Jembatan Semampir Kediri Ditutup Total hingga 2025: Dibangun Sejak 1992, Ini Rekayasa Arus Lalu Lintasnya!
Pemerintah Kota Kediri melakukan pengalihan arus lalu lintas besar-besaran menyusul dimulainya **rehabilitasi Jembatan Semampir** hingga November 2025. Bagaimana rute alternatifnya?
Pemerintah Kota Kediri, Jawa Timur, secara resmi mengumumkan penutupan total Jembatan Semampir mulai 15 September 2024. Penutupan ini dilakukan dalam rangka rehabilitasi menyeluruh jembatan yang telah berdiri sejak tahun 1992 tersebut. Proses perbaikan vital ini diperkirakan akan berlangsung hingga 12 November 2025 mendatang.
Kepala Dinas Perhubungan Kota Kediri, Didik Catur, menjelaskan bahwa langkah ini diambil berdasarkan hasil inspeksi teknis. Balai Besar Pemeliharaan Jalan Nasional (BBPJN) menemukan adanya lendutan dan kerusakan konstruksi pada Jembatan Semampir. Kondisi tersebut dinilai membahayakan dan memerlukan tindakan perbaikan segera demi keselamatan pengguna jalan.
Untuk mengantisipasi dampak signifikan terhadap arus lalu lintas, Pemkot Kediri telah menyiapkan rekayasa lalu lintas. Koordinasi erat dilakukan bersama Satlantas Polres Kediri Kota dan Satker UPT Terminal. Pengalihan arus ini diharapkan dapat meminimalkan kemacetan di pusat kota selama periode rehabilitasi berlangsung.
Urgensi Rehabilitasi Jembatan Semampir dan Dampak Penutupan
Keputusan untuk melakukan rehabilitasi Jembatan Semampir bukanlah tanpa alasan kuat. Inspeksi teknis yang dilakukan oleh Balai Besar Pemeliharaan Jalan Nasional (BBPJN) menunjukkan kondisi jembatan yang mengkhawatirkan. Laporan tersebut menyebutkan adanya lendutan dan kerusakan konstruksi yang serius pada Jembatan Semampir.
Jembatan yang dibangun pada tahun 1992 ini merupakan salah satu akses vital di Kota Kediri. Kerusakan tersebut berpotensi mengancam keselamatan pengguna jalan serta mengganggu kelancaran mobilitas. Oleh karena itu, rehabilitasi total menjadi langkah yang tidak dapat ditunda lagi demi menjaga infrastruktur yang aman dan berkelanjutan.
Penutupan total Jembatan Semampir mulai 15 September 2024 hingga 12 November 2025 akan berdampak signifikan. Terutama pada arus lalu lintas di wilayah tengah Kota Kediri. Dinas Perhubungan Kota Kediri memprediksi adanya potensi kepadatan di beberapa titik. Oleh karena itu, berbagai persiapan telah dilakukan untuk memitigasi dampak tersebut.
Detail Rekayasa Arus Lalu Lintas Selama Rehabilitasi
Untuk meminimalkan dampak penutupan Jembatan Semampir, Dinas Perhubungan Kota Kediri telah menyiapkan skema rekayasa lalu lintas. Skema ini berlaku untuk berbagai jenis kendaraan yang melintas. Kendaraan bus dan angkutan barang dari arah Surabaya menuju Tulungagung akan dialihkan melalui rute khusus.
Rute alternatif tersebut dimulai dari Jalan Mayor Bismo, kemudian berlanjut ke Jalan Diponegoro. Selanjutnya, kendaraan akan diarahkan menuju Kodim 0809, Kelurahan Burengan, Jalan Kapten Tendean, dan Sersan Suharmaji. Akhirnya, mereka akan mencapai Pertigaan Jetis sebelum melanjutkan perjalanan ke Tulungagung.
Sementara itu, bus dari Tulungagung yang hendak menuju Surabaya juga memiliki rute pengalihan. Rute yang disarankan adalah Jalan Sersan Suharmaji melewati Kelurahan Ngronggo, lalu ke Jalan Tendean. Setelah itu, bus akan masuk ke Terminal Tamanan, kemudian menuju alun-alun, Jalan PB Sudirman, dan Jalan Yos Sudarso.
Didik Catur juga mengimbau kendaraan berat di atas 10 ton untuk tidak melintasi Kota Kediri. "Untuk kendaraan berat di atas 10 ton kami imbau untuk tidak melintasi Kota Kediri, melainkan mengambil jalur alternatif melalui Papar menuju Tulungagung atau Blitar," ujarnya. Imbauan ini bertujuan menghindari kepadatan di Jalan PB Sudirman dan Jalan Yos Sudarso.
Sosialisasi dan Antisipasi Kepadatan Lalu Lintas
Pemerintah Kota Kediri telah melakukan langkah antisipatif dan sosialisasi secara masif terkait penutupan Jembatan Semampir. Informasi mengenai pengalihan arus disebarkan melalui media sosial, banner, dan spanduk. Pemasangan media informasi ini tidak hanya di wilayah Kota Kediri, tetapi juga di daerah pinggiran dan luar kota.
Dinas Perhubungan juga memanfaatkan sistem ATCS (Area Traffic Control System) untuk pemberitahuan. "Kami juga sudah mengimbau lewat ATCS untuk pemberitahuan bahwa ada penutupan ini sehingga bisa mengalihkan arus ke tempat-tempat yang lain," kata Didik. Pemantauan ATCS dilakukan terus-menerus dari pagi hingga malam untuk mengetahui titik kepadatan lalu lintas.
Pemantauan tersebut memungkinkan penyesuaian durasi lampu lalu lintas secara dinamis. Pihak Dishub Kota Kediri bekerja sama dengan Polres Kediri Kota dan Satker UPT Terminal juga siap menambah personel di lapangan. Penambahan personel ini akan difokuskan pada jam-jam padat dan titik-titik rawan kemacetan.
Didik Catur menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang mungkin timbul. "Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan selama proses rehabilitasi ini," ucapnya. Ia berharap masyarakat dapat memahami dan mendukung upaya ini demi terciptanya infrastruktur yang lebih aman dan berkelanjutan di Kota Kediri.
Sumber: AntaraNews