sulit. Menetapkan mereka sebagai Pahlawan Nasional bukan berarti meniadakan kritik atas kekurangan yang pernah ada, tetapi bentuk penghargaan atas jasa besar yang telah mereka berikan,” tegas Gus Fahrur.
Dia juga mengapresiasi langkah Kementerian Sosial di bawah Menteri Saifullah Yusuf (Gus Ipul) yang memproses sejumlah tokoh yang sudah diserahkan ke Dewan Gelar untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun ini.
Berharap Jadi Momen Rekonsiliasi Sejarah
Gus Fahrur berharap, penetapan pahlawan nasional dapat menjadi momentum rekonsiliasi sejarah dan penguatan nilai kebangsaan.
“Semoga dengan penetapan ini, kita semakin menghargai peran semua pihak dalam perjalanan bangsa baik sipil, militer, maupun ulama. Semua punya andil dalam menjaga Indonesia,” kata dia.